• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, April 28, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Berperang dengan Tipat Bantal di Kapal

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
8 October 2009
in Budaya, Kabar Baru, Travel
0
0

DSCN7079

Teks dan Foto Luh De Suriyani

Lebih dari 1000 warga tumpah ruah di Jalan Raya Kapal, Mengwi, Kabupaten Badung, Senin sore. Usai persembahyangan di Pura Desa setempat, warga mengakhiri prosesi upacara agama Purnama Kapat dengan tradisi Perang Tipat Bantal (masiat tipat).

Dua kelompok warga berhadap-hadapan di ruas jalan arah Denpasar-Gilimanuk yang ditutup sementara. Masing-masing orang mebawa tipat dan bantal.

Tipat dan bantal adalah sebutan bagi jenis makanan dari beras yang dibungkus janur (tipat/ketupat), dan ketan (kue bantal). Dua penganan ini simbol dari penghormatan manusia pada bahan pangan yang menjadi senjata manusia untuk hidup.

I Nyoman Kutek dan I Made Sabar, dua pria bertelanjang dada ini telah siap berhadap-hadapan. Keduanya digadang-gadang masing-masing kubu untuk tampil di barisan depan. Setelah aba-aba dimulai kedua kelompok pria ini mulai saling lempar tipat dan bantal yang telah dibagikan.

Ribuan tipat bantal beterbangan dan mengenai tubuh lawan. Juga mengenai warga dan pengunjung yang menonton dari pinggir arena. Tipat dan bantal yang telah jatuh diambil lagi sebagai amunisi baru, demikian seterusnya sampai sebagian besar hancur.

Beberapa kali melalui speaker dari Pura terdengar peringatan panitia agar tipat dan bantal dilempar lebih tinggi, sehingga bisa berpadu di udara. Selain itu agar tak mengenai langsung lawan.

Namun peringatan panitia kalah oleh semangat peserta yang menembakkan tipat dan bantal langsung ke tubuh lawannya.

Jika tipat dan bantal berhasil berpadu di udara, lalu jatuh ke tanah, tipat dan bantal ini mitosnya bisa memberikan keturunan bagi suami istri.

“Esensi ritual ini adalah harmonisasi purusa dan pradana yang disimbolkan oleh tipat yang feminin dan bantal simbol maskulin. Jadi biar tidak terkesan kekerasan” ujar AA Gede Dharmayasa, Kepala Desa Adat (Bendesa) Kapal.

“Tradisi perang ini bermakna bahwa pangan yang kita miliki adalah senjata utama untuk mempertahankan diri dalam hidup dan berkehidupan,” tambah Dharmayasa.

Tipat dan bantal dibuat oleh masing-masing keluarga di Kapal yang berjumlah sekitar 2211 KK dengan 18 banjar (komunitas adat terkecil). Tiap KK menghaturkan enam buah tipat dan enam buah bantal. Usai bersembahyang sesajen itu dibagi dua untuk dimakan dan sebagian dipakai amunisi Perang Tipat Bantal.

Sayangnya, penghormatan akan bahan pangan ini dikomodifikasi menjadi pertujukkan ala perang, seperti tradisi lainnya di Indonesia. Diarahkan lebih ke kompetisi, walau dengan suasana gembira atau suka cita.

Tradisi ini berkaitan erat dengan kehidupan agraris masyarakatnya, sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas kehidupan dan berlimpahnya hasil panen di desa ini. Dilaksanakan setiap Bulan Keempat dalam penanggalan Bali (sasih kapat) sekitar bulan September – Oktober.

Dari tradisi ini pula dapat dirunut sebuah kepercayaan masyarakat desa Kapal mengenai larangan menjual tipat yang dibungkus janur. Yang bisa dijual hanya adonan beras dalam bentuk lontong yang dibungkus daun atau plastik.

Secara umum, sejarah tradisi ini bisa diteukan dalam lontar Tabuh Rah Pengangon milik salah seorang warga desa Kapal, Ketut Sudarsana.

Disebutkan suatu saat ketika sekitar 666 tahun lalu, desa Kapal mengalami paceklik panen yang mengakibatkan kekacauan dalam kehidupan masyarakatnya. Salah satu legenda setepat, Ki Kebo Iwa mendapat sabda untuk melaksanakan Aci Rah Pengangon atau Aci Rare Angon. Sarananya adalah menghaturkan tipat – bantal sebagai simbolisasi Purusha dan Pradana sebagai sumber kehidupan.

Ni Made Murni, perempuan 60 tahun warga Kapal mengatakan tradisi ini sudah turun temurun dilaksanakan pertama kali oleh sekaa subak atau kelompok petani. “Petani sudah makin hilang, jadi upacara ini dilakukan oleh warga desa di jalanan. Jadinya makin ramai,” ujarnya.

Usai perang, ribuan tipat dan bantal dikumpulkan oleh sekaa subak untuk ditaruh di sawah. Sisa-sisa makanan ini tak diperkenankan dipakai pakan ternak.

“Walau sawah sudah makin sedikit, kami berharap tak makin sulit mendapat beras,” ujar Murni dalam Bahasa Bali, yang diikuti derai tawa rekan-rekannya. [b]

Tags: kapalmengwiperang tipat bantalritual bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Upaya Penyelamatan Jenis Tanaman Melalui Hutan Yadnya

Upaya Penyelamatan Jenis Tanaman Melalui Hutan Yadnya

26 April 2024

Dua Tempat yang Sudah Sekarat

27 July 2010
Next Post

Ancaman Mati Terdakwa Pembunuh Wartawan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

28 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Menjinakkan Suara Kritis Kampus

28 April 2026
Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

27 April 2026
Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia