• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, December 10, 2025
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Berbeda-beda Tetap Satu Onthel Juga

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
12 February 2014
in Berita Utama, Gaya Hidup, Kabar Baru
0 0
0

onthel-pengendara

Onthel terbukti menjadi medium komunikasi lintas budaya.

Akhir pekan lalu, pada Sabtu dan Minggu, ratusan pecinta sepeda tua dari seluruh Indonesia berkumpul di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung Denpasar, yang lebih dikenal Lapangan Puputan Badung.

Selama dua hari, anggota Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti) berkumpul di Bali untuk Kongres ke-3 dan menghelat acara Denpasar Tempo Doeloe bersama Pemerintah Kota Denpasar. Mereka menyemarakkan Denpasar dengan karnaval keliling kota sekitar 5 km.

Kongres tersebut pertama kali diadakan di Bali, daerah yang tak terlalu banyak komunitas pengguna atau kolektor sepeda tua dibanding Jogjakarta, Bandung, atau Jakarta. Padahal, sepeda tua atau onthel bisa jadi aset pariwisata juga.

“Sepeda tua masih dipandang sebelah mata di Bali. Kurang terlalu dipedulikan sebagai aset dan sejarah masa lalu,” kata Agus Suryawan, humas Kongres Kosti dari Bali ini.

Menurutnya Jogjakarta bisa menjadi contoh bagaimana sepeda onthel bisa menjadi wisata alternative seperti city tour. “Di Jogja hampir semua hotel memberi tempat bagi onthel untuk disewa tamu jalan-jalan di kota atau ke desa,” tambah pemilik 7 onthel ini.

Ia menyebut ada 18 komunitas onthel di Bali. Mereka ada di semua kabupaten kecuali Karangasem. Agus mengatakan puluhan sepeda tua dengan sejarahnya masing-masing sebenarnya bisa mendukung wisata heritage yang mulai dikampanyekan kota Denpasar.

“Sementara kami lebih sering buat kegiatan sosial seperti donor darah atau penggalangan dana bencana untuk sarana berkumpul,” sebut Agus.

onthel-foto-bersamaInisiatif
Sebagai inisiatif mengenalkan wisata bersepeda tersebut, maka para peserta Kongres Kosti mengikuti karnaval sepeda tua melewati beberapa jalan di Denpasar seperti Jl Veteran, Jl Patimura, Jl WR Supratman, Jl Nusa Indah, lalu kembali ke Lapangan Puputan Badung.

Jero Mangku Sukarja, salah satu jero mangku di Pura Jagatnatha, memimpin karnaval. Dia mengajak jero mangku lain untuk ikut karena bisa menyatukan pengguna otnhel lain dari seluruh Indonesia. “Ini seperti perayaan Bhinneka Tunggal Ika,” kata Sukarja.

Dia sendiri membawa pejati di bagian depan sepeda tuanya. Di bagian belakang ada kelapa gading, bahan upacara. Selama ikut keliling dengan onthelnya, sekitar 10 km di beberapa jalan utama di Denpasar, dia mengaku terus berdoa untuk keselamatan para peserta karnaval.

Ada juga Sudarmaji dan puluhan onthelis dari Lampung. Sudarmaji mengaku sejumlah rekannya ke Bali naik sepeda menempuh waktu 10 hari. “Hanya onthelis yang bisa begini, tua ataupun muda,” serunya.

Tak hanya pameran sepeda dan jual beli spare part, Kongres Kosti juga mengenalkan sepeda tua dalam workshop sepeda tua. Workshop diisi oleh pecinta onthel Jos Rietveld.

Agenda kesenian mempertemukan kesenian lintas daerah yakni Sunda Wiwitan, Rindik, Keroncong, dan Bondres.

onthel-aksesorisPasar
Para Klithikers atau pedagang sepeda dan spare partnya ini juga menggelar barang dagangan.

Suasana guyub terlihat dalam pameran dan jual beli sepeda ini. Tak hanya onthel dan aksesorisnya, juga aneka mainan dan barang pajangan tua banyak dijual.

M. Harun, pria asal Klaten, Jawa tengah menceritakan berkeliling dari satu daerah ke daerah lain untuk menjual sepeda tua, spare part, aksesoris, dan souvenir tua. Pasar penjual barang tua ini dikenal dengan nama Klithikan. Karena itu pedagangnya disebut Klithikers.

“Klithikers dan onthelis itu ibarat klub bola dan suporternya. Saling tergantung dan mendukung,” kata Harun. Karena itu di mana ada event atau Kongres Kosti, pastilah ada Klithikers ini yang meramaikan.

Sembari berjualan mereka memburu sepeda tua di daerah-daerah termasuk Bali. “Penggemar barang tua pasti mencari kita karena ini semua tak dijual di took. Makin sulit dicari makin mahal,” sebut Harun.

Ia mencontohkan stang onthel tahun 1926 merk Gazelle dari Belanda yang dijualnya seharga Rp 1,5 juta.

Selain itu Harun memajang salah satu sepeda merk Burges produksi 1930 yang dibanderol Rp 12 juta. Ada puluhan sepeda tua lain yang sudah ikut keliling Indonesia bersama pedagangnya ini.

Harun mengaku senang akhirnya bisa berkumpul di Bali. Menurutnya Bali bisa jadi menyimpan banyak onthel unik yang kadung jadi besi rongsokan. Para Klithikers dan Onthelis ini berkumpul dengan aneka bahasa daerah dan kesenian di Lapangan Puputan Badung.

Ada yang mengenakan baju khas Dayak, ada yang ala prajurit Keraton Jogja. Sejumlah onthelis lain mengenakan kain dan kamen serta udeng khas Bali.

Dalam aneka rupa penampilan itu, para pecinta onthel merayakan keguyuban dan keberagamannya. [b]

Tags: DenpasarHobiKomunitas
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Ketimpangan Ruang dan Kelas di Pasar Badung

Ketimpangan Ruang dan Kelas di Pasar Badung

21 October 2025

Ancaman Kesehatan Pasca Banjir di Bali

8 October 2025
Mengelola Dana Darurat Banjir Bali: Antara Potensi dan Transparansi

Mengelola Dana Darurat Banjir Bali: Antara Potensi dan Transparansi

20 September 2025
Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

17 September 2025
Aksi Bali Mengkritisi Kebijakan Bias Gender dan Tolak RUU TNI

Gerakan Kesadaran Neurodiversitas untuk Keberagaman dan Melawan Stigma

21 June 2025
Next Post
Mari Jadi Tuan dalam Pemikiran Sendiri

Mari Jadi Tuan dalam Pemikiran Sendiri

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

MDPI Galang Dana Lewat Cerita Nelayan Kecil

MDPI Galang Dana Lewat Cerita Nelayan Kecil

10 December 2025
Aksi Protes Pemilik Sawah di Jatiluwih Pasang Seng dan Plastik

Konflik Pertanahan di Bali: Ketimpangan Petani Gurem dan Properti

10 December 2025
Aksi Protes Pemilik Sawah di Jatiluwih Pasang Seng dan Plastik

Aksi Protes Pemilik Sawah di Jatiluwih Pasang Seng dan Plastik

9 December 2025
Tujuh Langkah Mitigasi Jika Gunung Agung Erupsi

Media Sosial yang Berisik, Kita yang Beraksi

9 December 2025
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia