• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, May 26, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Bali Terancam Krisis Air Bersih

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
24 November 2009
in Kabar Baru, Lingkungan
0
1

Air Kotor di Bali

Teks dan Foto Luh De Suriyani

Enam bulan lalu, Ni Nyoman Lemon terpaksa pindah dari rumahnya di Sidakarya, Denpasar Selatan ke kampungnya di Beraban, Tabanan. Pasalnya usaha pembuatan sayur taoge, penghasilan utama keluarganya terancam. Air sumurnya tiba-tiba asin sekali dan membuat bibit taoge rusak.

“Pada hari kedua, sehari menjelang panen, sayur saya rusak dan tidak bisa dijual,” ujar Lemon, perempuan paruh baya ini. Ia berjualan di Pasar Kreneng, Denpasar. Ia dan suaminya harus menempuh rute yang lebih panjang, Tabanan-Denpasar agar bisa menjual taogenya tiap hari.

“Saya harus terus berjualan walau jauh. Saya tidak tahu kenapa air sumur bor saya jadi begitu asin,” katanya lagi. Padahal Lemon mengatakan kedalaman sumurnya sekitar 30 meter. Tetangga sekitar kebanyakan menggunakan air yang dijual Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Lemon dan banyak warga di sekitar Sidakarya tak menyadari, daerah itu memang masuk kawasan rawan intrusi air laut. Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bali mencatat intrusi air laut atau masuknya air laut ke daratan dinyatakan telah terjadi di kawasan wisata utama, yakni Kuta, Sanur, Lovina, dan Candidasa. Intrusi air laut di Sanur dan kawasan Denpasar Selatan paling parah, sekitar satu kilometer meter dari pantai dengan kedalaman 25 meter. Denpasar Selatan ini meliputi Suwung dan Sidakarya.

Sementara di Kuta, Candidasa, dan Lovina intrusi terjadi sekitar 5-7 meter dari bibir pantai. BLH memperkirakan Bali akan mulai krisis air bersih pada tahun 2025. Saat itu, diperkirakan penduduk bertambah menjadi 5 juta orang dan sumber-sumber air sulit memenuhi kebutuhan air bersih penduduk dan industri pariwisata di Bali.

“Sumber-sumber air makin menipis, ditambah dengan kemungkinan meluasnya intrusi air laut ke daratan. Air menjadi payau dan tidak aman untuk digunakan,” ujar I Gede Suarjana, Kepala Unit Pelaksana Teknis Laboratorium Lingkungan BLH Bali, Kamis. Air payau ini juga berbahaya karena mengandung zat berbahaya bagi kesehatan.

Suarjana mengatakan krisis air ditandai dengan sejumlah gejala alam. Misalnya penurunan debit air 162 sungai dari 401 buah sungai yang ada di Bali. Lalu, empat danau vulkanis, Danau Buyan, Beratan, Tamblingan, dan Batur juga mengalami pendangkalan dan sedimentasi parah.

“Sedimentasi di Danau Buyan 100 ton per tahun. Salah satunya karena pemampatan pupuk urea yang digunakan petani di kawasan pertanian Pancasari dan kawasan wisata Bedugul,” ujarnya.

Penggunaan air bawah tanah (ABT) juga makin tak terkendali. Ini juga dituding penyebab utama intrusi air laut. “Industri perhotelan di 15 kawasan wisata menggunakan ABT, dan ribuan lainnya untuk konsumsi rumah tangga. Kita belum menindak tegas penggunaan ABT untuk industri yang ilegal,” kata Suarjana.

Data BLH terakhir menyebutkan jumlah sumur dalam untuk komersial di Bali hanya sekitar 308 buah yang berizin. Pihaknya mengaku tidak secara khusus mengawasi sumur-sumur ABT yang ilegal. “Kenyataannya pasti lebih besar di lapangan dan juga yang ilegal,” kata Suarjana.

Krisis air ini, kata Suarjana harus diantisipasi PDAM Bali yang mensuplai air. “PDAM baru menjangkau 60% pelanggan di perkotaan. Diperlukan alternatif untuk memperluas jangkauan konsumen untuk mengurangi pengeboran ABT dan teknologi baru pengolahan air,” urainya.

Pihaknya mengaku hanya mencoba mengendalikan penggunaan ABT dengan cara memasang watermeter pada sumur-sumur dalam yang dibuat industri wisata. “Dari alat ukur watermeter kita bisa melihat berapa kubik air yang dipompa dari dalam tanah,” jelasnya. Namun penggunaan alat ini juga masih belum diawasi secara intensif.

Untuk menjaga suplai air bawah tanah, salah satunya mempeluas daerah tangkapan air hujan di Bali. Cara sederhana untuk membuat penampungan air dalam tanah, menurut Suarjana dengan lubang biopori yang dibuat dengan alat sederhana yang mampu melubangi tanah dengan kedalaman sekitar satu meter. “Kami baru mendapat 63 alat membuat biopori yanga kan didistribusikan ke seluruh kabupaten di Bali,” katanya.

http://www.thejakartapost.com/news/2009/11/20/bali-warned-clean-water-crisis.html [b]

Tags: BaliDenpasarLingkungan
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

17 May 2026
Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

15 May 2026
Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

14 May 2026
Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

9 May 2026
Next Post
Segar Gurih Garangasem Warung Ibad

Segar Gurih Garangasem Warung Ibad

Comments 1

  1. Cahya says:
    17 years ago

    Biopori akan menjadi solusi yang baik, tentu dengan melihat kelestarian alam juga.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Pemberdayaan Lalai, Kekayaan Bahari Serangan pun Terkulai

Reklamasi Serangan: Elit Parpol Pecah, Media Terbelah, Masyarakat Tetap Susah

25 May 2026
Memahami Zona Risiko Bencana dengan Data Spasial

Memahami Zona Risiko Bencana dengan Data Spasial

25 May 2026
Ubud Food Festival 2026, Petani dan Nelayan sebagai Penjaga Warisan Pangan

Ubud Food Festival 2026, Petani dan Nelayan sebagai Penjaga Warisan Pangan

24 May 2026
Melampaui Orgy Posmodernisme di Bali: Pembacaan Buku Tri Hita Bencana

Melampaui Orgy Posmodernisme di Bali: Pembacaan Buku Tri Hita Bencana

23 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia