• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, April 28, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Bali Nyaris Kehabisan Stock Modal Sosial

I Nyoman Winata by I Nyoman Winata
28 February 2008
in Budaya, Kabar Baru, Opini
0
3

Oleh I Nyoman Winata

Kejahatan yang semakin marak di Denpasar adalah konsekuensi dari semakin berkurangnya modal sosial (Social Capital) yang dimiliki masyarakat Bali. Banyak faktor yang menggerus modal sosial ini. Hal yang paling berpengaruh adalah rapuhnya ekonomi dan hubungan erat yang dibangun elite politik dengan jago-jago lokal. Jika tidak segera ditemukan solusi tepat, tidak tertutup kemungkinan Bali akan dilanda kekacauan sosial (Social disorder).

Francis Fukuyama dalam “The Great Disruption” (1999) menyakini bahwa modal sosial berperan sangat penting dalam menjaga kohesi antar warga dan menjadi alat kontrol sosial. Fukuyama mengistilahkan modal sosial seperti minyak pelumas dalam menjaga hubungan yang harmonis antar individu dalam masyarakat. Inti dari modal sosial adalah “trust” alias kepercayaan. Trust-lah memungkinkan masyarakat tersebut bekerja sama, baik itu dalam mencapai tujuan, atau menghadapi ancaman bersama yang datang dari luar atau dari dalam.

Modal sosial yang besar akan menjadi kekuatan utama dalam menekan tindakan-tindakan kejahatan dan kekerasan dalam masyarakat Masyarakat Bali sebelumnya telah memiliki modal sosial yang sangat besar dari kuatnya ikatan adat istiadat yang bekelindan dengan praktik-praktik ritual agama Hindu serta masih homogennya penduduk. Paling tidak hingga era tahun 1980-an modal sosial itu masih besar. Namun, booming pariwisata diera tahun 1990-an yang dibawa kekuatan modal tidak mampu diantisipasi dengan bijak. Kampanye-kampanye kaum kapitalis agar orang Bali jadi konsumtif melalui berbagai media relative berhasil. Sementara dari dalam diri masyarakat Bali sendiri, ego menggelar ritual yang megah juga semakin berkobar-kobar.

Untuk memenuhi syahwat konsumtif itu, tanah yang sesungguhnya menjadi pengikat jiwa manusia Bali dengan Tuhan dan leluhurnya kemudian menjadi barang dagangan yang diperjual belikan. Komodifikasi tanah leluhur ini sebenarnya berarti manusia-manusia Bali menjual jiwanya untuk mendapatkan kemewahan materi dan kemeriahan ritual. Sementara itu ikatan-ikatan antar manusia Bali semakin merenggang dan hal ini semakin diperparah dengan semakin banyaknya kaum urban yang menyerbu Bali karena tergiur kemajuan pariwisata. Ironisnya banyak orang Bali yang kalah dalam persaingan memperebutkan akses ekonmi dengan kaum urban.

Banyak yang kemudian terjebak dalam kemiskinan. Mereka berusaha survive dengan menggunakan sisa-sisa kekuatan yang ada. Kondisi inilah yang menjadi medium subur bagi lahir dan hidupnya jago-jago lokal (baca: preman) baru. Barisan jago-jago lokal pun menjadi semakin marak dan panjang. Kehidupan Jago-jago lokal ini semakin berjaya dengan diakomodirnya mereka dalam sistem politik kekuasaan tingkat lokal. Semua realitas ini mencabik-cabik dan memakan habis “trust” (kepercayaan) warga dengan warga lainnya dan warga dengan institusi-institusi negara. Ini berarti modal sosial masyarakat Balipun sudah jauh berkurang bahkan nyaris habis.

Jika Bali ingin kembali aman tentram, maka tiada kata lain, modal sosial haruslah kembali dipupuk. Untuk awal, musti ada itikad kuat dari kekuasaan politik lokal untuk “bercerai” dengan para jago lokal. Ada ketaatan terhadap hukum yang mesti dicontohkan kepada rakyat Bali, bukannya mengumbar perselingkuhan dengan jago-jago lokal demi bertahannya kekuasaan. Keteladanan lain adalah keteguhan jiwa dan hati, pemimpin yang rela hidup penuh kesederhanaan disemua aspek kehidupannya termasuk dalam menggelar aspek ritual agama.

Bangun kembali kehidupan Bali yang sagilik-saguluk, salulung sebayantaka sarpanaya di atas norma dan nilai-nilai moral serta kebersamaan. Bukan sekedar kebersamaan sebatas kelompok, klan, soroh dan desa adat. Lakukan semua ini sekarang, atau Bali akan mengalami Kekacauan Sosial (sosial Disorder) yang semakin hebat.

Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Nyoman Winata

I Nyoman Winata

I Nyoman Winata lahir dan besar Denpasar tahun 1975. Pernah kuliah di Fakultas Ekonomi Unud sampai wisuda. Di tahun 2013 lulus kuliah di Magister Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro dengan predikat cumlaude. Bekerja di sebuah Media massa yang berkantor pusat di Bali. Dari akhir tahun 2004 lalu bekerja di Semarang Jawa Tengah. Tidak punya hobi pasti, dulu suka olahraga, sekarang tidak pernah jelas. Rumah di depan Terminal Ubung persis, disebelah rumah makan padang "Minang Ubung".

Related Posts

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

28 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Menjinakkan Suara Kritis Kampus

28 April 2026
Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

27 April 2026
Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
Kredit Plastik: Solusi Palsu Tak Berkelanjutan

Kredit Plastik: Solusi Palsu Tak Berkelanjutan

26 April 2026
“Slaves of Objects” Candu Kebendaan dari WD

Pikiran yang Didisiplinkan

25 April 2026
Next Post

Perda dan Kepemimpinan Anak Muda Menanggulangi AIDS

Comments 3

  1. artana says:
    18 years ago

    Sepertinya semua berawal dari kesombongan kita juga yang terlalu mengagungkan dan terlalu bangga karena modal sosial yang kita miliki, terbuai oleh gelimang kemewahan yang membuat kita jadi lupa diri tanpa adanya usaha untuk memelihara dan memperkuat akarnya.

    Reply
  2. erick ningrat says:
    18 years ago

    swantiastu……………..

    sebagai masyarakat bali yang berada di perantuan!!gw adalh salah satu yang merasa sedih dengan perkembangan bali saat ini,selain bom dan gejolak kekerasan yang timbul di masyarakat seakan menjadi hiasan dinding di pulau bali,mari kita bersama-sama sebagai generasi muda bali bisa melestarikan budaya bali dengan cara kita masing2,
    baju boleh beda tapi hati tetap bali!!!!!!
    oke!!!
    jrotzzzzsz……………………..

    http://www.erickningrat,wordpress.com

    Reply
  3. erick ningrat says:
    18 years ago

    swantiastu……………..

    sebagai masyarakat bali yang berada di perantuan!!gw adalh salah satu yang merasa sedih dengan perkembangan bali saat ini,selain bom dan gejolak kekerasan yang timbul di masyarakat seakan menjadi hiasan dinding di pulau bali,mari kita bersama-sama sebagai generasi muda bali bisa melestarikan budaya bali dengan cara kita masing2,
    baju boleh beda tapi hati tetap bali!!!!!!
    oke!!!
    jrotzzzzsz……………………..

    http://www.erickningrat.wordpress.com

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

28 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Menjinakkan Suara Kritis Kampus

28 April 2026
Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

27 April 2026
Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia