• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, October 23, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Lingkungan

Bali Butuh Pengelolaan Air Rumah Tangga

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
5 March 2009
in Lingkungan, Teknologi
0
0

Oleh Luh De Suriyani

Sanitasi Buruk dikatakan sebagai salah satu Penyebab Peningkatan Penyakit Menular di Bali. Salah satunya karena kualitas air dan kebersihan lingkungan yang kurang baik. dr. I Ketut Subrata, Kepala Sub Dinas Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Bali mengatakan Bali sangat rentan dengan penyakit menular akibat lingkungan.

Hal itu disampaikan dalam Policy Dialog on Household Water Treatment for Urban Poor Water Supply, Senin lalu, di Denpasar. Kegiatan diadakan oleh Yayasan Balifokus dan CIDA-Asian Institute of Technology (AIT) Partnership.

Subrata mengatakan pada 1995, wabah kolera membuat penurunan drastis kunjungan wisata, lalu serangan Salmonellosis pada 2002 pada sejumlah wisatawan. Infeksi itu oleh bakteri bernama Salmonella di mana sebagian besar orang yang terinfeksi Salmonella akan mengalami diare.

“Padahal sarana air bersih di Bali jauh lebih baik dibanding daerah lain,” ujarnya. Karena itu, pihaknya menargetkan peningkatan sarana air bersih menjadi 96 persen, jumlah warga yang menggunakan jamban diharapkan 84 persen, dan semua institusi memenuhi syarat kesehatan.

Dinas Kesehatan Bali mengklaim, pada 2008 cakupan air bersih 85 persen, dan penggunaan jambang keluarga baru 74 persen. Sanitasi dasar diakui Subrata masih sulit diimplementasikan di daerah geografis yang kesulitan air seperti Kecamatan Selat dan Bebandem, Karangasem dan Desa Trunyan, Bangli.

Selain itu, kebijakan ini juga terkendali koordinasi atas kebijakan. “Kesepakatan tiga menteri yakni Pekerjaan Umum, Kesehatan, dan Depdagri belum berjalan optimal selain kurangnya dukungan dana dari dinas kesehatan di tingkat kabupaten,” katanya.

Zainal Nampira, Kepala Sub Direktorat Kesehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan mengatakan sumber daya air dan pengolahannya kini menjadi isu penting. Salah satunya pengembangan household water treatment. “Kualitas air yang dikonsumsi masyarakat adalah sumber penyakit,” ujarnya.

Data Departemen Kesehatan pada 2007 bayi menyebutkan diare adalah penyebab sepertiga kematian balita berusia 29-13 bulan di Indonesia atau sekitar 31 persen. Kontribusi kematian bayi dan anak-anak di Indonesia penyebabnya 55 persen karena penyakit dari sanitasi, air, dan lingkungan.

“Pravelensi diare di Bali di atas angka rata-rata nasional yakni 9 persen. Bali masih tinggi di banding Maluku,” tambah Zainal.

Hal ini terkait kualitas sanitasi warga. Studi Departemen Kesehetan tahun 1997 memperlihatkan tingkat air minum yang dimasak di Bali sekitar 81 persen. Namun air minum tanpa pengolahan di kota Denpasar mencapai 36 persen, diasumsikan karena warga lebih banyak membeli air kemasan atau isi ulang.

Pengolahan air minum juga terkait pada ketersediaan bahan bakar minyak seperti minyak tanah, gas, dan kayu bakar. “Kami takut akibat krisis minyak tanah saat ini, semakin banyak warga yang tidak memasak air sebelum diminum,” ujar Zainal.

Strategi dan implementasi pengelolaan sanitasi yakni jangan ada yang buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air rumah tangga, pengelolaan limbah dan limbah cair.

Faktanya, Zainal menyebutkan secara nasional lebih dari 50 persen masyarakat Indonesia tidak punya tong sampah di dalam dan luar rumah. Tren pengolahan limbah cair juga memburuk karena pada 2007 rumah tangga yang tidak punya istalasi limbah meningkat jadi 45 persen dari 27 persen (2004).

Kristin Darundiyah, Staff Sub Direktorat Kesehatan Lingkungan Departemen Kesehatan memaparkan opsi teknologi dan implementasi pengelohan air minum rumah tangga sangat beragam tergantung pada tingkat harga, rasa air, isu gender, dan prestise. “Misalnya soal isu gender, perempuan cenderung merasa tugas mengganti galon air adalah laki-laki atau suami karena berat galon. Tidak ada satu pun teknologi yang terbaik untuk semua orang,” ujar Kristin.

Lebih 90 persen masyarakat merebus air untuk air minum. Namun 47 persen masih terkontaminasi mikroorganisme seperti e-coli karena kesalahan penanganan seperti wadah air tercemar dan tidak cuci tangan.

Metodologi opsi water treatment di antaranya filtrasi dengan sistem biosand filter, keramik filter, merebus, khlorinasi proses pembubuhan zat khlor atau sodium hypchlorite ke dalam air untuk membunuh bakteri.

Floakulasi yakni penggumpalan dan disinfeksi. Selain itu ada mekanisme Solar water disinfection (Sodis) yakni pemaparan air selama 6 jam saat matahari terik untuk merusak mikrorganisme. Semua alternatif water treatment sangat tergantung penanganan oleh warga. Misalnya cuci tangan sebelum minum atau mencuci wadah air minum.

Namun persepsi masyarakat akan cara pengolahan air alternatif tergantung keuntungan yang didapat. Selain itu kesinambungan pemberdayaan masyarakat.

Di Denpasar salah satu alternatif water treatment yang dilakukan adalah dengan sistem biosand filter yang diujicobakan di Pemukiman Segina Asri, Jalan Teuku Umar Barat, Denpasar oleh Balifokus.

“Sekitar 60 persen penduduk miskin di Denpasar membeli air Rp 50.000 -120.000 per bulan per keluarga. Pendekatan proyek ini yakni meningkatkan kemampuan masyarakat miskin kota untuk memenuhi kebutuhan air dan kualitas air secara swadaya,” ujar Yuyun Ismawati, Director Balifokus. [b]

Versi Bahasa Inggris tulisan ini dimuat di http://www.thejakartapost.com/news/2009/03/04/bali-needs-water-treatment-facilities.html

Tags: BaliDenpasarLingkunganNGOTeknologi
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Kelangkaan BBM di Bali: Contoh Kegagalan Mitigasi dan Komunikasi Risiko

Kelangkaan BBM di Bali: Contoh Kegagalan Mitigasi dan Komunikasi Risiko

20 October 2026
Konservasi Ruang Airtanah Berbasis Ruang Kesakralan: Sebuah Kontemplasi Eco-Sosial-Religius di Bali

Infrastruktur Komputasi vs. Neraca Air: Mengukur Jejak Ekologis Data Center di Bali

12 October 2026
Makna dari Singkat yang Lekat di Minikino Film Week 2026

Makna dari Singkat yang Lekat di Minikino Film Week 2026

28 September 2026
Upaya Generasi Muda Tamblingan  Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

Ada Dapur Raksasa di Bawah Danau-danau di Bedugul

27 September 2026
Bali dan Banjir: Apakah Kita Serius Menata Kota?

Kesalahpahaman dalam Penganggaran Mitigasi Bencana di Bali

25 September 2026
Agama Tirta, Bagaimana jika Ritual Tanpa Air?

Agama Tirta, Bagaimana jika Ritual Tanpa Air?

22 September 2026
Next Post

Berbagi Komitmen untuk Citizen Journalism

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Sanur Intaran Menata Kawasan ke Zona Biru, Hijau, dan Kuning untuk Mengurangi Emisi

Sanur Intaran Menata Kawasan ke Zona Biru, Hijau, dan Kuning untuk Mengurangi Emisi

22 October 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

22 October 2026
Menteri Luar Negeri India buka Pameran Lontar dari Bali

Menteri Luar Negeri India buka Pameran Lontar dari Bali

22 October 2026
Penyebab Kematian Korban Bencana di Bali

Mediasi Deadlock, Gugatan Warga Negara Pulihkan Bali Lanjut ke Sidang Perkara

21 October 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia