• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, February 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Seberapa Sehat Kualitas Udara di Bali?

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
4 May 2018
in Berita Utama, Lingkungan
0
1
Tangkapan layar aplikasi UdaraKita yang dikembangkan Greenpeace Indonesia.

Apakah kualitas udara di Bali masih bagus?

Pertanyaan itu bisa dijawab melalui aplikasi Android yang dikembangkan organisasi lingkungan terkemuka Greenpeace Indonesia. Greenpeace memasang sejumlah alat pemantau kualitas udara yang bisa mengukur partikulat debu sulit dilihat mata ukuran 2,5 mikron. Selain di Jakarta yang mulai dipasang pada 2017, alat itu juga dipasang di Bali.

Di Jakarta, alat pengukur kualitas udara ada di enam lokasi. Adapun di Bali ada di tiga titik yaitu yakni Celukan Bawang (Buleleng), Abiansemal (Badung), serta Kota Denpasar.

Hasil pengukuran kemudian dianalisis dan dilaporkan oleh aplikasi UdaraKita. Greenpeace Indonesia meluncurkan pengukuran kualitas udara di Bali ini, saat kapal legendaris milik Greenpeace Rainbow Warrior menyandar di Pelabuhan Benoa pada 15 April lalu.

Saat dibuka pada dua pekan lalu, aplikasi itu menunjukkan warna hijau atau masuk kategori sehat untuk wilayah Bali. Selain laporan kondisi saat itu ada juga rekap 24 jam memperlihatkan perbedaan kualitas udara dari warna hijau, kuning, sampai merah.

Aplikasi itu juga memberikan penjelasan kualitas udara efek bagi kesehatan dan peringatan khusus untuk PM2.5.

PM2.5 berupa partikel mikroskopis yang dihasilkan dari semua jenis pembakaran, termasuk kendaraan bermotor, pembangkit listrik, dan kegiatan industri. Partikel ini sangat berbahaya karena mudah terhirup dan masuk ke aliran darah manusia dikarenakan bentuk kecilnya.

Paparan jangka panjang PM2.5 dapat menyebabkan infeksi saluran pernafasan akut, terutama pada anak-anak, dan juga kanker paru-paru.

Dengan meningkatnya konsentrasi PM2.5 di daerah perkotaan, penyakit asma akan menjadi lebih umum, terutama pada anak-anak. Partikulat ini dapat menyebabkan stroke, penyakit kardiovaskular dan penyakit jantung lainnya. Bagi wanita hamil, PM2.5 menimbulkan risiko serius bagi bayi yang dikandungnya.

Partikulat 2,5 menurutnya debu yang bersifat beracun, tak masuk hidung saja juga paru-paru. Debu beracun ini tak menimbulkan gejala sampai 1-2 tahun tetapi ketika berkumpul di saluran udara, bisa menimbulkan stroke.

Indeks Standard Pencemaran Udara (ISPU) di Bali versi KLHK.

Keterlibatan Publik

Bondan Andriyanu Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia mengatakan sangat penting publik tahu kualitas udara sekaligus ikut melaporkan situasi sekitar melalui aplikasi ini.

“Tak bisa berharap dari alat milik pemerintah saja, apalagi jumlah alatnya kurang,” ujarnya.

Menurut Bondan data pemerintah baru sampai pengukuran ukuran partikulat PM10. Ambang batasnya 65 mikron per meter kubik dan ini jauh lebih rendah dibanding standar WHO. “Kami berusaha meningkatkan standarnya direvisi draf UU tentang kualitas udara, tapi belum ketok palu terkait ambang batas polusi udara dan batas emisi PLTU,” jelasnya.

Bondan mengatakan warga bisa membeli sendiri alat seperti yang mereka gunakan, seharga sekitar Rp 10 juta dan bisa turut disinergikan dengan aplikasi UdaraKita.

Hingga saat ini belum banyak laporan warga via aplikasi Udara Kita untuk menyandingkan atau melengkapi hasil pengukuran kualitas udara. Padahal keterlibatan warga sangat diharapkan misalnya dengan memantau rutin kualitas udara sekitar rumah atau kantornya, bisa terlihat di menu “laporan” dan “fav”.

Secara umum kualitas udara di Bali sendiri masih cukup baik. Pantauan dari situs Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), kualitas udara di Bali masih masuk kategori baik.

Dari tiga lokasi pemantauan di Denpasar dan Karangasem, hanya satu alat yang menunjukkan kualitas sedang yaitu di Karangasem, tepatnya Kecamatan Abang. [b]

Catatan: versi lain artikel ini dimuat Mongabay Indonesia.

Tags: BaliLingkunganUdara
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Udara Bersih saat G20, setelah itu Polusi kembali

Udara Bersih saat G20, setelah itu Polusi kembali

11 February 2026
Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

30 December 2025
Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan

Terasering Subak sebagai Mitigasi Banjir Berbasis Lanskap

22 December 2025
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Next Post
Karena Tuak, eh, Buruh adalah Nyawa

Karena Tuak, eh, Buruh adalah Nyawa

Comments 1

  1. Jessmite says:
    8 years ago

    Saya baru tau kalau Greenpeace bikin aplikasi pengukur kualitas udara di berbagai daerah di Indonesia.
    Kalau di jalan raya di Bali saya belum pernah lihat alat indikator kualitas udara milik pemerintah, tapi kalau di Surabaya udah sering lihat ada di beberapa titik dekat lampu lalu lintas. Dan kualitas udara di Surabaya nggak terlalu bagus juga.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Imagine: Never Called by My Name Mewakili Kegelisahan Perempuan

Imagine: Never Called by My Name Mewakili Kegelisahan Perempuan

14 February 2026
Dari Bali ke Bangkok, Morbid Monke dan Bab Awal Feel Alive Tour

Dari Bali ke Bangkok, Morbid Monke dan Bab Awal Feel Alive Tour

14 February 2026
Sekolah Pembaharu Ashoka: Kelola Sampah sampai Ekskul Agro

Sekolah Pembaharu Ashoka: Kelola Sampah sampai Ekskul Agro

13 February 2026
Investasi WNA di Bali: Meningkat, Didominasi Rusia, Usahanya dari Real Estate sampai Rental Motor

Investasi WNA di Bali: Meningkat, Didominasi Rusia, Usahanya dari Real Estate sampai Rental Motor

12 February 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia