• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, April 17, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Ayam di Bali, dari Aduan hingga Persembahan

Astarini Ditha by Astarini Ditha
16 October 2019
in Berita Utama, Budaya
0
0

Ada yang menganggap keramat, banyak pula yang mengadunya hingga tamat.

Kebun itu luasnya tak seberapa. Persis berada di seberang jalan, sebelum Pura Dalem Gunung Desa Taman, Kecamatan Abiansemal, Badung. Klangsah, anyaman kelabang yang terbuat dari daun kelapa tua, memagari kebun sekaligus menjadi atap peneduh beberapa bilik.

Sekitar 20 ayam dalam kurungan, dijajarkan rapi di depan pintu masuk. Di sebelahnya, berdiri papan memajang potret-potret lelaki berdestar, berambut gondrong memegang ayam.

Pelestarian Ayam Bali Exhibition, kata-kata itu begitu jelas terpampang. Lelaki dalam potret itu, Apung namanya.

Apung, lahir di tanah Bali, sejak kecil sudah memiliki kecintaan terhadap alam khususnya ayam. Awalan isi buklet itu, saya baca sepintas.

Kemudian menjadi amat menarik karena kalimat berikutnya: “Mulai tahun 1993, Apung berekseperimen dengan pembiakan, menghadirkan isi naskah lontar menjadi bentuk ayam yang layak seutuhnya menjadi persembahan di berbagai upacara adat sesuai dengan kitab.”

“Bagi masyarakat Hindu, ayam adalah representasi dari tiga tingkatan eksistensi manusia: etis, estetis dan religius. Karenanya ayam lazim digunakan dalam upacara keagaman sebagai bentuk dari harmonisasi hubungan vertikal manusia dengan Sang Hyang Widhi Wasa.”

“Beda upacara, beda pula ayam yang harus dihadirkan. Begiu pula beda daerah, beda pula dengan tradisinya walaupun sama-sama di tanah Bali”.

Begitu isi buklet itu dengan sedikit pemenggalan alinea biar lebih enak dibaca.

View this post on Instagram

A post shared by Apung Thanks to Bali (@apungthankstobali)

Ayam Ganteng

Di satu kesempatan, Pak Apung lalu bercerita di antara ayam-ayam kesayangannya. Semenjak kelas 4 SD ia sudah menyukai ayam. Baginya ayam itu adalah seni yang indah.

Ayam yang ganteng, ia jaga supaya tidak dipotong. Dia senang melihat bulunya, bentuknya, semisal tanpa ekor – sangkur namanya, bentuk jambul, kuncir, kaki dan sebagainya.

Budidaya ayam Bali telah ia rintis sejak tahun 1993. Ia mendapat filosofi besar dari orang-orang yang datang ke rumahnya. Yang memberi identifikasi tentang jenis ayam- ayam tertentu untuk upacara.

“Begini, kalau ayam itu berhasil saya ternak ada orang cari ke rumah ternyata ayam itu layak untuk dipakai upacara,” katanya.

“Untuk mencross-checknya, saya mencari buku-buku dan bertanya dengan sulinggih-sulinggih. Kalau sulinggih, Wrespati Kalpa, kalau bebotoh, Pengayam-ayam,” tambahnya lagi.

Ia baca naskahnya berkali-kali. Membayangkan bentuknya lalu berusaha mengembangbiakkannya. Bertanya-tanya ke kampung-kampung, lalu mengawinkannya di rumah. “Saya bayangkan. Ayamnya tidak ada di gambar,” ceritanya.

Betul saja, lontar pengayam-ayam yang ia sebutkan memuat 43 jenis ayam dengan sekian ciri keutamaan, hari baik, arah dan seterusnya. Sedangkan Wrespati Kalpa, memuat perihal jenis ayam-ayam tertentu sebagai kelengkapan upacara meruwat atau mebayuh.

Untuk Mengharmoniskan

Seorang pendeta yang hadir, Ida Ratu Peranda Ishana Manuaba, menjelaskan tentang fungsi ayam dalam ritual keagamaan hindu di Bali. Dalam penjelasannya, fungsi ayam dalam agama hindu paling banyak digunakan pada caru, yadnya caru bhuta yadnya.

Beliau menjelaskan, caru itu asal katanya dari car yang artinya harmonis. Kita mengharmoniskan energi mikrokosmos yang ada di dalam diri kita dengan energi alam semesta, makrokosmos, dengan sarana ayam yang disebut dengan caru.

“Kenapa pakai ayam? karena ayam punya energi, kreatifitas dan etos kerja yang baik,” dalam sebuah video dokumenter yang diputar disana, beliau menjelaskan.

Video pendek berjudul The Chosen Rooster juga turut diputar. Ada tiga sulinggah yang menjadi narasumber. Selain Ida Ratu Peranda Ishana Manuaba, ada juga Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Beliau menjelaskan bahwa bagi masyarakat Bali, ayam adalah kebutuhan yang sama sekali tidak bisa dikesampingkan.

Segala ritual di Bali pasti memakai ayam dengan berbagai warna bulu, warna kaki dan banyak sekali warna-warna spesifik untuk upacara.

Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Ananda juga turut menjelaskan kaitan ayam dengan sistem religi bagi umat Hindu di Bali. Ayam hampir tak pernah absen dalam setiap upacara.

Menurut Mpu Jaya Acharya, dalam klasifikasi tentang karakter dari binatang ada tiga pembagian: klaster wise (kebijaksanaan; satyam), klaster enerjik – rajasik, klaster pemalas. Ayam masuk dalam klaster enerjik.

“Kehadiran ayam dalam bentuk ritual di bali itu adalah bagaimana membangun kreatifitas dan dinamiasasi. Karena ayam itu kreatif,” jelasnya.

Ayam Keramat

Video The Chosen Roster adalah bentuk kerja sama Apung Thanks To Bali dengan Cinemawithoutwall. Videonya sendiri bisa ditonton di Youtube.

Di eksibisi Pelestarian Ayam Bali Apung Thanks To Bali itu, Pak Apung turut mengajak karibnya dan mereka yang ia temukan dalam perjalanan preservasi ini. Ada Mangku Gede Sandi yang datang dari Celukan Bawang, Gerokgak, Buleleng. Mereka bertemu di Pasar Hewan Beringkit ketika Pak Apung membeli ayamnya.

Ada juga Ibu Kadek Sasmitara dari desa Dawan Klungkung yang piawai membuat Tali Kupas dari Gedebong, pelepah batang pisang kering. Juga ada kakek berusia 68 tahun dari Dawan yang piawai membuat tas ayam kisa dari daun kelapa tua.

Apung mengundang teman-temannya dari delapan kabupaten untuk ia titipi ayam-ayamnya dan kemudian dibudidayakan lagi.

Ayam Bali adalah ayam yang keramat. Disebutkan dalam literatur-literatur kuno, yang fungsinya sama pentingnya dengan sarana-sarana persembahan lain yang mengantarkan pada satu tujuan. Bila tujuan itu mulia, tak ada usaha yang sia-sia.

Dalam laman Instagram yang bernama apungthankstobali, tertulis: I cannot stand here. I have to do something to make sure that they are here to stay, with us Balinese People. This is my path to nirvana.

Bagi Pak Apung, ini adalah jalannya. [b]

kampungbet
Tags: Ayam BaliBaliBudaya
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Astarini Ditha

Astarini Ditha

Related Posts

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

7 April 2026
Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

24 March 2026
Siapkah Nyepi Digital?

Siapkah Nyepi Digital?

23 March 2026
Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

17 March 2026
Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Mendamaikan Nyepi dan Takbiran di Bali 2026

16 March 2026

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Next Post
cerita anak bali

Hentikan Kekerasan Digital Pada Anak demi Status Sosial

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Bali dan Histeria Festival

17 April 2026
Pulau Bali pun Rentan Tenggelam

El Niño “Godzilla”: Ketika Monster Iklim Mengancam Pulau Dewata

16 April 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

15 April 2026
Sabtu Sketsa Merefleksikan Kejujuran Aku Kembali Pulang Dayu Sartika

Sabtu Sketsa Merefleksikan Kejujuran Aku Kembali Pulang Dayu Sartika

14 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia