• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, May 8, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Atribut Tolak Reklamasi dan Perlawanan Sehari-hari

Gde Putra by Gde Putra
30 August 2016
in Kabar Baru
0
2
Atribut Bali Tolak Reklamasi menjadi wajah sehari-hari. Foto Anton Muhajir.
Atribut Bali Tolak Reklamasi menjadi wajah sehari-hari. Foto Anton Muhajir.

Pemandangan sama selalu muncul setiap saya bertemu Pak Putu Semiada.

Seperti beberapa hari lalu di sebuah acara konser. Atribut tolak reklamasi kembali nampak mendominasi penampilan lelaki murah senyum ini. Dia mengenakan baju kaos tolak reklamasi Teluk Benoa.

Topi bersimbol tangan kiri mengepal.

Jika kita bertemu Pak Putu saat aksi tolak reklamasi, maka kita kan melihat lelaki yang sudah punya cucu ini mengenakan atribut lebih “rame” dari biasanya. Bermacam pernak-pernik tolak reklamasi dipastikan memenuhi sekujur tubuhnya, dari udeng, baju, kacamata, tas, kain, hingga saput.

Saya sempat berkelakar, “jangan-jangan CD Pak Tu juga ada gambar tangan kiri mengepal?”. Dia menjawab “belum” sambil tertawa.

Yang membuat saya berdecak kagum adalah beberapa atribut itu dia buat sendiri. Kalau tak salah tas, udeng dan saput adalah hasil karya seninya sendiri.

Pak Putu adalah bagian dari arus yang dieembuskan gerakan ini, sebuah arus yang mempertemukan kesenian dan perlawanan. Hasrat memadukan seni dan melawan ini dihinggapi berbagai kalangan, entah mereka kelompok “seniman” maupun “warga biasa”

Pak putu tidaklah sendiri. Sosok-sosok dengan bermacam pernak-pernik simbol perlawanan terhadap upaya “urug laut” di Teluk Benoa itu mudah ditemui saat aksi di lapangan. Semangat tolak reklamasi tampaknya begitu merasuk.

Simbol-simbol perlawanan terhadap rencana ambisius investor tidak lagi sebatas ramai di jalanan, melainkan ramai di tubuh para penolak reklamasi. Semangat perjuangan ini begitu membadan.

Pernak-pernik itu bukanlah aksesoris biasa, yang hanya digunakan pemakainya untuk terlihat keren. Melainkan menandakan hal lebih dalam, yaitu isi hati si pemakai yang tegas menunjukan diri sebagai pihak “kontra” reklamasi.

Aksesoris-aksesoris tolak reklamasi adalah “statemen politik” manusia akar rumput yang lugas. Karena hal buruk bagi rakyat haruslah ditolak dengan lugas. Bukannya mengambang dan bertele-tele seperti halnya para pejabat atau politisi.

Banyak cerita yang saya dengar, termasuk dari pak Putu, bahwa tidak semua orang legowo terhadap kehadiran pernak-pernik ini. Ada saja yang nyinyir dan antipati terhadap kehadirannya.

Maklum saja, kritik dan protes terhadap investor rakus terkadang tak melulu menyesakan bagi pejabat-pejabat busuk yang berada di atas, namun juga orang-orang di sekeliling kita yang bertabiat sama seperti para rakus.

Memang penindasan bisa bekerja efektif jika ada kebijakan atau aturan-aturan hukum yang mendukungnya. Tetapi selain itu penindasan bisa beroperasi jika ada subjek-subjek di akar rumput menyetujui, bersepakat, atau memiliki kesadaran yang sama seperti si penindas. Para nyinyir ini mungkin bagian darinya.

Nyinyir atau penyepelean ini bisa juga sebagai respon mereka yang memilih abu-abu. Kita terlalu lama dibesarkan rezim Orba, dan terkadang sikap menggugat penguasa secara terang-terangan masih terasa kagok bagi orang-orang yang dibesarkan rezim ini.

Kita yang hidup pada masa itu acapkali merespon kebusukan politik negara dengan menjadi abu-abu. Karena menyatakan “tak setuju” secara gamblang bisa berujung penjara. Sikap abu-abu di hari ini barangkali warisan Orba yang masih menjalar.

Respon warga tak sepenuhnya negatif. Banyak juga mengundang dukungan, misalnya respon seseorang yang dengan seketika menunjukan tangan kiri mengepal ketika kita mengenakan atribut tolak reklamasi. Tentu saja, yang awam bisa dibuatnya terpancing bertanya kepada kita tentang hiruk pikuk persoalan reklamasi ini.

Jadi kehadiran pernak-pernik tolak reklamasi dalam dunia sehari-hari bisa berarti gugatan, pemantik solidaritas, dan “jembatan” edukasi. Oleh karena itulah si pemakai dituntut untuk tahu persoalan dan siap menerima resiko.

Wajah-wajah si pemakai atribut terlihat selalu sumringah dan bersemangat. Kentara mereka yang terlihat gembira melawan ini berhasil melewati berbagai tembok sensor di sekeliling mereka, entah berupa nyinyir atau penyepelean.

Mereka berhasil merawat “keberanian” sekalipun penjegalan terhadap gerakan ini menggunakan cara-cara kasar, entah intimidasi, tipu dan fitnah, ataupun perusakan seperti perobekan-perobekan baliho.

Manusia-manusia beratribut tolak reklamasi semakin menjamur, dan ini berarti “keberanian” tak hanya terawat tetapi terus berkembang biak. Rakyat sepertinya tak mau lagi memilih menjadi abu-abu.

Mereka memilih kontra reklamasi dan bergerak maju. Para rakus lebih baik mengurungkan niatnya. Ngeri membayangkan apa yang terjadi jika para rakus tetap ngotot. [b]

Tags: BadungBali Tolak ReklamasiLingkunganTeluk Benoa
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Gde Putra

Gde Putra

Penulis lepas yang pernah kuliah di Universitas Atmajaya Yogyakarta. Kini merantau di Amerika Serikat.

Related Posts

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

3 May 2026
Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

1 May 2026
IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

29 April 2026
Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

22 April 2026
Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

20 April 2026
Compost Bag Dipilih sebagai Solusi Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga

Pemkot Denpasar Rencanakan Distribusi 176 Ribu Compost Bag pada 2026

19 April 2026
Next Post
Scared Of Bums, 380 KM untuk Konser Dua Kota

Scared Of Bums, 380 KM untuk Konser Dua Kota

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Nelayan di Danau Batur Kehilangan Pekerjaan Akibat Red Devil

Nelayan di Danau Batur Kehilangan Pekerjaan Akibat Red Devil

8 May 2026
Mahasiswa Pilih Nugas di Cafe, Perpus Sepi

Mahasiswa Pilih Nugas di Cafe, Perpus Sepi

8 May 2026
Diskusi Kolonialisme di Nobar Film Pesta Babi

Diskusi Kolonialisme di Nobar Film Pesta Babi

7 May 2026
Angkat Topi Buat Wanita, Khususnya Wanita Bali

Orang Bali jadi Objek Perencanaan Pariwisata

6 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia