• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Sunday, February 15, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Buku

Atavisme dalam Dua Buku Cerpen Penulis Muda

Angga Wijaya by Angga Wijaya
27 August 2018
in Buku, Kabar Baru
0
0
Dua buku cerpen Adnyana Ole dan Juli Sastrawan. Foto Angga Wijaya.

Dua sastrawan muda menghadirkan kembali hal-hal klasik di Bali.

Balai Bahasa Provinsi Bali menggelar bedah buku dua penulis muda Bali pada Selasa, 21 Agustus 2018, lalu. Diskusi bertempat di aula Balai Bahasa Provinsi Bali, Jalan Trengguli I No. 20, Penatih, Denpasar.

Dua buku yang dibedah adalah buku kumpulan cerita pendek “Gadis Melukis Tanda Suci di Tempat Suci” karya Made Adnyana Ole dan “Lelaki Kantong Sperma” karya I Gede Agus Juli Sastrawan. Prof. I Nyoman Darma Putra, guru besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana tampil sebagai pembedah karya dipandu penulis dan aktivis sastra Wayan Jengki Sunarta.

Dalam penyampaiannya Darma Putra melihat kesamaan pada kedua buku kumpulan cerita pendek tersebut, yakni atavisme atau pencarian sesuatu yang klasik atau purba untuk ditampilkan kembali pada karya sastra.

“Atavisme pada karya Made Adnyana Ole terletak pada mitos-mitos di Bali yang ditulis kembali, sedangkan pada karya Sastrawan bisa dilihat pada penggalan surat dan pesan WA di cerpen-cerpennya,” ujarnya.

Istilah atavisme sebenarnya bukan hal baru. Pada 1971 sastrawan Subagio Sastrowardoyo pertama kali memperkenalkan istilah tersebut dalam buku ‘Bakat Alam dan Intelektualitas’ pada bab ‘Atavisme dalam Sajak’ (1969) untuk menyebut munculnya kembali ciri-ciri lama yaitu purba dan primitif yang sebelumnya sempat terpendam, misalnya ciri pantun dalam puisi modern.

Penting Dibicarakan

Darma Putra menyebut alasan mengapa atavisme penting dibicarakan dalam khasanah sastra.

Pertama, esensi karya sastra adalah kreativitas. Sastrawan berusaha keras untuk orisinal, inovatif, mencari identitas, dan tabu jadi epigon.

Kedua, atavisme merupakan fakta dalam dunia sastra. Perkembangan sastra bukanlah aliran yang patah tetapi sambung-sinambung dalam kerangka sistem sastra.

Ketiga, pemunculan ciri lama, purba, klasik adalah apresiasi atas kekayaan warisan sastra. Beda dengan poin pertama, pemanfaatan atavisme adalah kekaguman atas ciri purba karya sastra.

Sebagai alat analisis, atavisme lebih banyak digunakan dalam mengkaji puisi, walaupun gejala atavisme terdapat dalam prosa pun drama. Dengan atavisme sebagai alat analisis terbuka menyusun kritik inovatif. Walaupun atavisme jarang dipakai. Mungkin karena popularitas teori lain yang menjadi payungnya yakni intertekstualitas.

Buku cerpen “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci” karya Made Adnyana Ole berisi sembilan cerpen dengan tema beragam, seperti masalah pariwisata, dilema humanistik politik 1965, mitos-mitos budaya Bali yang disampaikan dengan gaya realis, absurd, ironis bahkan humor.

“Atavisme dalam kumpulan cerpen ini lebih longgar tampak dalam setidaknya dua mitos: mitos politik dan mistik,” katanya.

Atavisme mitos politik muncul dalam cerita dengan tema atau latar politik anti-komunisme dari peristiwa 1965. Cerita ‘Men Suka’ paling kental, total, dan sebagai latar-sentuh dalam cerpen ‘Gede Juta’, ‘Siat Wengi’, dan ‘Darah Pembasuh Luka’. Atavisme mitos mistik muncul dalam cerita ‘Siat Wengi’ dan ‘Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci’.

Tema Seksualitas

Adapun buku kumpulan cerpen “Lelaki Kantong Sperma” karya Juli Sastrawan yang juga berisi sembilan cerpen didominasi tema seksualitas seperti homoseksualitas, korban seksual dan lain-lain dengan gaya realis, semi-absurd dan serius. Atavisme yang menonjol dalam cerpen-cerpen Juli adalah atavisme espitolari yaitu teknik penulisan prosa dengan menyisipkan surat atau dokumen.

Genre epistolari popular abad ke-18 dalam sastra Inggris dan Jerman. Novel awal Indonesia seperti Siti Nurbaya dan Student Hijo berisi sisipan surat. Epistolari muncul kembali dalam WA, dan banyak cerpen dewasa ini mengandung WA atau SMS.

“Cerpen ‘Di Ujung Percakapan Kontemporer’ misalnya, ada banyak WA dan diakhiri dengan surat. Epistolari penanda atavisme dalam cerpen ini. Juga beberapa cerpen “Percakapan Sembilan Pencarian”. Pada Cerpen ‘Laki-laki Kantong Sperma’ mengutip lagu Michael Learns to Rock ‘That’s Why (You Go Away).

“Entah apa istilah untuk lirik lagu masuk ke prosa, tapi ini juga ciri purba prosa yang berasal dari opera atau film India,” kata Darma Putra.

Ia menekankan, karya sastra tidak serta merta bermutu atau tidak bermutu hanya karena ada dengan ada atau tanpa atavisme.

“Mutu karya sastra ditentukan inovasi yang tercermin lewat orisinalitas kisah, isi, tema dan motif, serta orisinalitas bentuk misalnya struktur dan alur. Selain itu, inovasi style dan bahasa serta target pembaca atau “implied reader”, dan terakhir adalah agensi,” pungkasnya.

Seribu Tafsir

Terbitnya dua buku cerpen ini menandakan gairah kepenulisan yang tinggi dari penulis kontemporer Bali. Cerpen-cerpen dalam dua buku ini telah sampai ke tangan pembaca dan bebas untuk ditafsirkan, yang bisa jadi memiliki seribu tafsir berbeda, tergantung dari pembaca.

Selain itu, kehadiran kedua buku cerpen ini memberi kemungkinan baru akan tema dan teknis menulis cerpen. Walau tema seksualitas telah banyak digarap penulis perempuan seperti Djenar Maesa Ayu, yang barang tentu berbeda ketika ditulis dari pandangan laki-laki seperti Juli Sastrawan yang banyak mengangkat tema sama pada karyanya.

Juga tema peristiwa 1965 yang ditulis oleh Made Adnyana Ole tentu berbeda ketika dibandingkan dengan cerpen-cerpen Martin Aleida atau Putu Oka Sukanta yang notabena mengalami langsung dan menjadi tahanan politik akibat peristiwa tersebut. Sebagai “orang luar”, Ole menuliskan kembali apa yang pernah terjadi di sekitarnya yang ia dengar dari penuturan keluarga dan warga kampung tentang peristiwa 1965. Dua hal yang berbeda, tentunya.

Kemungkinan-kemungkinan baru pada cerpen penulis Bali dewasa ini menurut saya akan terus lahir dan memperkaya khazanah sastra Indonesia. Selamat untuk Ole dan Juli! [b]

Tags: BukuDenpasarSastra
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Angga Wijaya

Angga Wijaya

Bernama lengkap I Ketut Angga Wijaya. Lahir di Negara, Bali, 14 Februari 1984. Menyukai dunia literasi sejak SMA. Pernah kuliah Prodi Antropologi Fakultas Sastra Universitas Udayana. Bekerja sebagai wartawan di Denpasar.

Related Posts

Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Ketimpangan Ruang dan Kelas di Pasar Badung

Ketimpangan Ruang dan Kelas di Pasar Badung

21 October 2025

Ancaman Kesehatan Pasca Banjir di Bali

8 October 2025
Mengelola Dana Darurat Banjir Bali: Antara Potensi dan Transparansi

Mengelola Dana Darurat Banjir Bali: Antara Potensi dan Transparansi

20 September 2025
Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

17 September 2025
Pasar Badung Berwajah Mewah, Tukang Suun Kian Lelah, Perlindungan Susah

Pasar Badung Berwajah Mewah, Tukang Suun Kian Lelah, Perlindungan Susah

4 June 2025
Next Post
Gagalnya Reklamasi adalah Kemenangan Rakyat Bali

Gagalnya Reklamasi adalah Kemenangan Rakyat Bali

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Imagine: Never Called by My Name Mewakili Kegelisahan Perempuan

Imagine: Never Called by My Name Mewakili Kegelisahan Perempuan

14 February 2026
Dari Bali ke Bangkok, Morbid Monke dan Bab Awal Feel Alive Tour

Dari Bali ke Bangkok, Morbid Monke dan Bab Awal Feel Alive Tour

14 February 2026
Sekolah Pembaharu Ashoka: Kelola Sampah sampai Ekskul Agro

Sekolah Pembaharu Ashoka: Kelola Sampah sampai Ekskul Agro

13 February 2026
Investasi WNA di Bali: Meningkat, Didominasi Rusia, Usahanya dari Real Estate sampai Rental Motor

Investasi WNA di Bali: Meningkat, Didominasi Rusia, Usahanya dari Real Estate sampai Rental Motor

12 February 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia