Arti Keluarga dalam Memento Ketut Sedana

Ketut mencoba membentangkan kenangan-kenangan pada keluarga.

Seniman muda Ketut Sedana menggelar pameran bertajuk Memento di Warung Men Brayut selama satu bulan, pada 9 Februari – 8 Maret 2020. Pameran tunggal ini hanya menampilkan 7 karya intim dan kontemplatif.

Sebab, semua karya Ketut mencoba membentangkan kenangan-kenangan Ketut terhadap anggota keluarganya melalui kolase benda-benda tertentu. Baginya setiap benda memiliki kisahnya masing-masing, baik kenangan baik, buruk, mengecewakan, bahkan kenangan yang membekas bahkan mampu menimbulkan trauma.

Tujuh karya tersebut berjudul Canang Sari, Lamak Buda Taylor, Periangan, Sampat Lidi, Simpul dan Living English-Soul Jah, ide-ide karya ini mulai digodok Ketut dari bulan November 2019 hingga Januari 2020. Bentuknya ialah kolase benda-benda, instalasi berukuran kecil, serta dibeberapa bagian karya dilukis dengan gaya khas Ketut.

Benda-benda yang dipamerkan tidak asal pilih. Benda tersebut memiliki nilai sejarah yang mungkin saja mencatat perjalanan keluarganya hingga generasi kini. Misalnya dulang yang digunakan untuk karya Periangan. Ketut mengisahkan dulang dengan ornamen bunga sederhana itu digunakan oleh alm kakek hingga ibunya.

Pada bidang datar dulang terdapat cekungan-cekungan yang tidak sengaja terbentuk karena termakan rayap. Melihat benda itu saja, pengunjung pasti dibawa menelusur waktu lampau sesuai pengalaman masing-masing.

Namun, jika ditilik lebih jauh karya Periangan itu termasuk karya autokritik kebudayaan hari ini, terutama pembuatan gebogan buah oleh ibu-ibu. Hari ini ibu-ibu lebih suka menggunakan dulang bertumpuk dengan ornamen emas cetar membahana. Buahnya tinggal diletakkan sesuai jenis yang sama, lalu di susun berdasarkan ukurannya.

Hal ini berbeda seperti dulu. Dulang yang digunakan untuk membuat gebogan buah menggunakan batang pisang muda (gedebong). Buahnya ditusuk menggunkan katik sate. Lalu baru disusun melingkar ke atas. Ya, namanya juga perubahan zaman, semua menuntut kecepatan dan instan.

Ketut Sedana yang tergabung dalam komunitas Baligrafi ini mengurai secara implisit arti keluarga dalam konteks kini. Apalagi anak-anak muda yang berkeinginan hidup bebas seolah lupa memiliki keluarga di rumah.

Namun, cara pandang inipun ia dapat ketika berjarak dengan keluarganya. Misalnya ia mengenang kembali cerita alm kakek dan alm neneknya ketika kedua sosok tersebut sudah tiada. Alih-alih larut dalam kenangan berulang, Ketut memanipulasi hal tersebut menjadi energi dalam berkarya. Lahirlah karya berjudul Lamak.

Baginya keluarga adalah tempat perdana untuk menimba ilmu, tempat akar pemahaman, tempat yang sangat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan, hal ini karena keluargalah orang-orang yang pertama kali bersentuhan dengan kita.

Kebingungan

Jika dikaitkan pada kecepatan laju teknologi hari ini, terutama media sosial, riuh informasi berkelindan di dalamnya, realitas seolah dipertanyakan ulang sebagai upaya berkehidupan. Sebenarnya kita di mana, apa yang lebih penting, mana yang lebih prioritas, membeli kuota agar bisa berkoneksi dengan teman-teman lewat teks, atau yang realitas nyata dan pertemuan sehari-hari.

Kebingungan semacam ini dapat diluruskan dilingkungan keluarga, memberi arahan pada kaum-kaum muda, agar berjalan dalam pilihan yang teguh dan tegas.

Tujuh karya ini mungkin bisa dikatakan sedikit dalam pameran tunggalnya ini. Namun, dari titik kecil inilah Ketut akan beranjak. Jika datang ke pamerannya selain melihat benda-benda sakral ala Ketut, teman-teman tentunya akan disajikan cerita-cerita akar atas karya tersebut. Pengunjung pun diberlakukan seintim itu. Seperti hubungan Ketut dengan karya-karyanya.

Selain sibuk berkarya pribadi, Ketut Sedana yang berambut gondrong ini juga tergabung dalam kelompok seni pertunjukan teater boneka, Kacak Kicak Puppet Theater, sejumlah even mural lepas, dan bekerja sebagai pelukis lepas di beberapa café di Denpasar.

Pembukaan pameran akan dimeriahkan oleh lagu-lagu hiperaktif oleh Badiktilu, pilihan list oleh Falsafah Tinu Maha dan Performing Art oleh Teater Kalangan. Selama pameran sebulan akan diadakan sejumlah acara. Pertama, lokakarya membuat boneka dari benda kesayangan bersama Kacak Kicak Puppet Theater pada 16 Februari. Kedua, lokakarya penulisan kritik karya seni rupa pada 23 Februari. Terakhir, penutupan, masak-makan bersama kawan-kawan kemudian akan dimeriahkan oleh solois Karna, Pandu Suksma dan Pekat Terakhir pada 8 Maret 2020.

Selamat berpameran. Mari datang.