• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, January 16, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Apa yang Harus Mereka Rayakan

Anton Muhajir by Anton Muhajir
23 July 2008
in Budaya
0
2

Oleh Anton Muhajir


Dua anak perempuan itu menyerbu kami di tangga menuju bagian paling bawah Pasar Badung, pasar terbesar di Bali. Mereka membawa keranjang kosong di kepalanya. Muka dan pakaian mereka kusam. Dekil. Rambut kemerahan berantakan.

Saya dan tiga teman segera berhenti. Kami melihat ke mereka lalu saling mengangguk. “Ya sudah. Kita ngobrol sama mereka saja,” kata salah satu teman dari Jakarta itu.

Kami keluar dari areal pasar ke tempat lebih sepi. Dua anak itu bersama kami. Lalu satu gadis lagi menyusul. Tiga atau empat ibu juga mengikuti. Kami lalu ngobrol di tepi jalan di depan pasar yang selalu riuh itu.

Gadis-gadis kecil itu, juga para ibu, adalah buruh pasar (tukang suun) di pasar yang menjual kebutuhan sehari-hari tersebut. Bedanya ibu-ibu itu memang sudah waktunya bekerja sedangkan anak-anak itu kerja karena terpaksa.

Saya membantu teman dari Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) Jakarta yang sedang membuat pelatihan legal drafting di Bali. Salah satu agenda pelatihan adalah field trip untuk simulasi legal drafting. Dari tiga isu field trip, aku membantu jadi pemandu untuk isu pekerja anak. Pasar Badung salah satu tujuan untuk isu pekerja anak selain ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bali.

Dan, anak-anak perempuan itu memang masih sangat belia untuk bekerja sekeras itu. Usia mereka ada yang delapan tahun, tujuh tahun, bahkan ada yang kurang dari itu. Namun, mereka harus bekerja mengusung barang belanjaan di atas kepala. “Berat,” kata Ketut, salah satu dari anak itu ketika ditanya tentang bawaan mereka di kepala.

Mereka bekerja 12 jam tiap hari, dari pukul enam pagi hingga enam sore. Kerja 12 jam dan mereka hanya dapat rata-rata Rp 10 ribu per hari. Kalau lagi rame seperti Galungan bisa dapat Rp 25 ribu per hari. “Tapi kan jarang-jarang,” kata Komang, anak yang lain.

Dengan pendapatan rata-rata, katakanlah, Rp 300 ribu, anak-anak itu harus menghidupi diri sendiri. Mereka tidak tinggal dengan orang tua. Tapi kos sama temannya. Ada yang berdua, ada yang bertiga. Maka, pendapatan itu harus dipotong untuk kos sekitar Rp 150 ribu dan makan sehari-hari, tentu saja.

Tapi, ini bukan soal bagaimana mereka menghidupi diri sendiri. Ini tentang bagaimana anak-anak itu kehilangan haknya sebagai anak.

Pertama, anak-anak itu tidak ada yang sekolah sama sekali. Semuanya. Ketika anak-anak seumur mereka sedang gembira saat tahun ajaran baru, -setidaknya itu anak-anak di gang rumahku- anak-anak di pasar itu harus bekerja demi hidup mereka. Mencari orang-orang yang belanja, menawarkan jasa, lalu membawa barang belanjaan itu untuk orang yang mau berbelas kasihan pada mereka. Mereka seharusnya ada di kelas. Duduk manis untuk belajar tentang pengetahuan yang seringkali memang hanya omong kosong.

Bukankah Negara (dengan N kapital) sudah berjanji untuk menanggung pendidikan mereka. Lalu?

Kedua, anak-anak itu seharusnya didampingi wali. Di usia itu mereka harusnya masih merasakan hangatnya dekapan orang tua, becanda dengan keluarga, dan seterusnya. Tapi mereka harus kos sendiri di Denpasar. Sementara ibu, bapak, dan kakak mereka tinggal di Tianyar, Karangasem, salah satu daerah termiskin di Bali.

Ketiga, anak-anak itu bekerja bahkan melebihi jam kerja orang tua. Bekerja harian, kata aturan soal ketenagakerjaan, seharusnya tak lebih dari dari delapan jam per hari. Tapi ini mereka bekerja sampai 12 jam per hari. “Kadang-kadang kerja lagi sampai jam sepuluh malam,” kata anak lainnya.

Keempat, kelima, keenam, mungkin lebih banyak lagi hal yang seharusnya mereka bisa nikmati tapi harus lenyap karena alasan ekonomi. Parahnya, tidak ada satu pun lembaga atau instansi yang peduli pada mereka. Maka, salah satu peserta field trips yang bekerja di Save the Children UK, hanya bisa menggeram.

Dulu, katanya, Departemen Sosial pernah menawarkan program untuk anak-anak telantar di seluruh provinsi di Indonesia. Namun, Dinas Sosial Bali adalah satu-satunya provinsi yang menolak program itu dengan alasan tidak ada anak jalanan di Bali. “Sombong sekali mereka,” katanya merujuk ke Dinas Sosial Provinsi Bali. “Sekarang saya lihat sendiri bagaimana anak-anak itu disembunyikan dari data,” tambahnya.

Usai ngobrol kami pergi.

Seperti biasa, saya hanya bisa menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya. Saya hanya bisa menulis tentang kalian. Hanya itu yang bisa kubantu untuk kalian.

Oya, pas sampai di rumah dan baca Kompas saya baru tahu kalau Rabu (23/07) ini adalah Hari Anak Nasional. Selamat Hari Anak untuk kalian. Meski aku tidak tahu apa yang harus kalian rayakan.. [b]

Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

16 January 2026
Rekam Jejak 41 Tahun TPA Suwung: Berulang kali Hendak Ditutup, PSEL Gagal

Rekam Jejak 41 Tahun TPA Suwung: Berulang kali Hendak Ditutup, PSEL Gagal

16 January 2026
Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Refleksi Gastro Kolonialisme dari Monyet Milenial

Refleksi Gastro Kolonialisme dari Monyet Milenial

14 January 2026
Kekerasan terhadap Perempuan di Bali Meningkat Sepanjang 2025

Kekerasan terhadap Perempuan di Bali Meningkat Sepanjang 2025

14 January 2026
Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Next Post

Kisah di Balik Isu Bubarnya Lolot Band

Comments 2

  1. wira says:
    17 years ago

    dan saya hanya bisa berkomentar…

    siapa yang salah? tentu bukan hal yang tepat kalau mencari siapa yang benar dan siapa yg salah, tapi sebaiknya mencari solusi.

    Reply
  2. Agung Alit says:
    17 years ago

    Penghuni tanah air Indoensia ini, semua tahu bahwa UUD 45 menyatakan:fakir miskin dan anak terlantar ditanggung negara. kenyataanya malah anak anak semakin sengsara. Beginilah kalau negara dikendalikan penguasa pengusaha. Sudah saatnya semua pihak mengubah perilaku bisnis tidak hanya profit oriented namun lebih kepada welfare and happiness oriented.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

16 January 2026
Rekam Jejak 41 Tahun TPA Suwung: Berulang kali Hendak Ditutup, PSEL Gagal

Rekam Jejak 41 Tahun TPA Suwung: Berulang kali Hendak Ditutup, PSEL Gagal

16 January 2026
Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Refleksi Gastro Kolonialisme dari Monyet Milenial

Refleksi Gastro Kolonialisme dari Monyet Milenial

14 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia