
Menjelang tengah malam, Agatha baru menuntaskan kegiatan hariannya. Menutup hari, ia berniat membersihkan diri dengan mandi. Sebelum mandi, ia mengisi bak mandi dengan air penuh. Air dibiarkan menyala sembari dirinya melakukan kegiatan lain.
Mendengar gemercik air, ia langsung menuju kamar mandi untuk menutup keran air. Namun, yang ditemukannya bukan air bersih layak pakai, melainkan air berwarna cokelat pekat. Saking cokelatnya, warna bak mandi sama sekali tidak terlihat.
Buyar sudah bayangan mandi dengan tenang malam itu. Dira langsung menguras bak mandi, membuka kembali keran air dengan harapan air bersih bisa mengalir. Untungnya, air yang mengalir tidak berwarna cokelat seperti sebelumnya.
Kejadian malam itu bukan yang pertama kali untuknya. Dalam beberapa waktu, ia kerap menemukan bak mandinya dialiri air berwarna kecokelatan. Bukan hanya air yang keruh, di jam-jam sibuk, air di indekosnya kerap mati.
Agatha tinggal di sebuah indekos dekat kampusnya, di belakang Universitas Udayana kampus Sudirman. Per bulan ia membayar Rp700.000, termasuk air dan listrik. Ada sembilan kamar di indekos tersebut dan satu bangunan yang ditempati keluarga pemilik indekos.
Maka dari itu, ketika jam sibuk, seperti pukul 08:00 WITA, air di indekosnya kerap mati karena digunakan oleh banyak orang. Hal tersebut membuat pemilik indekosnya mandi pukul 05:00 WITA agar tidak berebut air dengan penghuni lain.
Ketika pertama kali pindah ke indekosnya yang sekarang, ia merasa tidak cocok dengan air di sana. Bukannya merasa segar setelah mandi, malah merasa kulitnya kering.
“Rasanya tuh kayak habis renang,” katanya menjelaskan kondisi air di indekosnya. Dira menduga adanya campuran kaporit pada air karena beberapa kali ia mencium aroma kaporit saat mandi.
Menurut penuturan Yasmin, pemilik indekos Agatha, air di indekosnya menggunakan layanan Perumda Air Minum Tirta Sewakadarma. Sebelum itu, ia pernah menggunakan sumur bor. Namun, air yang keluar agak keruh, sehingga keluarganya memutuskan untuk menggunakan layanan PDAM saja.
Yasmin membenarkan aliran air yang kecil ketika jam-jam padat, seperti pukul 07:00 WITA hingga 08:00 WITA. “Kalau ibu ingatin (penghuni indekos), kalau memang mau kuliah pagi, agak subuhan dikit dinyalakan airnya atau malamnya sebelum tidur,” kata Yasmin.
Kebutuhan air di indekos milik Yasmin cukup tinggi. Per bulannya ia membayar tagihan air lebih dari Rp1 juta. Jumlah itu pun semakin bertambah ketika ada kebocoran air, misalnya ketika ada yang lupa mematikan air.
Jika dibandingkan dengan lingkungan lain di sekitar Jalan P.B. Sudirman, Dauh Puri, Kecamatan Denpasar Barat, Yasmin mengatakan air hanya mati di waktu-waktu tertentu, tidak sesering lingkungan lain.
Air biasanya mati dan kotor di musim hujan, terutama ketika air menggenang di wilayah tersebut. Pasalnya, kawasan indekos milik Yasmin dulunya adalah sawah. Seiring waktu, wilayah tersebut berganti menjadi pemukiman padat penduduk, sehingga area resapan hilang dipadati beton.
Sulitnya akses air tak hanya dirasakan di kawasan urban, tapi juga daerah sub urban. Desa Gunaksa di Kabupaten Klungkung mengalami sulitnya akses air. Padahal, lokasi Desa Gunaksa dekat dengan bukit dan aliran Sungai Telaga Waja, sungai terbesar kedua di Bali.
Tinggal puluhan tahun di Desa Gunaksa membuat Juni terbiasa dengan kebiasaan air mati di sana. Dari pengamatannya, air hanya mengalir setiap pukul 21:00 – 05:00 WITA. Setiap malam, salah satu anggota keluarganya berjaga untuk mengisi toren air hingga penuh.

Juni memperkirakan sulitnya akses air di Desa Gunaksa mulai dirasakan tahun 2000-an. Lokasi rumahnya yang berada di wilayah barat menggunakan air dari Perumda Air Minum Panca Mahottama.
Keanehan mulai terjadi ketika dirinya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Perumda Air Minum Panca Mahottama mulai menerapkan sistem air bergilir. Kadang, air bisa mati hingga dua hari. Namun, keesokan harinya air kembali mengalir sepanjang waktu.
Akhirnya, pada tahun 2018, keluarga Juni mulai menemukan pola air di rumahnya. Keluarganya pun membeli bak air besar untuk menyimpan air setiap malam. Bak air yang terbuka membuat air tertampung tidak serta merta bersih. Jika musim hujan, jentik nyamuk akan mengisi genangan air.

Saat itu, jatah air satu orang di keluarganya dibatasi satu ember. Pasalnya, bak hanya bisa menampung air dengan jumlah terbatas. Sementara, anggota keluarganya saat itu berjumlah delapan orang.
Juni masih ingat jelas ketika tahun 2020, saat Covid-19 melanda, air di rumahnya mati berhari-hari. Hari itu juga bertepatan dengan Nyepi yang dilaksanakan tiga hari. Semua anggota keluarganya ada di rumah, sedangkan air hanya tersisa sedikit. “Dicukup-cukupin aja waktu itu,” kata Juni.
Tahun 2024, keluarga Juni membeli toren air untuk diletakkan di atap rumah. Tiap malam salah satu anggota keluarganya begadang untuk mengisi toren air. Toren di rumahnya berukuran 650 liter, setidaknya perlu kurang lebih dua jam agar toren penuh.
Air yang mati pada jam tertentu menyebabkan Juni tidak leluasa melakukan pekerjaan rumah. Mencuci baju dan mengepel hanya bisa dilakukan malam hari. “Kalau nyuci, ngepel, cepat sih habis, jam 15:00 udah habis,” ujar Juni.
Siang itu pun pada Jumat, 9 Januari 2026, meteran air di rumahnya mati. Hal itu menandakan air Perumda Air Minum Panca Mahottama tidak mengalir.
Pada satu waktu, ketika air mati berhari-hari, keluarganya terpaksa mengambil air di pancuran air banjar sebelah. Lokasi pancuran air terdekat berada di Pura Taman Sari, Banjar Babung. Namun, saat ini hanya satu keran yang berfungsi di pancuran tersebut.

Ia lebih sering mengambil air di Pura Tirta Bima yang lokasinya dekat dengan Desa Besan. Ketika berkunjung ke Pura Tirta Bima, akses menuju sumber air cukup melelahkan. Puluhan anak tangga harus dinaiki, belum lagi kondisi tangga yang licin membuat masyarakat harus berhati-hati menaiki anak tangga.
Kondisi yang berlangsung bertahun-tahun tak lantas membuat PDAM Panca Mahottama berbenah. Juni dan sejumlah masyarakat sudah berulang kali mengadu di media sosial, tetapi aduan tersebut tak berbuah manis.
Jaringan pipa tua dan bencana
Kabupaten Klungkung terbagi menjadi dua wilayah berdasarkan letak geografisnya, yaitu daratan dan kepulauan. Rumah Juni berlokasi di Klungkung Daratan, sesuai peta wilayah Pulau Bali.
Di Klungkung daratan ada dua sumber air yang dimanfaatkan oleh Perumda Air Minum Panca Mahottama, yaitu Telaga Waja dan sumur bor. Sumber utama adalah Telaga Waja yang berlokasi di kaki Gunung Agung. Sumber air ini telah dimanfaatkan selama bertahun-tahun hingga terjadi erupsi Gunung Agung pada tahun 2016.
Pada saat terjadinya erupsi, Klungkung Daratan mengalami kesulitan akses air karena pemipaan yang terganggu akibat bencana. Sejak saat itu, Perumda Air Minum Panca Mahottama menambah sistem air dengan pemompaan sumur bor sedalam kurang lebih 70-75 meter.
Berdasarkan penuturan I Nyoman Renin Suyasa, Direktur Perumda Air Minum Panca Mahottama, aliran air di Desa Gunaksa bersumber dari sumur bor. Renin beralasan kendala air yang dialami Juni karena kapasitas air yang tidak seimbang dengan kepadatan penduduk. “Untuk mengatasi itu, program kita adalah akan kita connect sumber air dari Rendang (Telaga Waja) ke sana (Desa Gunaksa),” jelas Renin ketika ditemui di kantornya pada Rabu, 21 Januari 2026. Ia menyadari adanya air mati pada jam-jam tertentu, terutama ketika puncak pemakaian.
Hingga Januari 2026, Perumda Air Minum Panca Mahottama setidaknya melayani sekitar 15.000 pelanggan di Kabupaten Klungkung. Sumber air utama di Telaga Waja menggunakan sistem gravitasi, memungkinkan air mengalir tanpa pompa. Namun, bencana alam seperti banjir dan tanah longsor dapat merusak infrastruktur pipa pada sistem gravitasi, sehingga menyebabkan gangguan pasokan air.
Pada awal Januari 2026, kedua sistem milik Perumda Air Minum Panca Mahottama sempat bermasalah secara bersamaan. Pipa gravitasi putus akibat banjir, sedangkan pompa mengalami kerusakan akibat sambaran petir.
Kerentanan kerusakan pipa ditambah dengan usia jaringan pipa yang sudah tua. Bahkan, beberapa jaringan pipa di pusat Kota Semarapura, ibukota Kabupaten Klungkung, berasal dari zaman kolonial Belanda.
Jaringan pipa tua rentan mengalami kebocoran, sehingga tingkat kehilangan air tinggi. “Kalau jaringan itu tidak kita remajakan, kebocoran air itu pasti akan mengikuti. Nah, ini memerlukan pendanaan yang besar,” ungkap Renin. Selain peremajaan pipa, Renin juga mengungkapkan perlunya penggantian water meter pelanggan yang sudah usang untuk mengurangi tingkat kebocoran air.
Terlepas dari kendala penyaluran air, Renin optimis ketersediaan air bersih di Kabupaten Klungkung masih mencukupi kebutuhan penduduk dibandingkan kabupaten/kota lainnya di Bali.
Masalah serupa juga dialami oleh Perumda Air Minum Tirta Sewakadarma di Kota Denpasar. Dalam dokumen ketersediaan air bersih di Bali yang diterima dari Perumda Air Minum Tirta Sewakadarma, salah satu kendala distribusi air bersih di Kota Denpasar adalah umur teknis pipa di atas 30 tahun sepanjang 96,781 meter.
Selain itu, dua jaringan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang bersumber dari air sungai kerap mengalami kebocoran, yaitu SPAM Petanu dan SPAM Penet.
Produksi air Perumda Air Minum Tirta Sewakadarma mengandalkan tiga sumber, yaitu air permukaan dari Sungai Ayung, sumur air bor sebanyak 19 unit, dan kerja sama dengan pengaliran SPAM regional. Dalam produksi air bersih, ada sejumlah kendala yang dihadapi, terutama produksi melalui Sungai Ayung. Beberapa tahun terakhir, Sungai Ayung mengalami pendangkalan akibat sedimen. Selain itu, sungai terpanjang di Bali ini kerap mengalami kekeruhan di musim hujan.
Kualitas air dari sumur bor pun mengalami masalah. Pasalnya, kualitas Total Dissolved Solids (TDS) air bawah tanah masih di atas ambang batas. TDS merupakan jumlah zat padat terlarut dalam air, seperti garam mineral, logam, sisa bahan organik, dan senyawa kimia lainnya. Jika TDS air di atas ambang batas, artinya air terlalu banyak kandungan mineral. Akibatnya, rasa air menjadi lebih asin, pahit, dan tidak segar.
Berbanding terbalik dengan Perumda Air Minum Panca Mahottama, Perumda Air Minum Tirta Sewakadarma memproyeksi kapasitas air tidak bisa memenuhi kebutuhan air masyarakat Kota Denpasar.
Pada tahun 2025, kapasitas total yang dihasilkan oleh tiga sumber air bersih Perumda Air Minum Tirta Sewakadarma sebanyak 1.312,87 liter/detik. Jika tiga sumber tersebut menghasilkan kapasitas yang sama dalam lima tahun ke depan, masyarakat Kota Denpasar diproyeksi mengalami defisit air bersih. Pasalnya, kapasitas air yang tersedia tidak bisa memenuhi kebutuhan air mmasyarakat Kota Denpasar yang terus meningkat.
Proyeksi defisit air bersih
Data pelanggan air bersih kabupaten/kota di Bali menunjukkan adanya tren kenaikan pelanggan air bersih dari tahun 2017 hingga 2024. Dalam jangka waktu 7 tahun, pelanggan air bersih Kabupaten Badung mengalami lonjakan lima kali lipat, yaitu dari 15.130 pelanggan menjadi 80.792 pelanggan. Sementara itu, Kabupaten Buleleng yang menjadi wilayah paling luas di Bali mengalami kenaikan dua kali lipat, yaitu dari 46.121 pelanggan menjadi 83.724 pelanggan.
Kota Denpasar justru menunjukkan tren lain dibanding kabupaten lainnya. Pada tahun 2022 terjadi lonjakan jumlah pelanggan air bersih hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya, yaitu dari 89.126 pelanggan menjadi 181.941 pelanggan. Namun, pada tahun 2024, jumlah pelanggan justru mengalami penurunan menjadi 91.605 pelanggan.
Tren peningkatan pelanggan air bersih di tiap kabupaten/kota di Bali menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan air bersih di masyarakat. Sayangnya, kebutuhan air bersih masyarakat berpotensi tidak terpenuhi akibat terjadinya defisit air.
Pada tahun 2021, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (KLHK P3E) Bali dan Nusa Tenggara mengeluarkan dokumen Status Daya Dukung Air Pulau Bali. Dokumen ini menyatakan bahwa sejumlah wilayah di Bali akan mengalami defisit air bersih pada tahun 2025.
Secara hidrologis, Bali memiliki empat danau yang menjadi sumber air utama, yaitu Danau Beratan, Danau Buyan, Danau Tamblingan, dan Danau Batur. Selain danau, mata air di Bali berasal dari air sungai dan air tanah. Setidaknya ada 570 mata air di Bali dengan total debit air yang dikeluarkan mencapai 442,39 juta m3 per tahun. Mata air ini menjadi sumber air dari 315 buah sungai dengan panjang total 3.756 km. Dalam dokumen P3E Bali Nusra, tampungan air danau dan waduk di Bali saat itu mencapai 1,036 juta m3, digunakan untuk irigasi dan konsumsi penduduk. Sementara itu, potensi air tanah mencapai 8.000 juta m3.
Di Bali tercatat ada 401 batang sungai, 162 di antaranya bermuara di laut. Namun, hanya kurang dari 11% sungai yang memiliki debit aliran pada musim kemarau. Artinya, hanya 66 sungai yang berpotensi memenuhi ketersediaan air dari 401 batang sungai yang ada.

Dilihat dari terpasangnya infrastruktur jaringan sistem penyediaan air baku (SPAB), penelitian P3E Bali Nusra menemukan bahwa status air di Provinsi Bali pada tahun 2021 adalah surplus. Namun, pada tahun 2025 berpotensi mengalami defisit. Kondisi defisit air terjadi ketika kapasitas air tak mampu memenuhi kebutuhan air di Bali.

Penelitian di atas menemukan kebutuhan air di Bali meningkat dalam rentang waktu 4 tahun, dari 5951,92 liter/detik menjadi 7991,29 liter per detik. Sementara, sumber air yang tersedia dari infrastruktur hanya 6939,38 liter per detik. Kota Denpasar menjadi salah satu kabupaten yang diperkirakan mengalami defisit air. Berdasarkan data kecamatan, Kecamatan Dawan juga berpotensi mengalami defisit air.
Penelitian Analisis Daya Dukung Lingkungan Berdasarkan Ketersediaan dan Kebutuhan Air di Kabupaten Klungkung Provinsi Bali juga menunjukkan hasil yang sama. Pada tahun 2029, ketersediaan air permukaan dan air tanah di Kabupaten Klungkung diproyeksikan sebesar 299,78 juta m3/tahun, sedangkan kebutuhan air mencapai 399,72 juta m3/tahun. Angka tersebut menunjukkan bahwa Kabupaten Klungkung mengalami defisit sebesar 99,94 juta m3.
Klungkung bagian kepulauan, yaitu Kecamatan Nusa Penida diperkirakan masih surplus 76,75 juta m3. Sementara, wilayah daratan Klungkung, khususnya di Kecamatan Klungkung dan Kecamatan Dawan mengalami penurunan daya dukung air. Proyeksi tahun 2029 menunjukkan bahwa defisit air akan semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi dan kebutuhan air yang terus bertambah.
Sejak tahun 2014, Yayasan IDEP Selaras Alam melakukan penelitian bersama Politeknik Negeri Bali (PNB) terkait ketersediaan air bersih di Bali. Ada tiga masalah utama yang dipetakan melalui penelitian ini, yaitu turunnya muka air tanah, intrusi air laut, dan polusi air.
Penurunan muka air tanah paling banyak terjadi di Bali bagian selatan. Setidaknya muka air tanah mengalami penurunan hingga lebih dari 50 meter dalam waktu kurang dari 10 tahun. Air permukaan pun mengalami penurunan. Pada tahun 2012, Danau Buyan mengalami penurunan hingga 5 meter.
Pada tahun 2018-2019, PNB bersama Yayasan IDEP Selaras Alam menguji air di beberapa titik. Hasil pengujian terhadap kandungan klor dan kesadahan sampel air diambil dari sejumlah titik sumur yang tersebar di kabupaten/kota. Hasilnya menunjukkan bahwa kualitas air tidak memenuhi baku mutu sesuai dengan SK Menteri Kesehatan No. 907/MENKES/SK/VII/2002.
“Daerah-daerah dengan kategori Tidak Layak (TL) untuk hasil pengujian klor terdapat di Kabupaten Badung, Tabanan, Jembrana, Buleleng, dan Karangasem. Artinya di tempat-tempat tertentu di kelima kabupaten tersebut telah terjadi intrusi air laut,” ungkap Lilik Sudiajeng, salah satu peneliti PNB ketika dikonfirmasi melalui pesan singkat pada Jumat, 20 Januari 2026.
Lilik mengungkapkan terjadi perluasan intrusi air laut dalam waktu kurang dari 10 tahun. Dokumen Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) pada tahun 2010 belum melaporkan Kabupaten Tabanan dan Kabupaten Karangasem sebagai daerah terjadinya intrusi air laut. Namun, hasil pengujian pada tahun 2018-2019 menunjukkan bahwa kedua kabupaten tersebut telah mengalami intrusi air laut.
Menabung air hujan di wilayah hulu
Saat ini, sumber air bersih yang masih diandalkan dan banyak digunakan oleh masyarakat Bali adalah air tanah. Lilik mengungkapkan setidaknya 60% masyarakat Bali memanfaatkan air tanah sebagai sumber air bersih. Dampak yang terasa akibat pemanfaatan air tanah yang masif adalah intrusi air laut dan penurunan muka air tanah.
Dilihat dari kondisi iklimnya, Bali memiliki curah hujan yang cukup tinggi. Namun, pemanfaatan air hujan untuk mengisi kembali air tanah masih cukup rendah. Lilik menjelaskan ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk menjaga ketersediaan air bersih di Bali, yaitu memanen air hujan (rainwater harvesting), konservasi daerah resapan, pengendalian ekstraksi air tanah yang dapat dilakukan pemerintah, infrastruktur hijau, dan recharge buatan (artificial recharge).

Dalam mengurangi risiko krisis air bersih di Bali, Yayasan IDEP Selaras Alam merencanakan pembangunan sumur resapan di daerah resapan utama dan tambahan yang dapat memenuhi cadangan air. Hingga saat ini terdapat lebih dari 90 sumur resapan di beberapa wilayah, salah satunya di Desa Pinge.
Jika dilihat dari letak geografis Kabupaten Tabanan, Desa Pinge berada di hilir. Sementara, jika dilihat dari keseluruhan Bali, desa ini masih terbilang hulu.
Intensitas hujan di Desa Pinge tidak terlalu sering dibandingkan wilayah tetangganya, yaitu Kecamatan Baturiti. Meski terbilang dataran tinggi, Desa Pinge pernah mengalami banjir. Putra Arimbawa, warga Desa Pinge, masih ingat betul peristiwa banjir besar pada tahun 2023 silam.
Hari itu terjadi hujan lebat di Desa Angsri, Kecamatan Baturiti, yang lokasinya berada di atas Desa Pinge. Resapan tanah tak mampu menampung air hujan, akibatnya air mengalir deras ke hilir, tepatnya di Desa Pinge.
Air mengalir ke arah sungai menyebabkan tanggul jebol dan jalan utama tak bisa dilewati. Aliran air melewati Laduma Pinge, salah satu destinasi wisata Desa Pinge. Lokasinya berada di daerah turunan menuju sungai, sehingga air kerap kali melintas area tersebut hingga menggenang.

Sekitar satu tahun setelah peristiwa tersebut, Yayasan IDEP Selaras Alam membangun sumur resapan di Laduma Pinge. Arimbawa menjelaskan bahwa lokasi itu dipilih karena air kerap menggenangi area tersebut setiap hujan.
Sekilas, sumur tersebut tak terlihat karena ditutupi tanaman. Sumur berbentuk kotak memanjang dengan kedalaman 32 meter. Jika beton diangkat akan tampak pipa yang dibalut ijuk. Pipa tersebut berfungsi untuk mengalirkan air ke dalam tanah. Sementara, ijuk digunakan untuk mencegah masuknya kerikil dan kotoran ke dalam pipa.
Air masuk ke sumur resapan melalui dua cara, yaitu melalui permukaan dan talang air. Air yang masuk melalui permukaan melalui filtrasi yang berada di sekeliling sumur resapan. Filter air alami ini menggunakan beberapa lapisan, yaitu koral, pasir, ijuk, dan arang.


Sementara itu, beberapa air dari atas juga bisa masuk melalui talang air yang ada di sebelah sumur resapan. Air dari talang juga melalui filtrasi yang sama dengan air permukaan.
“Secara langsung kita memang tidak berdampak, tapi ini (sumur resapan) berguna untuk di hilir. Itu pun dampaknya jangka panjang,” jelas Arimbawa ketika ditemui di kediamannya pada Kamis, 8 Januari 2026. Sumur resapan berfungsi memanen air hujan hingga 41 m3/jam dengan cara meresapkan air ke dalam tanah. Fungsinya untuk mengisi kembali cadangan air bawah tanah.
Meski dampak krisis air di Desa Pinge belum dirasakan saat ini, Arimbawa berupaya menggunakan sumur resapan sebagai media edukasi untuk warga sekitar. Ia menyadari pasokan air bersih di Bali semakin berkurang, terutama air bawah tanah, sehingga perlu adanya upaya memasok air kembali.
“Setidaknya kita bisa berperan mengisi dahaga perut bumi. Jadi, adanya sumur resapan ini memang kita memasukkan (air) saja. Di situ air masuk langsung ke perut bumi biar bisa mengisi pori-pori yang di bawah, gitu harapannya,” terang Arimbawa.
Sumur resapan menjadi solusi sederhana untuk memasok kembali air tanah yang telah menipis. Sumur ini berfungsi maksimal jika dibuat di daerah lembab dan dataran tinggi yang memiliki intensitas hujan tinggi, seperti Desa Pinge. Fungsi sumur resapan kurang lebih sama dengan pohon yang menyimpan dan meresapkan air melalui akar-akarnya. Namun, sumur resapan dapat mengirim air lebih banyak dan lebih cepat, serta dapat mengurangi genangan/banjir.
Konservasi daerah aliran sungai
Pemandangan tak asing terlihat di Desa Pedawa, sebuah Desa Bali Aga yang berlokasi di Kabupaten Buleleng, ujung utara Pulau Bali. Seorang kakek tua berjalan kaki menggotong jeriken. Dengan langkah tegas ia melalui pepohonan rimbun dan rerumputan yang memanjang. Kakinya bertelanjang, sedangkan kancing kemejanya dibiarkan terbuka, membiarkan udara mendinginkan tubuhnya yang kelelahan.
Jalan setapak itu menghubungkan rumahnya dengan sumber air yang berada di bawah. Sehari sekali ia membawa jeriken kosong dari rumahnya untuk diisi air.
Tidak semua rumah di Desa Pedawa dialiri melalui pipanisasi. Beberapa rumah warga yang tak terjangkau pipa terpaksa mengambil air di sungai terdekat yang disebut yeh cacapan semer.
Meski begitu, Desa Pedawa kaya sumber air. Kajian Perkumpulan Wanayana Kayoman Pedawa (selanjutnya disebut Kayoman) bersama Profauna Foundation menemukan setidaknya 85 titik sumber air di Pedawa. Namun, hanya 10 persen sumber air yang mengalirkan air pada musim kemarau.

Melimpahnya sumber air di Pedawa seiring dengan praktik ritual masyarakat Hindu Desa Pedawa yang menggunakan tirta (air) dari berbagai mata air. Wayan Sadyana, salah satu pendiri komunitas Kayoman menjelaskan bahwa ada 33 jenis air yang digunakan dalam seluruh ritual di Desa Pedawa. “Baik untuk upacara Dewa Yadnya, kepentingan Pitra Yadnya, Manusa Yadnya, kemudian kepentingan Bhuta Yadnya,” kata Sadyana menjelaskan empat di antara lima upacara utama umat Hindu.

Hal ini menunjukkan esensi air bagi masyarakat Pedawa bukan sekadar pemenuhan kebutuhan ragawi dan fisik, tetapi juga dalam konsep spiritual keagamaan. Sayangnya, beberapa sumber air di Pedawa tidak selalu dialiri air, terutama pada musim kemarau.
Fenomena ini membuat Sadyana dan beberapa temannya menginisiasi tiga komunitas yang berperan dalam konservasi adat dan alam Desa Pedawa. Tiga komunitas itu di antaranya Kayoman, Sekolah Adat, dan Pondok Literasi Sabih. Ketiganya saling berhubungan dalam upaya konservasi air.
Sejak tahun 2016, Kayoman melakukan konservasi di sumber-sumber air dengan menanam tanaman endemik Pedawa. “Ada tanaman pikus, loa, beringin, bunut, dan semacamnya,” ujar Sadyana.

Reboisasi tanaman endemik dilakukan karena jenis tanaman di Pedawa mulai bergeser menjadi tanaman industri. Di beberapa lahan milik warga dapat dilihat pohon cengkeh berdiri di mana-mana. Bahkan, satu lahan bisa ditanami puluhan pohon cengkeh untuk menghasilkan uang.
Sebelum cengkeh masuk, masyarakat Pedawa lebih familiar dengan pohon aren. “Dulu kan aren itu menjadi sumber kehidupan orang Pedawa,” kata Sadyana. Sejak pohon aren berganti menjadi pohon cengkeh, krisis air pun mulai mengintai. Pasalnya, pohon cengkeh membutuhkan air yang cukup untuk tumbuh. Namun, prosesnya tidak sama seperti pohon aren yang dapat menyimpan air.

Langkah awal konservasi dilakukan dengan menanam bibit. Di setiap rumah anggota Kayoman setidaknya ada bibit tanaman yang sedang diuji coba, seperti rumah milik Kadek. Ada berbagai jenis tanaman di rumahnya. Ada yang sudah tumbuh tinggi, ada juga yang masih kecil. Bahkan, beberapa tanaman tampak layu.
Kadek menjelaskan bahwa proses tersebut merupakan uji coba untuk menentukan tanaman yang cocok di Pedawa. Kemudian, tanaman yang dapat tumbuh dengan baik akan dipindahkan ke daerah sumber air oleh Kayoman.

Upaya konservasi air tak berhenti hingga penanaman pohon saja. Melalui Sekolah Adat dan Pondok Literasi Sabih, Sadyana menularkan pengetahuan konservasi ke anak muda Pedawa.
Meskipun pembuatan sumur pemanen air hujan efektif di wilayah hulu, seperti Desa Pinge dan Desa Pedawa, wilayah hilir juga memegang peranan penting untuk menjaga ketersediaan air bersih di Bali. Wilayah hilir dapat menjaga ketersediaan air bersih dengan cara menjaga kebersihan dan kelestarian di sumber air, melakukan konservasi di daerah aliran sungai, mengurangi beton untuk memaksimalkan resapan air, dan membuat lubang resapan seperti biopori untuk meningkatkan daya serap air tanah.
sangkarbet sangkarbet










