• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Sunday, June 7, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Selain Sembahyang, Jangan Lupa Jaga Lingkungan

Ari Budiadnyana by Ari Budiadnyana
10 June 2011
in Berita Utama, Kabar Baru, Lingkungan, Opini
0
0
Pura Besakih
Bhakti kepada-Nya tidak hanya mencakupkan tangan dan mengucap doa. Foto Ari Budiadnyana.

Piodalan Betara Turun Kabeh di Pura Besakih telah lewat, yaitu tepat pada Purnama Kedasa beberapa bulan lalu.

Seperti sebelumnya, Pemedek yang tangkil pun sangat ramai. Seperti biasa jalanan pun macet. Menurut pengamatan saya, umat Hindhu khususnya di Bali sudah mulai semangat untuk tangkil ke pura terutamanya ke Pura Besakih ini saat Purnama Kedasa. Terutama kaum muda-mudi yang sangat dominan di antara pemedek. Kalau dulu hanya terlihat saat rombongan sekolah.

Meningkatnya semangat nangkil ke pura apakah ini berarti semakin meningkatnya Sradha dan Bhakti ke pada Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa)? Saya rasa tidak perlu dijawab, hanya masing-masing individu yang bisa merasakannya.

Namun, sepertinya pemahaman terhadap bhakti kepada-Nya masih sebatas mencakupkan tangan, mengucapkan doa, menghaturkan banten/canang. Kenapa begitu? Lihat saja , terutama di Penataran Agung Pura Besakih, yang merupakan tempat paling utama dalam memuja-Nya. Sampah-sampah bekas canang (sarana sembahyang) masih banyak berserakan. Pemedek yang tangkil kadang dengan seenaknya saja membiarkan bekas canang yang digunakannya.

Padahal saya rasa bekas sarana sembahyang ini tidaklah berat, tidaklah susah dibawa. Bahkan hampir semua membawa kantong plastik yang bisa digunakan untuk memungut bekas sarana sembahyang. Kadang sampai sedikit miris mendengar , pengempon atau panitia melalui microphone (corong TOA) berkali-kali mengingatkan agar bekas sarana sembahyang dibuang ke tempat sampah yang memang sudah banyak disediakan di area Penataran Agung Pura Besakih.

“Jangankan disuruh mengambil sampah orang lain, disuruh ambil yang punyanya sendiri saja susah sekali,” ujar salah seorang Panitia yang bertugas.

Memang sih, sampah ini sebagian besar adalah sampah non plastik, sampah organik dari janur, bunga, dan sejenisnya. Cuma kan tetap saja area persembahyangannya menjadi kotor. Sedikit tidaknya mengurangi kesucian area persembahyangan. Suci juga berarti bersih, tapi entahlah mungkin suci sebatas fisik pribadi dan perasaan.
sampahSaat itu juga saya menemui seseorang dengan pakaian putih-putih di sebelah saya. Dia dengan sangat khusuk sembahyang. Namun, dia juga sedikit terlihat sedikit overact yang ingin menunjukkan kalau dia benar-benar khusyuk dalam sembahyang dan seperti terlihat memiliki tingkat spiritual tinggi.

Okelah itu terserah cara dia sembahyang, tidak perlu diperdebatkan. Namun apa yang terjadi setelah persembahyangan selesai. Bapak itu dengan santainya saja membiarkan bekas sarana sembahyangnya tergeletak di lantai. Tidak ada keinginannya untuk membuangnya ke tempat sampah yang memang cuma beberapa langkah.

Sedikit tidaknya menjadi Ironi juga. Di mana seiring meningkatnya animo umat untuk tangkil mebakti ke pura, namun juga diikuti dengan semakin kotornya area persembahyangan. Apakah tidak kasihan dengan area persembahyangan yang seharusnya suci lahir dan bathin? Apakah kita tidak kasihan dengan petugas-petugas kebersihan yang selalu membersihkan sampah yang cukup banyak?

Saya serahkan untuk anda menjawabnya.

Nah kalau kamu bagaimana Pak Bogel?? Kalau saya, hmmmm bukan berarti saya ingin menunjukkan bahwa saya care/peduli dengan kebersihan, tapi setiap habis sembahyang terutama di Pura, saya selalu mengusahakan untuk membuang bekas sarana sembahyang saya ke tempat sampah yang disediakan. Kalau dahulu sebelum-sebelumnya, saya sih memang tidak terlalu peduli dengan sampah yang saya hasilkan.

Beruntung saya bekerja di media yang cukup peduli dengan alam. Dengan mempopulerkan gerakan ngayah dan bersih-bersih ramai-ramai pada saat Karya Panca Bali Krama beberapa tahun lalu, saya tergugah hati untuk selalu berusaha membuang sampah bekas sarana sembahyang saya ke tempat sampah. Strobiz, alay, najiz, sok suci ???? What ever, itu terserah penilaian anda.

Melalui tulisan singkat ini sih, saya kepengen mengajak pengunjung/pembaca blog ini untuk setidaknya tergugah dan membiasakan diri untuk menjaga lingkungan, menjaga kebersihan yang dimulai dari hal-hal kecil di sekitar kita seperti cerita saya di atas. Janganlah cuma berkoar-koar, “AYO JAGA LINGKUNGAN DAN ALAM, STOP PENEBANGAN, STOP PERUSAKAN HUTAN, STOP INI STOP ITU” tapi saat disuruh atau diminta membuang sampah bekas sarana sembahyang saja sulit.

IRONI????? Yah that’s rite. Rasa Bhakti kepada Tuhan tidak hanya mencakupkan tangan dan mengucapkan doa, tapi lebih dari itu, rasa Bhakti juga bisa ditunjukkan dengan menjaga alam ini tetap bersih, apalagi kebersihan di tempat suci di area persembahayangan pura. [b]

Tags: BaliBudayaOpiniSampah
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Ari Budiadnyana

Ari Budiadnyana

just broadcast ur self

Related Posts

Abrasi yang tak Pernah Henti di Pantai Kuta

Hilangnya Pesisir Bali: Memahami Akar Krisis Abrasi dan Jalan Keluarnya

4 June 2026
Mai Memunyi!

Mai Memunyi!

30 May 2026
Melali Cokelat dan Sastra di Bali Barat

Bali Hari Ini: Mana Desa, Mana Kota?

29 May 2026
Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

26 May 2026
Pemberdayaan Lalai, Kekayaan Bahari Serangan pun Terkulai

Reklamasi Serangan: Elit Parpol Pecah, Media Terbelah, Masyarakat Tetap Susah

25 May 2026
Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
Next Post
Mimpi Harmoni Arsitektur Modern Sejalan Tradisi

Mimpi Harmoni Arsitektur Modern Sejalan Tradisi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Sampah tak Selalu Menjadi Musibah

Sampah tak Selalu Menjadi Musibah

5 June 2026
Botol Kaca Menumpuk karena Nilai Ekonominya Rendah, Tanggung Jawab Produsen Minim

Botol Kaca Menumpuk karena Nilai Ekonominya Rendah, Tanggung Jawab Produsen Minim

5 June 2026
Gerakan Masa Subur 25 Seniman Perempuan

“Perang Gender”: Halusinasi di Era Matinya Kepakaran untuk Membungkam Analisis Gender Struktural

5 June 2026

Pengetahuan Pangan Lokal Dijaga Bersama, Tak Hanya oleh Petani

4 June 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia