• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, July 6, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Orang Buang, Kami Kasih Uang

Astarini Ditha by Astarini Ditha
31 March 2011
in Kabar Baru, Lingkungan
0
4

Teks dan Foto Astarini Ditha

Di gudang mirip tempat penyimpanan, beberapa orang datang membawa beberapa bungkus tas plastik.

Di dalamnya, setelah dibuka, terlihat banyak perkakas bekas aktivitas di bengkel. Lelaki lainnya membawa botol-botol plastik. “Botol aki,” ujar salah satu lelaki itu. Barang-barang itu ditimbang. Sambil sesekali Pak Ada menoleh dan berkata pada perempuan yang tampak berkonsentrasi dengan kalkulator dan buku catatan. “Tujuh kilo,” kata Pak Ada sedikit berseru. Setelah menghitung perempuan itu menyodorkan beberapa uang.

Orang buang di sini, kita kasih uang. Begitu, Pak Ada lelaki baya itu merespon perihal “transaksi” di sebelah rumahnya. Plang bertuliskan Bank Sampah Berbasis Masyarakat itu terpancang di depan. “Di Denpasar, baru ada tiga Bank Sampah. Di Denpasar Selatan, Denpasar Barat, dan Denpasar Timur,” urai Made Bagiada sang pengelola Bank Sampah di Jalan Noja, Denpasar Timur.

Bank Sampah ini mulai diresmikan pemerintah pada 26 Sepetember 2010 lalu. “Walikota Denpasar, Rai Mantra, ketika itu tengah berupaya bagaimana agar pengelolaan sampah ini juga melibatkan masyarakat,” urai Made Bagiada. Tuturnya, Bagiada juga teman dekat Rai Mantra ketika itu sempat ada perbincangan soal “menyederajatkan” sampah.

Usaha mengumpulkan sampah ini cerita Pak Ada, ayah Made Bagiada, telah mereka mulai 13 tahun lalu. “Waktu itu kita yang mencari ke rumah-rumah, barang-barang yang tidak layak dipakai,” ujarnya. Barang-barang itu dikumpulkan lalu dijual dikirim ke Jawa.

“Sopirnya banyak yang kencing di jalan,” sahutnya. Ini idiom untuk bahwa ketika barang dikirim ketika sampai tempat penjualan sudah berkurang.

Tapi kini sebaliknya. Justru sebagian besar masyarakat datang langsung. “Ketimbang dibeli tukang loak atau pemulung yang bayar sedikit lebih murah, sekitar Rp 300. Mereka sudah tahu,” jelas Pak Ada. Bengkel dan toko-toko swalayan di antaranya pelanggan yang sering “menabung”.

Kertas sekilonya dihargai Rp 1.000, kardus Rp 1.300, besi Rp 3.500, dan plastik bervariasi. Karena untuk sekilonya dihargai cukup murah, uang-uang pembelian masyarakat bisa ditabung. Diakumulasi, nanti ketika dirasa sudah banyak, biasanya mereka akan meminta. “Karena itu namanya bank,” tegas Pak Ada.

Made Bagiada juga kerap melakukan sosialisasi di sekolah-sekolah. “Sasarannya biasanya tingkat SD dan SMP,” ujar Bagiada.

Tambahnya, tidak hanya direspon saja anak-anak pelajar itu langsung menerapkannya. “Anak-anak SMP itu dalam seminggu bisa menghasilkan Rp 200.000. Sedangkan anak-anak SD sekitar Rp 70.000 seminggu,” urainya. Pengelolaan sampah di kalangan SMP biasanya dikoordinir oleh OSIS masing-masing.

Sampah-sampah yang terkumpul di sini, biasanya dicari langsung oleh para pembeli dari Jawa. “Kardus-kardus, botol-botol itu,” tunjuk Pak Ada ke tumpukan kardus dan botol.

Tidak cuma “memajang” sampah, di area sebelah barat rumah juga ada sampah lainnya. Sampah ini disulap jadi beragam pernak-pernik unik. Misalnya lampu, tempat tisu, pajangan berupa motor-motoran macam bentuk vespa dan harley, dan sebagainya.

Di dapur kerja, ada onggokan kertas-kertas duplex bekas tempat menyimpan dokumen dan potongan-potongan plat bekas alat ampere dan sejenisnya.

Dodi, salah satu karyawan di sana menuturkan debut pameran kerajinan mereka dimulai di Festival Serangan. Setelahnya mereka ikut di pameran Bali Creative Festival di Art Centre. “Di sana lumayan banyak konsumen yang membeli pajangan berbentuk motor-motor ini,” jelasnya. Harga-harga motor ini bervariasi dari Rp 60.000 hingga ratusan ribu, tergantung kerumitan pembuatan.

Di tangan mereka, sampah yang dibuang itu bisa menjadi uang. [b]

Tags: DenpasarEkonomiEkonomi KerakyatanSampah
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Astarini Ditha

Astarini Ditha

Related Posts

Dari Kebun hingga Pasar, Menyusuri Rantai Ekonomi Galungan di Bali

19 June 2026
Siapa yang Peduli Hilangnya Mataair dan Bulakan di Kota Denpasar?

Siapa yang Peduli Hilangnya Mataair dan Bulakan di Kota Denpasar?

11 June 2026
Mai Memunyi!

Mai Memunyi!

30 May 2026
Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

26 May 2026
Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

15 May 2026
Next Post
Seksualitas sebagai Ekspresi Tanpa Batas

Seksualitas sebagai Ekspresi Tanpa Batas

Comments 4

  1. admin BBB says:
    15 years ago

    Om Suastiastu,

    Hampir mirip yang kami lakukan di BBB, bila ada semeton Bali ada barng bekas yang layak jual, bisa kunjungi kami.

    Suksma,

    Reply
  2. Dwi Suriantini says:
    14 years ago

    Om Swastiastu…
    Kalau boleh saya tau, alamat Bank Sampah di Denpasar ini dimana saja ya? Karena saya ingin menjual kertas” bekas, sampah plastik, dan botol – botol untuk membantu pendanaan kegiatan OSIS di sekolah. Suksma.

    Om Santih, Santih, Santih Om

    Reply
    • Kadek says:
      10 years ago

      Kalo ingin menjual barang barang bekas yg ada skitaran klungkung ke sya aja,,,

      Reply
  3. sinta says:
    13 years ago

    kami dari UPT.Puskesmas Klungkung I,kami sangat tertarik dengan program ini jika kami ingin belajar mengenai pengelolan dan management Bank sampah, bagaimana cara kami untuk belajar , mohon informasinya

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Ratusan Titik di Bali Alami Bencana

Kota Makin Padat dan Tanah yang Kian Sulit Dijangkau

6 July 2026
Memperjelas Persepsi Risiko Berwisata ke Bali

Rahasia di Bawah Gunung Agung: Ketika Batu Lava Membongkar Identitas Asli Pulau Bali

6 July 2026
Penganugerahan Olimpiade Jurnalis Muda Pertama di Indonesia di AJW 2026

Penganugerahan Olimpiade Jurnalis Muda Pertama di Indonesia di AJW 2026

5 July 2026
Romantisme Pulang: Kisah Kelam 1965 yang Tersensor

Romantisme Pulang: Kisah Kelam 1965 yang Tersensor

4 July 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia