
Saat menulis ini, saya sedang duduk di tepi Pantai Sanur, diiringi alunan lagu Biru karya Banda Neira:
“Langit dan laut dan hal-hal yang tak kita bicarakan, biar jadi rahasia menyublim ke udara.”
Lirik itu seolah menuntun untuk melepaskan apa yang tak terucapkan agar menguap bersama angin. Namun sore itu, angin pantai justru membawa rasa yang berlawanan. Beberapa memori singgah, memengaruhi cara saya meresapi suasana. Ada kepuasan tersendiri ketika sesuatu yang coba saya pahami justru tak bermuara pada puncak pemahaman yang mutlak; ia dibiarkan mengambang bebas, merayap lembut dan memainkan perannya di sudut-sudut benak.
Begitulah kira-kira rasanya ketika menyaksikan sebuah film pendek. Ceritanya hadir dengan minim penjelasan, setiap nada dan rekaan suara dirancang dengan presisi untuk membangun lanskap suasana. Sementara, gambar-gambar visual disajikan untuk ditafsirkan secara personal oleh siapa pun yang menangkapnya melalui mata.
Seakan-akan, pesan dalam karya itu hanya disampaikan sebagian oleh sang sutradara, sedangkan sebagian sisanya diserahkan sepenuhnya kepada kita. Kitalah yang menentukan bagaimana akan menaruh dan mengendapkan pengetahuan tersebut di dalam diri serta perjalanan hidup ini. Dan justru karena sebagian ruang pemaknaannya diserahkan kepada saya, pesan tersebut dapat hinggap dengan jauh lebih baik.
Setidaknya, itulah yang saya rasakan usai mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan jajaran film di festival Minikino Film Week, tepatnya pada sesi General Screening 15 September 2026. Salah satu program yang melekat begitu kuat di dalam pikiran saya adalah seri yang berjudul Our Planet. Tak pernah terbayang sebelumnya, hati dan nurani saya akan diketuk sesegar ini untuk meninjau serta memahami ulang berbagai isu ekologis yang selama ini perlahan menggerogoti bumi tempat kita berpijak.
Hari itu, ruang pemutaran tampak ramai oleh para pengunjung. Ada yang memang sengaja datang dari awal, dan ada pula yang sekadar singgah sejenak karena tertarik melihat antusiasme penonton lain yang tampak begitu serius menyimak layar. Sangat menyenangkan pula melihat kehadiran seorang anak kecil bersama ibunya yang duduk dengan tenang, terlihat begitu asyik menikmati tiap bingkai cerita yang disajikan. Ruang yang biasanya sering saya kunjungi bersama teman-teman untuk sekadar berkumpul, hari itu mendadak bertransformasi menjadi sebuah tempat di mana saya belajar banyak hal, baik tentang realitas di luar sana maupun tentang cara saya memahaminya.
Di sela jeda pemutaran film, rasa penasaran membawa saya untuk menyapa salah satu penonton yang terlihat setia duduk di kursinya bahkan sebelum acara dimulai. Saya menanyakan pandangannya mengenai perbedaan mendasar antara pengalaman menikmati film pendek dan film berdurasi panjang.
“Untuk short movie itu, kalau dari aku pribadi, kita merasa jauh lebih dekat. Kita seperti dilatih untuk membaca film secara lebih dalam. Jadi seru aja, kita diajak menerka-nerka dalam waktu yang sesingkat-singkatnya,” jelas Momo dari Sinema Akhir Tahun ISI Surakarta.
Ini merupakan pengalaman pertama kalinya saya hadir secara langsung di Minikino Film Week, setelah bertahun-tahun sebelumnya hanya mendengar gaungnya dari jauh. Kini, makna yang saya genggam erat tentang festival ini adalah sebuah ruang bertumbuh; tempat di mana kita bisa belajar tentang begitu banyak isu serta suara kemanusiaan yang diperjuangkan oleh para seniman film sesuai dengan minat dan keresahan mereka masing-masing. Hanya dengan satu kali duduk, saya mendapatkan begitu banyak pengingat tentang jejak-jejak yang telah kita sebagai manusia ciptakan di atas tanah bumi ini. Dan bagaimanapun, film akan selalu menjadi cara favorit saya untuk mendengarkan sebuah cerita.
Semoga ruang dan kesempatan indah ini akan selalu ada di tahun-tahun berikutnya, agar kita dapat kembali melangkah dan merayakan cerita di festival ini!









