• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, September 12, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

IDRiM 2026 Bahas Bencana Dunia: Bali Cuma Tuan Rumah atau Ikut Cari Solusi?

Oka Agastya by Oka Agastya
12 September 2026
in Kabar Baru, Opini, Teknologi
0
0

Coba bayangin: setahun lalu, tepat pada 10 September, Bali baru saja “tenggelam”. Air bah menerjang sejumlah wilayah, sungai meluap, jalan berubah menjadi aliran air, rumah dan fasilitas publik terdampak, sementara puluhan orang menjadi korban. Sekarang, tepat setahun kemudian, ratusan peneliti dari berbagai negara justru berkumpul di Bali untuk membicarakan bagaimana manusia menghadapi bencana. Kedengarannya ironis? Memang. Tapi justru di situlah menariknya.

Konferensi ke-16 Integrated Disaster Risk Management (IDRiM) 2026 digelar di Bali sejak awal September, dituanrumahi Resilience Development Initiative (RDI) bersama Institut Teknologi Bandung (ITB), dengan tema besar tentang bagaimana kota dan masyarakat membangun ketangguhan menghadapi krisis dan multi-bencana (PreventionWeb, 2026). Sesi inti berlangsung pada 7–9 September dan ditutup dengan field trip ke sejumlah lokasi di Bali pada 10 September, salah satunya Geopark Batur di Kintamani.

Tanggal penutupnya terasa simbolis: persis satu tahun setelah banjir besar yang melanda Bali. Bagi dunia akademik, mungkin ini sekadar kebetulan kalender. Tetapi bagi Bali, mestinya tanggal tersebut menjadi pengingat bahwa bencana bukan sekadar topik konferensi. Bencana adalah sesuatu yang benar-benar terjadi dan meninggalkan korban, kerugian, trauma, serta pekerjaan rumah yang panjang.

Photo salah satu sesi panel di 16th IDRiM 2026 yang dilakasanakan di Politenik Pariwisata Bali.

Pada malam 9 September hingga pagi 10 September 2025, hujan turun nyaris tanpa jeda. BMKG mencatat curah hujan di sejumlah wilayah mencapai sekitar 200–385 mm dalam sehari, masuk kategori ekstrem (Mongabay Indonesia, 2025). Sungai-sungai besar seperti Tukad Ayung dan Tukad Badung meluap. BPBD Bali mencatat lebih dari 350 titik genangan dalam beberapa hari, dengan Denpasar menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak paling berat (BPBD Bali, 2025). Jumlah korban jiwa pun berubah seiring proses pendataan, hingga akhirnya dilaporkan 18 orang meninggal dunia dan empat orang masih hilang (Antara News, 2025).

Tetapi kalau kita berhenti pada angka curah hujan dan jumlah korban, kita kehilangan bagian penting dari ceritanya. Banjir tidak pernah hanya tentang hujan. Di Denpasar, luas lahan terbangun meningkat dari sekitar 30 persen pada 1994 menjadi sekitar 70 persen pada 2024 (Mongabay Indonesia, 2025). Ruang terbuka semakin terdesak, sempadan sungai berubah menjadi kawasan permukiman dan usaha, sementara persoalan sampah dan sedimentasi ikut memengaruhi kapasitas drainase dan sungai. Banjir 2025 karena itu merupakan pertemuan antara bahaya hidrometeorologi ekstrem dengan kerentanan yang dibentuk oleh manusia. Hujan ekstrem menjadi pemicu, tetapi besarnya dampak ditentukan oleh bagaimana kita membangun kota, menjaga sungai, mengelola ruang, dan mempersiapkan masyarakat.

Di sinilah pertanyaan tentang manajemen bencana menjadi penting. Bukan lagi sekadar “seberapa ekstrem hujannya?”, tetapi “seberapa siap Bali ketika hujan ekstrem berikutnya datang?”. Selama ini pengelolaan bencana sering kali baru bergerak setelah kejadian: setelah banjir kita bicara normalisasi sungai, setelah longsor memperbaiki jalan, setelah erupsi memperbarui jalur evakuasi. Semua penting, tetapi manajemen bencana tidak seharusnya berhenti pada respons dan pemulihan. Mitigasi dan kesiapsiagaan harus bekerja jauh sebelum bencana terjadi.

Kesiapsiagaan berarti memastikan bahwa ketika peringatan dini dikeluarkan, masyarakat tahu apa artinya dan tahu harus bergerak ke mana. Jalur evakuasi harus benar-benar bisa digunakan, tempat pengungsian harus siap, kelompok rentan harus diperhitungkan, dan sekolah, rumah sakit, hotel, desa adat, pelaku usaha serta masyarakat harus memiliki prosedur yang jelas. Bagi Bali, aspek ini semakin penting karena risiko yang dihadapi tidak tunggal.

Gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, longsor, banjir, kekeringan, kebakaran, dan perubahan iklim dapat saling berkelindan. Bahkan satu bencana dapat memicu gangguan pada sektor lain. Banjir dapat memutus jalan, mengganggu listrik, merusak fasilitas kesehatan dan menghambat aktivitas pariwisata. Inilah karakter compound risk yang perlu semakin serius dibaca dalam manajemen bencana Bali.

Di tengah persoalan tersebut, IDRiM 2026 hadir dengan skala cukup besar. Dari penelusuran Buku Abstrak resmi, terdapat sekitar 418 paper yang dipresentasikan melalui sesi oral dan poster, ditambah 32 sesi khusus berupa panel dan lokakarya. Namun dari ratusan paper tersebut, hanya sekitar 13 yang secara eksplisit menjadikan Bali sebagai studi kasus, sementara sekitar 74 membahas Indonesia secara umum. Angka tersebut tentu tidak berarti konferensinya gagal. Tetapi ia menarik untuk direnungkan. Ketika dunia datang ke Bali untuk membicarakan pengurangan risiko bencana yang teritegrasi (integrated disaster risk management), Bali seharusnya tidak hanya menjadi lokasi konferensi. Bali mestinya menjadi laboratorium hidup untuk menguji bagaimana pengetahuan tentang risiko diterjemahkan menjadi kebijakan, kesiapsiagaan dan tindakan.

Masalahnya kemudian bukan hanya jumlah penelitian, tetapi bagaimana pengetahuan tersebut terhubung. Ada penelitian tentang geologi dan struktur bawah permukaan kompleks vulkanik Agung–Batur, ada kajian tentang banjir Bali Selatan, tata ruang dan tekanan pembangunan pariwisata, serta penelitian mengenai dimensi sosial-budaya dan ketangguhan destinasi. Semuanya penting, tetapi sering bekerja dalam ruang masing-masing. Geolog berbicara tentang magma, perencana kota tentang tata ruang, ahli lingkungan tentang DAS, peneliti pariwisata tentang wisatawan, dan praktisi kebencanaan tentang evakuasi. Sementara masyarakat menghadapi semuanya sekaligus. Risiko Bali justru berada di titik pertemuan tersebut.

Salah satu contoh menarik datang dari Batur melalui sesi “Activating Social Memory: The Batur Benchmark and the Crossroad Game”. Sesi yang digagas peneliti Kyoto University bersama U-INSPIRE Indonesia dan komunitas Lingkar Studi Batur ini mengangkat cerita Rarud Batur, relokasi Desa Batur Kuno pada 1926 setelah letusan besar Gunung Batur. Kisah tersebut mengingatkan bahwa ketangguhan bukan hanya soal infrastruktur dan teknologi, tetapi juga memori sosial. Pengetahuan tentang bagaimana masyarakat menghadapi bencana, mengambil keputusan dan beradaptasi merupakan modal penting dalam kesiapsiagaan.

Photo sesi spesial berjudul Activating Social Memory: The Batur Benchmark and the Crossroad Game.

Tidak mengherankan jika field trip IDRiM kemudian membawa peserta ke Geopark Batur. Kawasan ini mempertemukan geologi, ekosistem, pertanian, air, budaya dan pariwisata dalam satu lanskap. Karena itu Batur bukan sekadar destinasi geowisata, tetapi juga laboratorium nyata manajemen risiko.

Bagaimana jika erupsi terjadi ketika ribuan wisatawan berada di kawasan tersebut? Bagaimana peringatan dini diterima wisatawan? Siapa yang memimpin evakuasi? Apakah jalur evakuasi benar-benar berfungsi? Bagaimana pemerintah, desa adat, masyarakat dan pelaku pariwisata bekerja bersama? Dan bagaimana jika erupsi bertepatan dengan hujan ekstrem, longsor atau gangguan akses?

Di situlah makna integrated disaster risk management sebenarnya diuji. Integrasi bukan sekadar mempertemukan banyak disiplin dalam satu konferensi, tetapi memastikan pengetahuan geologi, hidrologi, tata ruang, sosial-budaya, pariwisata, kesehatan, komunikasi risiko dan manajemen kedaruratan bertemu dalam satu sistem yang dapat bekerja ketika krisis terjadi.

Setahun lalu, air bah menguji Bali. Tahun ini, para ilmuwan datang membicarakan ketangguhan. Keduanya sebenarnya adalah satu cerita. Bali tidak kekurangan bencana, dan Bali juga tidak kekurangan pengetahuan tentang bencana. Yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah mengubah pengetahuan menjadi keputusan, keputusan menjadi kesiapsiagaan, dan kesiapsiagaan menjadi budaya keselamatan.

Photo penyampaian materi oleh pakar kebencanaan di ITB berkaitan dengan metode asemen bencana multi ancaman yang ada di Provinsi Bali.

Karena itu, IDRiM 2026 seharusnya tidak berakhir ketika para peneliti meninggalkan Bali. Justru di situlah pekerjaan sebenarnya dimulai. Apakah hasil riset masuk ke kebijakan? Apakah desa memperkuat kesiapsiagaan? Apakah sekolah berlatih? Apakah hotel dan pelaku pariwisata siap menyelamatkan tamunya? Apakah masyarakat memahami peringatan dini? Dan apakah tata ruang benar-benar berubah setelah kita belajar dari banjir?

Banjir akan surut. Para peneliti akan terbang pulang. Tetapi warga Bali tetap tinggal bersama gunung api, laut, sungai, hujan ekstrem, kekeringan, gempa dan tekanan pembangunan yang terus bergerak. Bali sudah terlalu sering menjadi panggung bagi dunia untuk membicarakan ketangguhan. Sekarang waktunya Bali menjadi pelaku utama dalam membangun ketangguhannya sendiri. Bukan hanya lebih tangguh setelah bencana terjadi, tetapi lebih siap sebelum bencana datang.


Referensi

  1. Wikipedia bahasa Indonesia. (2025). Banjir Bali 2025. https://id.wikipedia.org/wiki/Banjir_Bali_2025
  2. Tarubali. (2025). Analisis dan Strategi Pengurangan Risiko Bencana Pasca Banjir Bali 10 September 2025. https://tarubali.baliprov.go.id/
  3. Tarubali. (2025). Refleksi Pasca Banjir Bali 10 September 2025. https://tarubali.baliprov.go.id/
  4. Tarubali. (2025). Taman Bumi (Geopark) Batur: Integrasi Geologi, Ekologi, dan Budaya untuk Pembangunan Berkelanjutan Bali. https://tarubali.baliprov.go.id/
  5. BPBD Provinsi Bali. (2025). Update Informasi Kejadian Bencana pada 10 September 2025. https://bpbd.baliprov.go.id/
  6. Antara News. (2025). Penyebab & Dampak Banjir Ekstrem di Denpasar Bali 10 September 2025. https://www.antaranews.com/
  7. Mongabay Indonesia. (2025). Lingkungan Rusak dan Alih Fungsi Lahan Perparah Dampak Banjir Bali. https://mongabay.co.id/
  8. Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH RI. (2025). Peringatan Serius dari Krisis DAS Ayung. https://kemenlh.go.id/
  9. PreventionWeb. (2026). 16th IDRiM Conference 2026. https://www.preventionweb.net/
  10. IIASA. (2026). IIASA at IDRiM 2026 in Bali. https://iiasa.ac.at/
  11. Resilience Development Initiative (RDI). (2026). IDRiM 2026. https://rdiglobal.org/idrim2026
  12. Panitia IDRiM 2026. (2026). Book of Abstracts — 16th IDRiM Conference 2026.
  13. Kementerian ESDM RI. (2012). UNESCO Tetapkan Kaldera Gunung Batur Sebagai Kawasan Geopark. https://www.esdm.go.id/
  14. UNESCO. (2026). Batur UNESCO Global Geopark. https://www.unesco.org/en/iggp/batur-unesco-global-geopark
  15. Global Network of National Geoparks. (2026). Batur UNESCO Global Geopark. http://www.globalgeopark.org/
Tags: BaliBencanaglobalketangguhanLingkunganPengurangan risiko bencana
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Oka Agastya

Oka Agastya

Seorang pencerita bumi dan praktisi manajemen bencana

Related Posts

Refleksi Gempa Flores: Sudahkah Bali Siap Menghadapi Ancaman Gempabumi?

Refleksi Gempa Flores: Sudahkah Bali Siap Menghadapi Ancaman Gempabumi?

29 August 2026
Understanding the “Sulfur Burst” Phenomenon in Lake Batur and its Root Causes

Understanding the “Sulfur Burst” Phenomenon in Lake Batur and its Root Causes

12 August 2026
Jejak Gunung Api Bawah Laut: Menelusuri Lava Bantal Ponjok Batu, Kisah Geologi di Bali Utara

Jejak Gunung Api Bawah Laut: Menelusuri Lava Bantal Ponjok Batu, Kisah Geologi di Bali Utara

12 August 2026

Mengenal Trend Asia, Penggerak Advokasi Energi dan Lingkungan

27 July 2026
Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

26 July 2026
Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

20 July 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

IDRiM 2026 Bahas Bencana Dunia: Bali Cuma Tuan Rumah atau Ikut Cari Solusi?

IDRiM 2026 Bahas Bencana Dunia: Bali Cuma Tuan Rumah atau Ikut Cari Solusi?

12 September 2026
Proyek Gas dalam Mimpi Bali Mandiri Energi

Proyek Gas dalam Mimpi Bali Mandiri Energi

11 September 2026
Memedi dan Ekologi, Setetes Air yang Terus Dijaga di Pedawa

Memedi dan Ekologi, Setetes Air yang Terus Dijaga di Pedawa

11 September 2026
Megaproyek Bali Barat dan Utara: Beberapa Sempat Lenyap, Lalu Muncul Lagi

Megaproyek Bali Barat dan Utara: Beberapa Sempat Lenyap, Lalu Muncul Lagi

10 September 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia