
Tak jauh dari pusat Kota Bangli, ada satu desa yang dikenal dengan pertaniannya. Desa Tamanbali, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, berlokasi di sebelah selatan Kota Bangli. Luas wilayahnya mencapai 657 hektare.
Memasuki Desa Tamanbali, mata dimanjakan dengan hamparan sawah yang tumbuh subur. Hari itu, Sabtu, 8 Agustus 2026, padi masih hijau-hijaunya, belum siap dipanen. Padi tumbuh dengan baik, mengingat saluran irigasi di subak wilayah Desa Tamanbali masih terjaga dengan baik.
Desa Tamanbali memiliki enam desa adat, yaitu Desa Adat Tamanbali, Desa Adat Guliang Kangin, Desa Adat Jelekungkang, Desa Adat Kuning, Desa Adat Umanyar, dan Desa Adat Siladan Kaler. Siang itu, Kelas Jurnalisme Warga (KJW) BaleBengong menuju salah satu desa adat, yaitu Desa Adat Guliang Kangin.
KJW diikuti sembilan muda-mudi STT Desa Adat Guliang Kangin, bertempat di Balai Banjar Guliang Kangin. Meski lokasinya jauh dari keramaian, beberapa kali suara lintasan sepeda motor terdengar jelas.
Desa Adat Guliang Kangin ternyata memiliki hubungan erat dengan masa Kerajaan Gelgel. Sebelum disebut Guliang, wilayah tersebut bernama Tambangwilah. Penduduknya memiliki hubungan dengan beberapa pusat kekuasaan Bali, yaitu Tamanbali, Brasika, dan Gelgel.
Ida Dalem Dimade, raja terakhir Gelgel dikisahkan sering berburu hingga wilayah Tambangwilah. Ketika konflik terjadi di Gelgel, Ida Dalem Dimade meninggalkan Gelgel bersama pengikutnya ke Desa Blahpane.
Namun, keadaan Ida Dalem Dimade menurun. Ia pun pindah ke Desa Tambangwilah bersama dua putranya. Di sana ia diceritakan mandi di Pancoran Solas Desa Tambangwilah. Sejak itu, kesehatannya mulai membaik. Nama Desa Tambangwilayah pun diubah menjadi Desa Guliang. Berasal dari kata ‘guh’ berarti menyebabkan dan ‘liang’ berarti senang atau nyaman.
Setelah Ida Dalem Dimade wafa, merajannya diserahkan pada masyarakat Guliang dan para pengiringnya yang masih tinggal di sana. Merajan itu dikenal dengan Pura Agung Dalem Dimade.
Sejarah Desa Adat Guliang Kangin ini ternyata baru diketahui oleh para peserta KJW yang tinggal di Desa Adat Guliang Kangin. Hal ini pun mendorong para peserta untuk membuat karya yang mengangkat sejarah desa, sejarah Pancoran Solas, hingga sejarah Pura Agung Dalem Dimade.
Selain sejarah desa, salah satu peserta mengangkat tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) salah satu warga Desa Adat Guliang Kangin. Usaha itu berupa pembuatan jaje uli dan jaje begina, jajanan tradisional Bali ketika upacara yadnya.
Di samping sejarah Desa Adat Guliang Kangin, desa ini juga menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya dilema pariwisata. Mayoritas penduduk di Desa Adat Guliang Kangin berprofesi sebagai petani. Mereka menghabiskan banyak waktu di sawah. Di sela-sela waktu mereka disibukkan dengan kegiatan keagamaan.
Secara geografis, Desa Adat Guliang Kangin berada dekat dengan Kabupaten Gianyar. Salah satu wilayah di Bali yang beralih ke industri pariwisata. Rumput pariwisata di Gianyar ternyata tak lantas membuat Desa Adat Guliang Kangin tergiur dengan instannya pundi-pundi pariwisata.
I Wayan Ariyana, Pelaksana Tugas (Plt) Kelian Banjar Guliang Kangin, mengungkapkan kesulitannya mengembangkan pariwisata di desa adat tersebut. Pasalnya, banyak ritus-ritus suci yang dimiliki oleh masyarakat adat. Ada ketakutan masyarakat adat jika nantinya tempat itu menjadi kawasan pariwisata, masyarakat di sana hanya menjadi penonton saja.
Jika yang tua kebanyakan bekerja sebagai petani, muda-mudi Desa Adat Guliang Kangin kebanyakan berminat pada industri pariwisata. Setahun terakhir, Ariyana mengungkapkan banyak anak muda Desa Adat Guliang Kangin yang berangkat ke luar negeri maupun kapal pesiar untuk bekerja. Fenomena ini lantas membuat kurangnya partisipasi anak muda Desa Adat Guliang Kangin.









