
Karangasem, sebuah kabupaten di ujung paling timur Pulau Bali. Daerahnya mencakup dataran tinggi pegunungan. Gunung Agung sebagai gunung tertinggi di Pulau Bali ada di kabupaten ini.
Panorama Gunung Agung terlihat dari sudut mana pun di Kabupaten Karangasem, termasuk dari Kecamatan Bebandem. Di Kecamatan Bebandem hanya ada satu Sekolah Menengah Atas (SMA), yaitu SMA 1 Bebandem.
Pagi itu, Senin, 3 Agustus 2026, udara di SMA 1 Bebandem tidak terasa begitu dingin. Hawanya sejuk, jauh dari kata polusi kendaraan. Gedung-gedung kelas di sekolah itu tidak bertingkat seperti kebanyakan gedung sekolah di Denpasar.

Gedung yang tak bertingkat membuat mata lebih leluasa memandang panorama bukit dan gunung yang mengitari sekolah. Dari halaman depan, sekolah tampak sepi. Masuk lebih dalam, melintasi bangunan sekolah, suara siswa-siswi baru terdengar.
Hari itu dilaksanakan Kelas Jurnalisme Warga (KJW). Pesertanya berasal dari SMA 1 Bebandem, didampingi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Warmadewa.
“Boleh nambah pesertanya?” tanya seorang guru dengan nada antusias. Setelah mengiyakan, peserta berdatangan satu per satu. Akhirnya, peserta KJW hari itu berjumlah 24 orang, dari siswa-siswi kelas 10 hingga 12.
Ada yang menarik ketika topik liputan kelompok KJW dibagikan. Peserta menggelengkan kepala ketika pilihan topik disampaikan oleh mahasiswa KKN. “Saya sendiri tidak tahu ada tempat wisata yang namanya Kastala trekking, sehingga saya sangat senang dan tertarik untuk ikut kemarin,” kata salah satu peserta.
Kastala trekking merupakan jalur wisata yang menghubungkan Desa Kastala dan Desa Tenganan Pegringsingan. Perjalanan ini ditempuh dengan jarak 4-9 kilometer, durasinya 3 jam.
Peserta lain pun mengatakan hal yang sama. “Selain dapat berkeliling dan melihat kegiatan berkebun, kami juga belajar hal baru, yaitu cara mengolah kotoran sapi dan sampah organik jadi pupuk,” ujar peserta lainnya.
Kelompok yang menulis tentang produksi dupa rumah tangga di Desa Bebandem pun baru mengetahui ada produksi dupa di kecamatan tempat mereka tinggal. Bahkan, ada yang baru mengetahui kegiatan konservasi mata air di salah satu pancoran Kecamatan Bebandem.
Sebaliknya, Gangga dan Ari yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Kecamatan Bebandem merasakan hal berbeda. Panorama gunung dan bukit di sekeliling membuat mereka tertarik. Di malam hari, mereka takjub dengan bintang yang menyala terang di langit.
Temuan selama KJW ini mengindikasikan bahwa warga setempat, terutama anak muda, jarang mengetahui potensi wilayahnya sendiri. Sebaliknya, orang dari luar daerah lebih cepat menyadari potensi wilayah lain.
Fenomena tersebut dijelaskan dalam The Challenge of Proximity: The (Un)Attractiveness of Near-Home Tourism Destinations yang dipublikasikan pada tahun 2017 oleh Jeuring dan Haartsen. Penelitian itu dilakukan di Provinsi Friesland, Belanda. Berdasarkan preferensi lokasi liburan, responden penelitian dikelompokkan dalam empat kategori, yaitu kelompok yang lebih menyukai destinasi dekat, kelompok yang lebih menyukai destinasi jauh, kelompok dengan preferensi menengah, dan kelompok dengan preferensi campuran.
Empat kelompok tersebut dianalisis berdasarkan karakter demografis, persepsi terhadap daya tarik destinasi wisata di wilayah tempat tinggal, perilaku wisata di dalam wilayah tersebut, dan motivasi mereka melakukan atau tidak melakukan wisata dekat rumah.
Penelitian ini menyimpulkan, preferensi kedekatan dan jarak merupakan dasar untuk memahami sikap masyarakat terhadap wisata dekat rumah. Masyarakat kesulitan melihat keunikan dan pengalaman berbeda di dekat rumah mereka karena semuanya tertutupi rasa terlalu akrab.
Di sisi lain, temuan penelitian ini juga bilang, liburan tidak selalu harus mencari tempat yang jauh. Destinasi yang dekat juga penting. Selain itu, liburan tidak selalu penuh aktivitas dan atraksi, “doing nothing” atau tidak melakukan apa-apa juga liburan. Banyak orang datang untuk merasa nyaman, bukan mencari hal baru.
Penelitian ini mengingatkan, apabila kebijakan dan perusahaan terlalu fokus pada wisatawan kaya dari luar daerah, itu dapat memicu kesenjangan sosial. Perkembangan pariwisata justru jadi kurang menarik bagi masyarakat lokal, hingga muncul penolakan.
Fenomena di Kecamatan Bebandem nyatanya tidak hanya terjadi di wilayah itu saja. Sebagian besar orang tidak mengetahui potensi wilayahnya sendiri karena menganggap daerahnya terlalu familiar.
Kecamatan Bebandem memiliki luas 81.86 km2. Di dalamnya ada delapan desa, yaitu Desa Bebandem, Bhuana Giri, Budakeling, Bungaya, Bungaya Kangin, Jungutan, Macang, dan Sibetan. Tiap desa tentu memiliki potensi masing-masing, seperti Desa Bungaya yang dikenal dengan tradisinya, atau Desa Sibetan yang terkenal dengan salaknya.
Maka, momen KJW menjadi kesempatan bagi masyarakat lokal, terutama anak muda dalam mengenal daerahnya masing-masing. Pasalnya, pengetahuan terhadap potensi desa dapat menumbuhkan rasa memiliki dan keterikatan.










