
Selain mengenal ikan sebagai makanan dan emas sebagai perhiasan, barangkali kita juga perlu berkenalan dengan asal-usul mereka, sebelum sampai di hadapan kita. Bisa jadi, ikan yang terasa nikmat, dan emas yang berharga itu berasal dari cerita legam bernama kejahatan alam.
“Jangan-jangan ikan atau emas yang kita beli itu dari praktik ilegal,” kata Asad Asnawi ketika membahas seri Nature Crime gubahan Mongabay.
Membeli ikan di pasar, mengenakan perhiasan emas, atau menggunakan minyak sawit dalam berbagai produk sehari-hari terasa seperti aktivitas yang biasa. Namun, pernahkah terlintas bahwa di balik komoditas-komoditas itu terdapat jejak yang tak pernah ikut sampai ke tangan kita sebagai konsumen?
Boleh jadi ikan yang kita santap berasal dari praktik penangkapan ilegal yang merusak laut dan mengeksploitasi awak kapal. Emas yang kita dambakan lahir dari tambang ilegal yang mencemari sungai dengan merkuri, merenggut kawasan konservasi, dan menyisakan penderitaan bagi masyarakat sekitar.
Alam tidak dapat menceritakan bagaimana ia diperas. Ikan dan emas pun tak mampu bersaksi mengenai perjalanan panjang sebelum akhirnya tiba di hadapan kita.
Melalui Series Nature Crime, Mongabay Indonesia berupaya membawa cerita-cerita yang selama ini tersembunyi ke ruang publik. Editor desk investigasi Mongabay, Asad Asnawi menjelaskan bahwa liputan ini bukan sekadar mengungkap tindak kejahatan terhadap lingkungan, tetapi juga menelusuri mengapa kejahatan itu terus berlangsung, siapa yang diuntungkan, siapa yang dirugikan, hingga bagaimana komoditas hasil eksploitasi akhirnya masuk ke rantai pasok yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Ini program dari Mongabay Global untuk memotret kejahatan lingkungan, kejahatan alam yang ada di Indonesia,” ujar Asad Asnawi ketika diwawancarai pada Selasa, 30 Juni 2026. Ia menambahkan bahwa hasil liputan tidak hanya berhenti pada publikasi, beberapa di antaranya juga dibawa ke meja diskusi bersama komunitas tertentu.
Ada Apa dengan Alam?
Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah serta tersebar di berbagai wilayah. Kendati demikian, Asad menyebutkan bahwa kekayaan hayati dan non hayati tersebut berhadapan dengan tantangan tata kelola yang berujung pada tindakan kejahatan terhadap alam. Masalah tersebut seringkali luput dari pandangan serta kesadaran masyarakat.
“Semakin kita masuk, semakin kita menemukan banyak lubang. Begitu satu lubang kita isi, muncul lubang yang lain. Ketika itu kita telusuri lagi, ternyata persoalannya jauh lebih besar,” tutur Asad kala menceritakan tentang liputan Nature Crime yang telah berjalan sejak September 2025 silam.
“Ketika alam sudah tidak bisa memberikan atau bahkan alam sudah memberi ancaman, orang baru menyadari bahwa ada yang salah,” kata Asad. Pada titik itulah seri liputan Nature Crime ini berupaya untuk merekam jejak eksploitasi alam dan mengedukasi khalayak mengenai apa yang terjadi terhadap alam, yang terkadang jauh dari pandangan netra.
Ia menambahkan, terkadang kejahatan terhadap lingkungan justru dilakukan oleh masyarakat setempat. Dalam perjalanan liputan, kerap ditemukan pula para pelaku yang sejatinya menyadari bahwa tindakan yang dilakukan tersebut berdampak buruk. Kendati demikian, faktor ekonomi mendorong praktik tersebut tetap dipilih sebagai mata pencaharian.
Sejumlah seri yang telah dipublikasikan antara lain mengangkat tentang penangkapan ikan ilegal (illegal fishing), tambang emas ilegal baik di kawasan taman nasional maupun dampak penggunaan merkuri terhadap kesehatan hingga perkebunan sawit ilegal.
Pola yang Sama Berulang, Eksploitasi Berumur Panjang
Meski lokasi dan komoditasnya berbeda, hampir seluruh investigasi menemukan pola yang serupa. Asad mengatakan bahwa pola tersebut dapat dilihat dari perputaran uang yang sangat besar, melibatkan jaringan yang kompleks, dan sering kali tidak mungkin berlangsung tanpa dukungan modal kuat ataupun aktor yang memiliki pengaruh. “Hampir semuanya begitu sih. Apalagi kalau misalkan skalanya cukup besar ya, tidak mungkin tidak ada aktor backingan ataupun modal besar,” imbuhnya.
Di kawasan tambang emas ilegal, misalnya, kerusakan lingkungan berlangsung bertahun-tahun, sementara kolam-kolam bekas galian terus bermunculan. Dalam sektor perikanan, Asad menyebut bahwa kompleksitas persoalannya bahkan lebih rumit. Akses yang terbatas membuat aksi sewenang-wenang dapat berlabuh bebas di tengah lautan yang jauh dari jangkauan mata. Kejahatan lingkungan di darat saja dapat bertahan secara vulgar, apalagi jika terjadi di wilayah dengan akses terbatas.
Selain itu, praktik illegal fishing tidak hanya berkaitan dengan pencurian ikan, tetapi juga menyentuh isu kerja paksa terhadap awak kapal, perdagangan hasil tangkapan yang tidak dilaporkan, korupsi, hingga ancaman terhadap keberlanjutan sumber daya laut. Melalui liputan yang telah dilaksanakan, ditemukan bahwa praktik tersebut kerap melibatkan kapal-kapal asing maupun domestik, mulai dari Laut Natuna Utara, perairan Sulawesi-Maluku, hingga Kepulauan Aru dan Laut Jawa.
Asad juga menyoroti kasus yang kerap menimpa anak buah kapal di perairan hingga menimbulkan korban jiwa. Ia menceritakan bahwa dalam beberapa waktu, kejahatan tersebut terjadi pada perusahaan yang sama, tetapi kapal tetap beroperasi sementara kriminalitas terhadap ABK dibiarkan.
Praktik Ilegal Berlangsung Terbuka
Tim investigasi Mongabay menemukan sejumlah lokasi tambang ilegal berada tidak jauh dari kantor pemerintahan maupun aparat penegak hukum. Kondisi itu memunculkan dugaan adanya pembiaran sistematis, bahkan praktik setoran rutin kepada oknum aparat yang membuat aktivitas ilegal tetap berjalan. “Itu yang bikin kita agak sanksi ketika kemudian pemerintah mengaku tidak tahu,” kata Asad.
Persoalan itu menunjukkan bahwa kejahatan lingkungan bukan hanya soal penegakan hukum, melainkan juga berkaitan dengan ketimpangan ekonomi, tata kelola sumber daya alam, hingga lemahnya pengawasan negara.
Di tengah berbagai temuan tersebut, Asad turut menceritakan peristiwa menarik pasca liputan. Misalnya ketika sebagian masyarakat mulai mengambil inisiatif menolak aktivitas tambang emas ilegal. Di salah satu lokasi, pihak sekolah bersama para siswa bahkan terlibat mengusir penambang karena lokasi tambang berada tidak jauh dari sekolah mereka.
Menurut Asad, kesadaran seperti inilah yang perlu terus didorong. Sebab perubahan tidak selalu lahir dari kebijakan pemerintah, melainkan juga dari masyarakat yang mulai memahami bahwa kerusakan lingkungan pada akhirnya akan kembali mengancam kehidupan mereka sendiri.
Mengapa Kita Perlu Membaca Nature Crime?
Di tengah derasnya arus informasi, laporan investigasi seringkali membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang jauh lebih besar dibandingkan berita harian. Namun justru melalui kerja semacam inilah publik dapat melihat sisi yang selama ini tersembunyi.
Nature Crime mengajak pembaca menyadari bahwa komoditas yang tampak sederhana memiliki perjalanan yang panjang. Siapa tahu, ikan yang kita beli berasal dari praktik penangkapan ilegal. Atau jangan-jangan emas yang kita kenakan merupakan hasil tambang yang menghancurkan kawasan konservasi atau mengeksploitasi para pekerja.
Kesadaran semacam itu penting karena pada akhirnya dapat mendorong kita sebagai “penikmat” atau konsumen lebih kritis terhadap asal-usul produk yang kita gunakan. Di banyak negara, prinsip due diligence dan green labeling mulai berkembang agar rantai pasok suatu produk benar-benar bebas dari pelanggaran lingkungan maupun hak asasi manusia.
Dalam penghujung sesi wawancara, Asad berharap semakin banyak masyarakat memahami cerita di balik sebuah komoditas, sehingga semakin sempit pula ruang bagi praktik kejahatan terhadap alam untuk terus berlangsung. “Karena kesadaran itu pada akhirnya akan mampu menekan praktik kejahatan itu. Paling tidak orang akan paham soal itu,” kata Asad.
Ia juga berharap, pemahaman yang diperoleh masyarakat juga dapat diiringi oleh kesadaran green labeling yang sudah berkembang di negara Eropa. Ketika masyarakat bersedia membeli produk dengan harga yang lebih tinggi, dengan jaminan bahwa produk tersebut berpihak pada kelestarian alam serta hak asasi manusia. Kendati demikian, perbedaan status ekonomi masi kerap menghalangi. “Ya, semoga kita dijauhkan dari putus asa lah,” pungkas Asad.









