Semarak Piala Dunia tak hanya bergema di stadion-stadion megah, tetapi juga meresap hangat hingga ke balai banjar dan warung-warung kopi di pelosok Bali melalui siaran gratis dari TVRI. Semarak pesta bola sejagat ini turut kita rasakan dan rayakan bersama di Pulau Dewata. Ditemani segelas kopi Bali, mekemit sambil balih pildun.

Salah satu laga krusial penentu nasib ke babak 16 besar yang sukses membuat kita semua ikut merasakan betapa serunya di depan layar kaca duel sarat drama antara Singa Teranga, julukan kebanggaan timnas Senegal, melawan Setan Merah Belgia. Laga ini seharusnya menjadi panggung pembuktian ketangguhan wakil Afrika tersebut setelah gagal menjadi juara Afrika setelah sengketa melawan Maroko. Namun, pertandingan yang berpotensi menjadi sejarah manis ini justru berbalik menjadi tragedi memilukan akibat satu kelemahan yang tak termaafkan: hilangnya konsentrasi di momen penentuan.
?Julukan tim yang lengah pantas disematkan kepada Senegal setelah membuang keunggulan krusial mereka secara cuma-cuma. Pada awal pertandingan, skuad Singa Teranga tampil begitu meyakinkan dan sukses menyarangkan dua gol ke gawang Belgia lewat gol Ismaila Sarr dan Diarra, penonton di Bali yang mendukung Senegal sudah bersorak sorai diah merayakan 2 gol Senegal. Namun, dominasi itu perlahan sirna dan mereka mendadak kehilangan fokus justru setelah pelatih Belgia, Rudi Garcia, mengambil keputusan taktis dengan merotasi pemain pilarnya. Ditariknya nama-nama besar seperti Jeremy Doku dan Kevin De Bruyne untuk digantikan oleh Nicolas Raskin serta Dodi Lukebakio seolah membuat barisan pertahanan Senegal terlena dan meremehkan daya gedor lawan.
?Kelengahan itu harus dibayar dengan harga yang sangat mahal ketika waktu normal hampir habis. Alih-alih merapatkan barisan pertahanan, konsentrasi Senegal yang buyar berhasil dimanfaatkan dengan sempurna oleh para pemain Setan Merah. Hanya butuh waktu tiga menit yang menegangkan bagi Belgia untuk menyeret pertandingan ke babak tambahan. Petaka itu datang melalui dua gol balasan beruntun pada menit krusial 86′ dan 89′ yang sukses menyamakan kedudukan, sekaligus meruntuhkan mental bertanding para pemain Senegal. Sontak momentum remontada ini membuat penonton di Bali yang mendukung Belgia ini berbalik ngewerin pendukung Senegal yang diawal sudah yakin akan menyingkirkan wakil Eropa ini untuk menyusul timnas Jerman dan Belanda yang sudah lebih awal disingkirkan secara dramatis masing-masing oleh Paraguay dan Maroko di babak adu penalti.
?Kehilangan konsentrasi skuad kawanan Sadio Mane ini terus berlanjut hingga pengujung babak tambahan waktu saat adu penalti seolah sudah di depan mata. Kepanikan pemain Senegal berujung pada pelanggaran di dalam kotak terlarang. Belgia mampu mengeksekusi penalti tersebut dengan sangat sempurna untuk membalikkan keadaan. Pertandingan berlangsung begitu dramatis hingga wasit membiarkan laga berjalan sampai menit ke-130′ dari waktu normal 120′. Di detik-detik terakhir yang dramatis, Senegal sebenarnya mendapat secercah harapan lewat tendangan bebas akibat handball Leandro Trossard di titik yang sangat berbahaya, penonton Senegal sangat berharap momentum ini bisa mengantarkan pertandingan ke babak adu penalti. Sayangnya, peluang emas terakhir untuk menjaga asa lolos ke 16 besar itu dieksekusi dengan buruk oleh Pape Matar Sarr
Bola hasil eksekusinya melambung tinggi di atas mistar gawang dan menjadi momen penutup pertandingan mengecewakan pendukung yang berharap banyak padanya.
?Peluit panjang akhirnya dibunyikan, mengubur dalam-dalam impian Singa Teranga untuk melangkah lebih jauh di panggung dunia. Kekalahan menyakitkan dari Setan Merah ini menjadi pelajaran paling pahit bahwa di level sepak bola tertinggi, keunggulan margin gol tak ada artinya tanpa kedisiplinan hingga detik terakhir.
Di sini, di tengah dinginnya damuh ngeremeng Bali usai peluit panjang, kita yang megadang pun ikut tersadar; Senegal harus rela mengakhiri perjalanan mereka dengan rasa penyesalan mendalam, meratapi kelengahan fatal yang membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di atas lapangan hijau bukanlah lawan, melainkan hilangnya fokus pada diri sendiri.




