Semua penggemar sepak bola, bahkan mereka yang bukan penggemar olahraga ini, pasti mengetahui FC Internazionale Milan dan FC Barcelona. Saya tertarik menulis hal ini setelah membaca buku Homage to Catalonia karya George Orwell. Pendeknya, buku itu menceritakan tentang pengalaman pribadi Orwell selama tergabung di POUM–Partido Obrero de Unificación Marxista—selama periode Spanish Civil War. Selain bacaan tersebut, sebuah esai yang saya temukan pada tahun 2017 memantik saya untuk melihat FC Inter Milan dan kaitannya dengan gerakan pembebasan Zapatista.
FC Barcelona, Bukan Sekadar Klub Bola
Catalonia merupakan sebuah daerah otonom yang berada di Timur Laut Spanyol. Wilayah Catalonia dijadikan daerah otonomi karena memiliki kebudayaan yang berbeda dari etnis mayoritas Spanyol. Bangsa Catalan memiliki bahasa sendiri, yaitu bahasa Catalan yang berbeda dengan bahasa resmi Spanyol.
Sebelum tergabung menjadi bagian dari negara Spanyol modern, Catalan merupakan bagian dari Kerajaan Aragon. Pada tahun 1442, wilayah kerajaan Aragon meliputi Balearic, Sisilia, Korsika, Sardinia, Malta, Italia Selatan, dan sebagian Yunani. Sejak masa itu, lembaga pemerintah Catalonia yang mengatur pemerintahan mandiri—disebut generalitat—didirikan pada tahun 1359 berbentuk dewan deputi tetap dari Pengadilan Catalonia. Generalitat Catalonia awalnya berfungsi sebagai pengumpul pajak dan memastikan kepastian hukum. telah memiliki sistem hukum sendiri.
Konflik Catalonia dengan Spanyol bermula ketika Perang Suksesi Spanyol dimenangkan oleh Philip V dari Keluarga Bourbon dari Prancis, melalui Perjanjian Utrech. Setelah 14 bulan penyerangan terus-menerus oleh pasukan Prancis dan Spanyol, Ibukota Catalonia, Barcelona, jatuh pada September, 1714. Pada masa pemerintahan Philip V, Cataonia kehilangan hak-hak untuk memiliki hukum, pemerintahan independent, dan menggunakan bahasa Catalan. Semenjak Philip V berkuasa, Catalonia kehiangan hak otonominya. Hal ini menjadi awal dari konflik berkepanjangan antara Catalonia dan Spanyol.
Pada masa revolusi industri, Catalonia menemui kejayaannya. Wilayah Catalonia bertransformasi menjadi daerah dengan industrialisasi termaju di Spanyol kala itu. Catalonia menyumbang hampir seperlima dari total PDB negara. Namun, mereka tidak merasakan dampak pembangunan yang signifikan. Alokasi dana yang diberikan Madrid kepada Catalonia dianggap tidak sepadan.
Episode baru konflik di Catalonia muncul ketika pecah Perang Saudara Spanyol (1936–1939). Konflik ini diawali oleh kudeta militer yang dilancarkan oleh kelompok nasionalis di bawah pimpinan Jenderal Francisco Franco terhadap pemerintahan Republik Spanyol. Pasca kemenangan Franco, Spanyol diwarnai oleh kediktatoran yang berakhir pada tahun 1975.
Bagi Catalonia, periode kekuasaan Franco merupakan bencana yang besar. Pada masa itu, otonomi dihapuskan, generalitat dibubarkan, seluruh kontrol atas Catalonia dikendalikan oleh Madrid, bahasa Catalan ditekan, media dan publikasi Catalan dibubarkan, hingga represi politik kepada pendukung Republikan di Catalonia.

Di tengah badai pembatasan dan represi di Catalonia oleh pemerintah Franco, ada satu denyut nadi yang tersisa, FC Barcelona. Sepak bola menjadi salah satu harapan perjuangan yang masih bertahan dari gelombang pelarangan. FC Barcelona sering disebut “Més que un club” (lebih dari sekadar klub). Ungkapan ini muncul karena klub tersebut selama lebih dari satu abad berfungsi sebagai simbol identitas, budaya, dan aspirasi politik masyarakat Catalonia, bukan hanya sebagai tim sepak bola.
Stadion Camp Nou—stadion milik FC Barcelona—menjadi salah satu sedikit ruang publik tempat masyarakat Catalan dapat berkumpul dan menunjukkan identitas mereka secara kolektif. Dukungan terhadap klub sering kali memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar dukungan olahraga.
Sebut saja ketika El Clasico berlangsung mempertemukan Barca dan Real Madrid pada tahun 2019, momentum ini menjadi peluang bagi warga Catalonia untuk menyuarakan aspirasinya. Gelombang protes berlangsung selama beberapa hari dan mencapai puncaknya menjelang pertandingan El Clasico yang semula dijadwalkan pada 26 Oktober 2019.
Protes tersebut merupakan tanggapan atas hukuman penjara yang dijatuhkan oleh Supreme Court of Spain kepada sembilan pemimpin gerakan pembebasan Catalan. Massa berkumpul di Barcelona sehingga pertandingan akhirnya ditunda.
Rivalitas antara FC Barcelona dan Real Madrid dipandang memiliki dimensi politik. Warga Catalonia menggangap rivalitas ini sebagai simbol melawan sentralisme Madrid, regional versus pusat, dan melawan warisan kediktatoran Franco.
Stadion kemudian berkamuflase menjadi ruang politik untuk mengekspresikan identitas Catalonia. Tempat ini menjadi saksi berkibarnya bendera Catalonia—Senyera dan Estelada, bergemanya lagu-lagu berbahasa Catalan, hingga seruan pembebasan.
Jauh sebelum peristiwa 2019 pecah, simbol FC Barcelona sebagai tidak sekadar klub bola tercermin selama Referendum 2017 pada 1 Oktober 2017. Referendum dilakukan oleh pemerintah Catalan untuk menentukan nasib mereka merdeka dari Spanyol. Barcelona tidak mampu menghindari keterlibatannya dalam peristiwa tersebut. Pasalnya, referendum berlangsung pada hari yang sama dengan pertandingan Barcelona melawan Las Palmas. Situasi ini menempatkan klub di tengah konflik antara pemerintah Catalonia dan pemerintah Spanyol.
Meskipun klub tersebut berupaya bersikap netral, mereka tetap mengeluarkan pernyataan yang membela demokrasi, kebebasan berbicara, dan hak masyarakat Catalan untuk menentukan nasib sendiri. Sikap ini menunjukkan bahwa Barcelona tetap memiliki pandangan politik dan keberpihakan.
Pertandingan terus berlangsung tanpa penonton merupakan sebuah bentuk protes. Barcelona menganggap bahwa keputusan tersebut merupakan bentuk sanksi terhadap kekerasan yang terjadi saat aparat berusaha menghentikan referendum. Stadion yang biasanya dipenuhi hampir 100.000 penonton menjadi kosong sebagai simbol penolakan terhadap situasi politik yang sedang berlangsung.
FC Internazionale dan Zapatista
Sebagai penggemar Seri A, nama FC Intenazionale Milano alias Inter Milan pasti tidak asing di telinga. Pada bagian kedua ini, saya akan mengupas simpati Inter Milan kepada Gerakan Pembebasan Zapatista.
Zapatista atau EZLN (Ejército Zapatista de Liberación Nacional) merupakan kelompok sayap kiri yang berada di Chiapas, Mexico. Gerakan Zapatista diilhami dari perjuangan seorang aktivis revolusioner agraria bernama Emilio Zapata. Pada tahun 1917, Zapata dan kaum tani melawan perampasan lahan dan memerjuangkan hak atas tanah.
Gerakan ini muncul ke permukaan kembali setelah terjadi gelombang penolakan oleh kelompok masyarakat adat yang muncul dari kawasan Hutan Lacandón, Chiapas melawan kedatangan ekonomi neoliberal. Pada paruh awal tahun 1990an, kebangkitan gerakan Zapatista memuncak ketika muncul kekecewaan terhadap pemerintah Meksiko yang dinilai menghambat hak masyarakat adat atas tanah, budaya, dan kehidupan mereka. Gerakan ini juga merupakan respons terhadap globalisasi neoliberal yang menguat bersamaan dengan penerapan NAFTA (North American Free Trade Agreement).
Sebagai upaya melancarkan pemberontakan menuntut otonomi atas wilayahnya, mereka menduduki San Cristóbal de Las Casas dan menyebarluaskan pernyataan perjuangannya melalui berbagai kantor media internasional. Aksi Zapatista dilakukan begitu unik, bahkan di luar dugaan berbagai pihak. Penampilan mereka identik dengan wajah yang tertutup balaclava.

Keterlibatan Inter Milan dalam perjuangan pembebasan Zapatista dilakukan oleh Javier Zanetti, legenda bek kanan Inter Milan. Dalam suratnya kepada EZLN—yang diselipkan uang sebesar €2,500—Zanetti menulis “Solidaritas itu tak mengenal warna, agama mau pun ideologi politik. Mereka berjuang untuk membuat budaya mereka diakui. Apa yang mereka lakukan adalah untuk mempertahankan identitas mereka sendiri.”
Zenetti tidak hanya mampu berlaga apik di semua role—bek kanan, bek kiri, maupun gelandang tengah—tetapi ia mampu menegaskan bahwa solidaritas tidak terbatas pada ideologi. Ia bergerak lebih dalam menjadi simbol perjuangan kemanusiaan.
Dukungan Zanetti ini ia berikan setelah desa Zinacantan di Chiapas diserang oleh pasukan militer Meksiko. Dalam sebuah suratnya kepada Zapatista, Zanetti menulis bahwa dunia akan lebih baik jika diperkaya oleh keragaman adat istiadat masyarakat. Penindasan akar rumput harus ditolak untuk mewujudkan masyarakat yang ideal.
Menyusul gerakan dari Zanetti, petinggi Inter Milan, Bruno Bartolozzi dan Massimo Moratti, juga ikut mendukung perjuangan yang dimulai oleh Zanetti. Inter menyumbang sebanyak €5,000, satu ambulans, dan jersey Zanetti untuk menandai mulainya kerja sama antara Zapatista dengan Inter Milan.
Bagi masyarakat Amerika Latin, sepak bola merupakan pelarian dan obat rasa sakit dari kehidupan yang sesak. Sepak bola adalah media perang, sikap politik, dan arena perjuangan. Olahraga ini begitu dekat dengan Amerika Latin. Sehingga, tidak mengherankan jika melihat keterikatan emosional antara Zapatista dengan Inter Milan, klub yang telah mendukung perlawanan mereka melawan tiran.
Subcomandante Marcos pernah menulis kepada Massimo Moratti, bahwa Zapatista merasa bangga telah menjalin kerja sama dengan FC Internazionale Milan dan menjadi jembatan solidaritas kedua negara, Italia dan Meksiko. Surat ini merupakan wujud artikulasi solidaritas dan perjuangan bersama. Sekali lagi, ini membuktikan bahwa sepak bola tidak hanya sekadar klub.
Sebuah Pertanyaan Bagi Penggemar Sepak Bola
Dalam hal ini, kita dapat memahami posisi FC Barcelona dan Inter Milan sebagai tidak hanya sekadar klub bola. Lebih jauh lagi, kedua klub bola ini bergerak menjadi panggung politik dan perlawanan. Ia memiliki keberpihakan, ia merepresentasikan sesuatu, FC Barcelona sebagai medan perjuangan masyarakat Catalonia dan sikap Inter Milan sebagai bentuk solidaritas terhadap kaum tertindas. Sehingga, sepak bola tidak pernah hanya soal olahraga; ia selalu berkelindan dengan kekuasaan, ideologi, nasionalisme, dan konflik sosial-politik.
Saya meminjam gagasan yang dilontarkan Zen RS pada kanal Bandung Bergerak untuk menutup tulisan ini, sepak bola menjadi bahasa terbuka—bagi siapa saja, termasuk orang-orang kecil—untuk bertahan hidup, berjuang, dan melawan.
Suatu pertanyaan muncul kemudian, adakah klub sepak bola di Indonesia yang memiliki sikap politik dan ikut memerjuangkan kaum tertindas?










