
Beberapa waktu lalu, pernyataan yang dilontarkan I Ketut Sudarsana, Bendesa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, viral di media sosial. Sudarsana menyebut agar masyarakat mengurangi mebanten agar sampah yang dihasilkan tidak terlalu banyak. Melalui Nusa Bali, Sudarsana memberikan klarifikasi, pernyataan tersebut hanya ditujukan untuk krama Desa Adat Kapal, bukan umat Hindu di Bali secara umum.
Pada tahun 2024, lebih dari setengah timbulan sampah di Provinsi Bali diisi sampah organik. Sampah kayu/ranting sebanyak 40.7% dan sisa makanan sebanyak 26.13%. Sementara, sampah plastik hanya sekitar 14.74%.
Di Rumah Kompos Desa Adat Padangtegal, TPST Mengwitani, maupun TPA Linggasana di Karangasem, tumpukan sampah yang datang dari truk pengangkutan sampah didominasi sampah bekas kegiatan upacara keagamaan. Dilansir dari Bali Post, volume sampah yang dihasilkan saat Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) di Pura Besakih bisa mencapai 10 ton per hari. Dalam foto yang ditampilkan dalam artikel tersebut tampak sampah bekas upacara tercampur dengan plastik.
Ketika sembahyang ke Pura Besakih pada 8 April 2026, Penataran Agung yang menjadi lokasi persembahyangan utama tampak penuh sampah. Usai sembahyang, pamedek meninggalkan sampah sisa persembahyangan begitu saja. Sampah yang ditinggalkan bukan hanya sampah organik, tetapi juga sampah plastik.
Banten yang menjadi sarana upacara Agama Hindu terdiri dari beberapa unsur, yaitu air, api, angin, mataya, maharya, mantiga, dan logam. Air dapat berupa berem yang dihasilkan dari tumbuh-tumbuhan, arak yang berasal dari air yang menguap, atau bisa juga tirta yang berasal dari tanah atau bumi. Api dan angin diwujudkan dalam bentuk dupa. Mataya berasal dari sesuatu yang tumbuh, baik itu daun, bunga, dan buah. Sementara, maharya merupakan sesuatu yang dilahirkan, seperti hewan.
Dari unsur-unsur tersebut dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur dalam banten berasal dari alam. Konsep banten pada dasarnya mempersembahkan sesuatu dari alam dan kembali lagi ke alam.
Seiring berkembangnya waktu, unsur-unsur banten semakin berubah. Demi kepraktisan, masyarakat memilih menggunakan unsur-unsur yang tidak bisa terurai secara alami. Hal ini biasanya dilakukan ketika banten dibuat jauh-jauh hari, sehingga masih awet ketika digunakan kemudian hari.
Berikut bahan-bahan dalam banten yang masuk kategori residu dan susah terurai:
Permen banten
Sebagai pelengkap persembahan canang, umat Hindu biasanya menghaturkan makanan sebagai bentuk rasa syukur atas kelimpahan yang diberikan. Kini, permen menjadi salah satu opsi yang dihaturkan bersama canang.
Di beberapa pedagang canang, permen yang dijual khusus untuk banten. Ketika bungkus plastik dibuka, tidak ada isinya. Jika ada isinya, permen tersebut tidak untuk dimakan, sebagaimana yang tertulis dalam bungkus permen.
Permen ini sering kali berakhir di tempat sampah, di sungai, atau bahkan di laut, tergantung lokasi permen ini dihaturkan. Sampah bungkus permen masuk dalam kategori residu karena terbuat dari material kemasan multilayer yang menggabungkan plastik dan aluminium foil.
Wadah kopi plastik
Selain permen, kopi juga menjadi pelengkap canang, mewakili unsur air. Kopi ditaruh dalam gelas kecil. Namun, beberapa orang memilih menghaturkan kopi menggunakan plastik kecil sekali pakai. Alasannya karena lebih praktis, tidak perlu dicuci.
Penggunaan mangkok plastik sekali pakai hanya akan menambah jumlah sampah plastik. Plastik merupakan sampah yang membutuhkan waktu paling lama terurai. Setidaknya proses penguraian plastik membutuhkan waktu 1000 tahun lamanya di tanah, sedangkan botol plastik terurai dalam waktu 450 tahun.
Dupa dengan Pewangi Kimia
Dupa melambangkan Dewa Agni. Dalam Reg Weda, api menjadi pengantar upacara, penghubung manusia dengan Brahman. Dupa berbahan dasar tumbuh-tumbuhan, seperti bunga yang memiliki aroma wangi. Namun, dupa saat ini kebanyakan dibuat dengan campuran zat kimia dari pengawet dan pewangi buatan. Bahan-bahan tersebut membuat dupa sulit terurai dan masuk kategori residu.
Busung ibung
Bahan utama pembuatan banten adalah janur atau daun kelapa yang disebut busung. Demi menjaga banten tetap awet, janur diganti dengan busung ibung. Busung ibung merupakan daun kelapa yang telah diberi warna dan pengawet. Akibatnya, busung ibung memiliki aroma pengawet yang tajam dan warnanya meninggalkan bekas jika dipegang.
Busung ibung dikenal sebagai busung Sulawesi karena pemasoknya banyak datang dari Sulawesi. Selain Sulawesi, Pulau Jawa juga menjadi salah satu pemasok busung ibung di Bali.
Busung ibung banyak digunakan untuk lamak, ketupat, sampian, hingga banten kecil-kecil sebagai pelengkap. Meski menggunakan daun kelapa, busung ibung tidak tergolong sampah organik karena kandungan pengawet di dalamnya.
Stapler
Pembuatan banten membutuhkan proses menjahit untuk membentuk banten maupun untuk menyatukan beberapa unsur menjadi satu. Alat yang digunakan untuk menjahit adalah semat, bambu kecil dan runcing.
Sayangnya, semat kini tergantikan oleh staples. Staples berupa potongan logam atau metal, sedangkan isinya disebut stapler. Penggunaan staples lebih efisien dibandingkan semat karena mengurangi risiko luka dan mempercepat proses pembuatan banten.
Sayangnya, penggunaan staples membuat kompos yang dihasilkan dari canang dan banten tidak sepenuhnya organik. Pasalnya, stapler yang telanjur digunakan sulit dipisahkan dari canang dan banten. Akhirnya, stapler yang masuk dalam kategori residu malah tercampur dengan sampah organik.
Rarapan atau Jajan dibungkus Plastik
Makin banyak yang mengisi banten dengan aneka cemilan dalam wadah plastik termasuk jaje begina dan lainnya. Masalahnya usai persembahyangan, semua material akan terbuang jadi satu tanpa dipilah plastiknya.
Aksesoris Janur dari Pita Plastik
Melihat jejahitan berwarna-warni mendorong makin lakunya hiasan plastik dari berbagai bahan anorganik seperti pita plastik, kertas sintetik, dan lainnya. Nah ini material yang tidak mungkin mau dipilah saat semua sisa banten dibuang.
Dengan alasan efisiensi waktu dan beban kerja domestik, penggunaan material anorganik makin jamak di Bali. Masalahnya material ini sudah menyimpang dari filosofi banten yakni unsur semesta yang bisa kembali ke tanah, bukan mengotori bumi.










