
Sepasang suami istri dan anaknya saat itu sedang konsultasi di ruang penyembuhan rumah seorang penyembuh tradisional. Jro Mangku Sudiarta, penyembuh itu menemani istrinya yang lebih banyak menjawab kebutuhan sepasang suami istri dan anaknya yang hendak membuat upacara menek kelih untuk anak perempuannya.
Diskusi tak hanya soal banten dan hari baik, juga tantangan saat ini membesarkan anak remaja sampai dewasa. Sang ibu beberapa kali menarik nafas panjang tapi tetap menjaga emosinya. Keinginannya tulus, ingin anaknya bertumbuh dengan baik, tidak banyak menemui masalah, dan bisa menghidupi dirinya.
Sementara saya sedang menunggu di kursi halaman rumah karena beberapa bagian tubuh terasa remuk dan nyeri, terutama punggung, sampai menyeret kaki. Seperti biasa, saya membawa canang dan sesari sukarela tanpa ditentukan nilainya.
Nah, saat giliran tiba, badan telentang di dipan kecil hanya untuk satu orang. Jro Mangku menghaturkan canang saya dan melantunkan doa. Setelah ritual ini selesai, dia bertanya bagian mana yang sakit, ditekan sedikit dan saya merasakan nyeri hebat. Tidak ada pertanyaan lain misal penanggalan lahir, watak, dan kosmologi seperti pernah diperlihatkan seorang yang menyebut traditional healer di Ubud.
Saya sudah lebih dari sekali ke sini, dan merasa cocok dengan penyembuhannya yang sederhana, mengurut bagian sakit dengan minyak. Jro Mangku juga tidak memaksa jika terasa sangat sakit, dia akan membuka bagian-bagian urat tubuh yang menurutnya bermasalah.
“Saya melihat kakek mengobati orang-orang yang antre dari berbagai daerah ke rumah,” katanya tentang keahliannya ini. Belajar dengan mengamati, namun juga membaca literatur penyembuhan tradisional yang diwarisi kakeknya.
Rumahnya sederhana di Gang II Jalan Bedahulu, Denpasar. Mudah ditemukan karena itu rumah pertama di gang sempit itu. Sebelumnya Jro Mangku bertugas sebagai Kelian Adat di banjarnya, kemudian melayani kebutuhan spiritual sambil tetap mengobati.
Menurutnya pengobatan tradisional akan terus dibutuhkan di tengah makin canggihnya model pengobatan. Ia sendiri bermodalkan keinginan mengobati, meramu minyak sebagai obat urut bukan untuk diminum. Pasien juga hanya akan diberikan sekitar 50 ml minyak untuk dilanjutkan di rumah.
Setelah sekitar 30 menit diurut, saya diminta berdiri dan coba jalan. Anehnya, kaki yang sangat berat sebelumnya, kini agak ringan dan bisa melangkah. Walau belum sepenuhnya.
Saat ini pengobatan komplementer terus berkembang. Dikutip dari Alodokter, terapi komplementer adalah praktik atau perawatan yang telah terbukti secara medis sebagai pelengkap dari terapi atau pengobatan utama. Terapi ini dapat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien dan membuat pasien merasa lebih sehat. Namun, terapi komplementer tidak boleh digunakan sebagai pengganti pengobatan medis. Contohnya yoga, meditasi, chiropractic, aromaterapi, dan akupunktur. Usaha-usaha pijat keluarga mulai dari bayi sampai lansia juga makin banyak. Namun ada yang hanya bisa menyegarkan saja bukan menyembuhkan. Sedangkan pengobatan tradisional, istilah yang dipakai Jro Mangku ini pada beberapa kasus bisa menyembuhkan, tergantung situasi gangguan fisik pasien.




