• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, June 10, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Pembangunan Infrastruktur Energi tidak Responsif pada Masyarakat Rentan

I Wayan Budi Adinanta by I Wayan Budi Adinanta
10 June 2026
in Kabar Baru, Lingkungan
0
0

Sejumlah narasumber dalam diskusi publik yang diselenggarakan oleh Trend Asia, LBH Bali, dan 350.org menyoroti dampak pembangunan infrastruktur energi terhadap masyarakat rentan. Diskusi tersebut membahas rencana pembangunan proyek energi serta implikasinya dari perspektif ekonomi politik, lingkungan, dan hak-hak kelompok disabilitas.

Seorang pembicara menegaskan bahwa pembahasan mengenai pembangunan proyek energi tidak cukup dilihat dari perspektif budaya semata. Menurutnya, terdapat dua pertanyaan mendasar yang perlu dijawab dalam setiap proyek pembangunan.

“Pertama, pembangunan ini harus dianalisis dari perspektif ekonomi politik, bukan hanya dari sudut pandang kebudayaan. Kedua, siapa yang harus membayar harga dari pembangunan tersebut dan siapa yang akan menjadi korbannya?” ujarnya.

Ia mempertanyakan apakah dampak pembangunan akan ditanggung oleh investor, elit politik, pemerintah, atau justru masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi proyek. Menurutnya, analisis yang terlalu menonjolkan aspek harmonisasi budaya sering kali tidak menyentuh realitas yang terjadi di lapangan.

Sementara itu, perwakilan Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Bali, Kristina, menyoroti dampak krisis iklim dan pembangunan energi terhadap kelompok disabilitas. Ia menegaskan bahwa kelompok disabilitas merupakan kelompok yang paling rentan ketika terjadi bencana maupun gangguan layanan dasar.

“Kelompok disabilitas memiliki risiko empat kali lebih besar terdampak ketika terjadi bencana. Ketika listrik padam atau komunikasi terputus, dampaknya sangat besar bagi kami,” katanya.

Menurut Kristina, energi memiliki peran penting dalam kehidupan penyandang disabilitas. Banyak penyandang disabilitas yang bergantung pada perangkat berbasis listrik, mulai dari kursi roda elektrik hingga teknologi pendukung komunikasi.

Namun di sisi lain, emisi yang dihasilkan dari proyek energi berbasis fosil dinilai berpotensi memperburuk kondisi kesehatan kelompok disabilitas. Ia menyoroti sulitnya akses terhadap air bersih, sanitasi, dan layanan kesehatan ketika terjadi bencana akibat perubahan iklim.

Kristina menekankan pentingnya pelibatan kelompok disabilitas sejak tahap awal perencanaan kebijakan maupun proyek transisi energi.

“Penyandang disabilitas tidak boleh hanya dijadikan objek. Mereka harus menjadi subjek yang terlibat aktif dalam pengambilan keputusan sehingga kebutuhan mereka benar-benar terakomodasi,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, seorang warga yang mengaku terdampak pembangunan PLTU tahap sebelumnya membagikan pengalamannya terkait berbagai persoalan lingkungan yang muncul setelah proyek beroperasi. Ia mengaku tidak pernah dilibatkan dalam proses penyusunan dokumen lingkungan maupun pengambilan keputusan.

Menurutnya, pembangunan sebelumnya menyebabkan munculnya genangan air di sekitar permukiman warga yang berdampak pada lahan pertanian dan lingkungan sekitar. Ia juga mengeluhkan minimnya respons terhadap berbagai aduan yang telah disampaikan masyarakat.

“Kalau sudah berdiri, akan lebih sulit melawan. Karena itu masyarakat harus mengetahui dampaknya sejak awal,” katanya.

Sementara itu, perwakilan Koalisi Pulihkan Bali menjelaskan bahwa gerakan tersebut lahir sebagai respons terhadap berbagai persoalan lingkungan yang semakin nyata di Bali, termasuk banjir yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, banjir yang terjadi tidak bisa semata-mata dianggap sebagai bencana alam, melainkan akibat persoalan struktural yang terus dibiarkan berlangsung.

“Jika masalah-masalah struktural ini terus dibiarkan, Bali sebagai daerah yang selama ini dikenal sebagai surga wisata akan menghadapi ancaman serius terhadap keberlanjutannya,” ujarnya.

Koalisi Pulihkan Bali, berupaya mendorong berbagai langkah advokasi, baik melalui jalur hukum maupun gerakan masyarakat sipil. Ia mengajak masyarakat untuk terlibat aktif dalam mengawal isu lingkungan dan pembangunan di Bali.

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Salah seorang peserta yang tengah melakukan penelitian mengenai tata kelola lingkungan di Bali menyampaikan kekhawatirannya terhadap degradasi lingkungan yang terjadi di Pulau Dewata. Nilai-nilai lokal seperti Tri Hita Karana masih menjadi rujukan penting, namun implementasinya perlu dikaji secara kritis dalam menghadapi tantangan pembangunan modern.

Peserta lainnya menyoroti dampak proyek energi terhadap kelompok rentan, termasuk perempuan, anak-anak, dan penyandang disabilitas. Ia berharap sosialisasi dan pelibatan masyarakat dalam isu transisi energi terus dilakukan secara berkelanjutan.

Diskusi yang berlangsung di Denpasar tersebut menjadi ruang bagi berbagai kelompok masyarakat untuk menyampaikan pandangan mengenai pembangunan energi, dampak lingkungan, serta pentingnya memastikan keadilan sosial bagi seluruh kelompok masyarakat dalam proses transisi energi di Bali.

Tags: energi fosilkrisis iklimPLTU di Balitransisi energi bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Wayan Budi Adinanta

I Wayan Budi Adinanta

Related Posts

Lima Pemimpin Agama Menyatukan Suara Perlindungan Alam

Lima Pemimpin Agama Menyatukan Suara Perlindungan Alam

29 September 2025
Sumur Resapan dan Filter Air Limbah Rumah Tangga, Cara Mudah Konservasi Air

Sumur Resapan dan Filter Air Limbah Rumah Tangga, Cara Mudah Konservasi Air

5 September 2025
[Ilustrasi] Wacana Bali Mandiri Energi Bersih

[Ilustrasi] Wacana Bali Mandiri Energi Bersih

18 May 2025
Kenapa Transisi Energi Bersih di Bali itu Susah?

Kenapa Transisi Energi Bersih di Bali itu Susah?

5 May 2025
Jalan Terjal Target Energi Bersih Bali

Catatan Debat Pilkada: Bisakah Bali Menuju Kemandirian Energi dan Pembangunan Berkelanjutan?

27 November 2024
Mengevaluasi Dokumen Transisi Energi Bersih Bali

Mengevaluasi Dokumen Transisi Energi Bersih Bali

8 June 2023

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Pembangunan Infrastruktur Energi tidak Responsif pada Masyarakat Rentan

Pembangunan Infrastruktur Energi tidak Responsif pada Masyarakat Rentan

10 June 2026
Ketika Sungai Mati Membawa Banjir dengan Material Pasir dan Batu

Perencanaan Desa Tangguh Bencana di Karangasem

10 June 2026
Plastik di lautan

Festival Laut 2026: Mengenali Berbagai Masalah di Laut termasuk Perdagangan ABK

9 June 2026

Warisan Kuliner Peranakan Kian Tergerus di tengah Hidup Serba Instan

9 June 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia