• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, May 4, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

Oka Agastya by Oka Agastya
3 May 2026
in Kabar Baru, Lingkungan, Opini
0
0

Lima ribu tahun yang lalu, langit di atas Bali berubah menjadi merah. Dari kawah Gunung Batur, sebuah kolom abu dan batuan membubung setinggi 35 kilometer ke angkasa — lebih dari tiga kali ketinggian puncak Everest. Hujan batu apung menghujani seluruh pulau. Dalam hitungan jam, ekosistem Bali yang hijau subur berubah menjadi padang abu yang sunyi. Inilah letusan Penoleken, bencana vulkanik terbesar yang pernah melanda Bali, dan baru kini para ilmuwan berhasil mengungkap skalanya yang sesungguhnya.

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Earth, Planets and Space (2026) oleh Suhendro dan kawan-kawan dari Universitas Gadjah Mada bersama mitra dari Jepang dan Prancis, untuk pertama kalinya mengkonfirmasi secara kuantitatif bahwa letusan Penoleken sekitar 5.200 tahun yang lalu adalah letusan bertipe Plinian, yakni jenis letusan paling dahsyat yang dikenal dalam vulkanologi. Untuk membayangkan skalanya, letusan ini lima kali lebih besar dari letusan Gunung Agung pada tahun 1963 yang hingga kini masih menjadi referensi bencana vulkanik di Bali (Self dan Rampino, 2012). Total volume material yang dimuntahkan diperkirakan mencapai 3,1 hingga 5,2 kilometer kubik — cukup untuk mengubur seluruh kota Denpasar di bawah lapisan batu apung setinggi puluhan meter.

Letusan Penoleken tidak datang dalam satu ledakan tunggal. Para peneliti mengidentifikasi bahwa bencana ini berlangsung dalam tiga fase yang saling berurutan (Suhendro dkk., 2026). Fase pertama, yang dinamai PP-base, adalah letusan freatomagmatik — ketika magma panas bersentuhan dengan air danau yang mengisi kaldera Batur kala itu. Pertemuan antara magma dan air menghasilkan ledakan yang sangat eksplosif dan tidak stabil, meninggalkan bukti berupa lapisan abu dan lapilli yang terselang-seling rapi di dinding batuan, disertai bola-bola kecil abu terakumulasi yang disebut accretionary lapilli. Bayangkan bom air raksasa yang meledak berulang kali nah itulah gambaran fase pembukaan letusan ini.

Setelah air danau habis tersapu, letusan beralih ke karakter yang jauh lebih murni dan lebih ganas: dua fase Plinian kering yang disebut PP-lower dan PP-upper. Dua kolom erupsi raksasa ini masing-masing menjulang hingga 32 dan 35 kilometer ke atmosfer, memuntahkan material dengan laju yang sulit dibayangkan — hingga 200 juta kilogram per detik pada puncaknya (Suhendro dkk., 2026). Seluruh fase utama ini berlangsung dalam waktu 6 hingga 9 jam saja. Dalam seharian penuh, wajah Bali sudah berubah selamanya.

Yang membuat letusan Penoleken semakin menarik secara ilmiah adalah apa yang tersimpan di dalam batu apungnya. Para peneliti menemukan bahwa magma yang menyuplai letusan ini tersimpan berlapis-lapis di dalam perut bumi seperti kue lapis yang mana lapisan atas berkomposisi trachydacite yang lebih ringan, dan lapisan bawah berkomposisi trachyandesite yang lebih berat dan primitif. Selama letusan berlangsung, magma ditarik dari atas ke bawah secara progresif, sehingga batu apung yang keluar lebih awal berwarna putih cerah, sementara batu apung yang muncul belakangan berwarna abu-abu gelap, bahkan hitam seperti skoria (Suhendro dkk., 2026). Batu apung putih dan abu-abu yang mungkin pernah Anda lihat di tepi kaldera Batur itu adalah sisa-sisa dari proses dahsyat ini.

Lalu, seberapa jauh jangkauan bencananya? Peta sebaran abu yang direkonstruksi oleh Suhendro dan timnya menunjukkan angka yang mengejutkan: abu letusan Penoleken tersebar menutupi area lebih dari 100.000 kilometer persegi, mencakup tidak hanya seluruh Bali, tetapi juga sebagian besar Jawa Timur dan Lombok (Suhendro dkk., 2026). Sebagai perbandingan, letusan Agung 1963 melemparkan abunya sejauh 950 kilometer hingga ke Jakarta (Zen dan Hadikusumo, 1963). Letusan Penoleken kemungkinan besar memiliki jangkauan yang setidaknya sebanding, kemungkinan lebih jauh.

Disinilah pertanyaan yang paling mengganggu mulai muncul: apa yang terjadi pada manusia yang hidup di Bali saat itu?

Sekitar 5.373 tahun yang lalu — hanya sekitar 170 tahun sebelum letusan Penoleken — ada komunitas manusia yang aktif menghuni Gua Gede di Pulau Nusa Penida. Pertanggalan ini diperoleh dari ekskavasi arkeologi yang menemukan lapisan artefak dan sisa fauna yang cukup padat di dalam gua karst tersebut (Suastika, 2005; Hidayah, 2010). Mereka adalah manusia pemburu-peramu yang mungkin juga mulai mengenal bercocok tanam. Mereka hidup, makan, dan membuat alat batu di tepi sungai Celagi, memandang lautan yang memisahkan mereka dari Bali daratan. Dan kemudian, dalam suatu hari yang tak tercatat dalam sejarah, langit di barat laut mereka berubah menjadi dinding abu yang berkilat petir.

Nusa Penida, karena posisi geografisnya di tenggara Bali dan terpisah oleh selat laut, mungkin menjadi salah satu zona keselamatan alami dari bencana Penoleken. Dispersal utama tephra mengarah ke barat daya, dan selat laut menjadi penghalang alami bagi aliran piroklastik (Suhendro dkk., 2026). Sementara Bali daratan porak-poranda, komunitas di Nusa Penida mungkin selamat, meski dengan sumber daya alam yang terganggu serius oleh hujan abu yang lebih tipis. Ini bisa menjelaskan mengapa ada kesenjangan stratigrafis yang misterius dalam lapisan hunian Gua Gede antara periode 5.373 BP (Before Present) dan pertanggalan berikutnya sekitar 3.800 BP (Hidayah, 2017): intensitas hunian merosot drastis, namun tidak nol.

Ribuan tahun kemudian, sekitar 2.000 tahun yang lalu, Bali kembali dihuni. Komunitas nelayan yang kita kenal dari situs Gilimanuk di ujung barat Bali dengan ratusan kerangka manusia, gerabah, perhiasan perunggu, dan gelang kaca adalah bukti kongkrit bahwa pulau ini berhasil dikolonisasi kembali, kemungkinan oleh gelombang migrasi manusia Austronesia dari Jawa dan kepulauan sekitarnya (Soejono dalam Balai Arkeologi Bali, 2019). Bali yang kita kenal hari ini, dengan segala kekayaan budaya dan spiritualitasnya, mungkin dibangun di atas tanah yang pernah dikosongkan oleh letusan Penoleken.

Kini, Gunung Batur yang kita lihat sehari-hari adalah gunung berapi aktif yang relatif jinak, menghasilkan lava basaltik yang mengalir lambat dan letusan kecil yang bisa diamati dari jarak aman. Data geologi menunjukkan bahwa kandungan silika magma Gunung Batur telah menurun secara konsisten selama puluhan ribu tahun, dari letusan kaldera Ubud 29.000 tahun lalu yang sangat besar, hingga aktivitas efusif kecil yang mendominasi sejak 4.700 tahun terakhir (Reubi dan Nicholls, 2005; Suhendro dkk., 2026). Para peneliti menyimpulkan bahwa peluang letusan Plinian besar dari Batur dalam waktu dekat adalah sangat kecil. Namun “waktu dekat” dalam skala waktu geologi bisa berarti ratusan hingga ribuan tahun.

Yang lebih mendesak adalah fakta bahwa jika letusan sekelas Penoleken pernah terjadi sekali, ia bisa terjadi lagi namun entah dari Batur, entah dari Agung, entah dari sistem vulkanik lain di Indonesia. Dan Bali hari ini bukan lagi pulau yang hampir kosong: 4,3 juta penduduk dan lebih dari 13 juta wisatawan per tahun (Badan Pusat Statistik, 2025) kini hidup di bawah bayang-bayang sejarah vulkanik yang jauh lebih dramatis dari yang selama ini kita sadari.

Batu apung putih yang tergeletak di tepi Kaldera Batur bukan sekadar batu. Ia adalah rekaman jejak dari masa lalu, mengabarkan tentang hari ketika Bali pernah terdiam dalam kegelapan dan abu sebelum kehidupan, dengan segala keuletannya, kembali tumbuh dari tanah yang subur oleh abu gunung berapi.

Referensi :

  • Badan Pusat Statistik. (2025). Banyaknya Wisatawan Mancanegara Bulanan ke Bali Menurut Pintu Masuk. Denpasar: BPS Bali.
  • Balai Arkeologi Bali. (2019). Situs Prasejarah Gilimanuk. Denpasar: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Hidayah, A. R. (2010). Situs Gua Gede Nusa Penida dalam Kerangka Hunian Prasejarah di Indonesia. Forum Arkeologi, 23(2), 332–354.
  • Hidayah, A. R. (2017). Jejak Austronesia di Situs Gua Gede, Pulau Nusa Penida, Bali. Forum Arkeologi, 30(1), 1–10.
  • Reubi, O., & Nicholls, I. A. (2005). Structure and Dynamics of a Silicic Magmatic System Associated with Caldera-Forming Eruptions at Batur Volcanic Field, Bali, Indonesia. Journal of Petrology, 46(7), 1367–1391.
  • Self, S., & Rampino, M. R. (2012). The 1963–1964 Eruption of Agung Volcano (Bali, Indonesia). Bulletin of Volcanology, 74, 1521–1536.
  • Suastika, I M. (2005). Ekskavasi Situs Gua Gede, Nusa Penida. Laporan Penelitian Arkeologi No. 1. Denpasar: Balai Arkeologi Bali.
  • Suhendro, I., Hadmoko, D., Shibata, S., Hasegawa, T., Mohammad, T. F., Indrayani, K. I., Lesmana, R. A. D., Metaxian, J.-P., Malawani, M. N., & Latief, G. A. E. Z. (2026). Reconstruction and Dynamics of the ~5,200 cal BP Penoleken Pumice Andesitic–Dacitic Plinian Eruption of the Batur Volcanic Field, Bali, Indonesia. Earth, Planets and Space. https://doi.org/10.1186/s40623-026-02395-x
  • Zen, M. T., & Hadikusumo, D. (1963). Preliminary Report on the 1963 Eruption of Mt. Agung in Bali (Indonesia). IAV Scientific Session, XIII General Assembly, I.U.G.G.
Tags: BaliGunungapiLetusan Gunung BaturLingkunganSejarah
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Oka Agastya

Oka Agastya

Seorang pencerita bumi dan praktisi manajemen bencana

Related Posts

Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

1 May 2026
IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

29 April 2026
Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

22 April 2026
Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

20 April 2026
Reklamasi Sekali, Abrasi Berkali-kali

Reklamasi Sekali, Abrasi Berkali-kali

20 April 2026
Compost Bag Dipilih sebagai Solusi Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga

Pemkot Denpasar Rencanakan Distribusi 176 Ribu Compost Bag pada 2026

19 April 2026
Next Post
Segara Alas Mandala, Komunitas Muda Konservasi

Segara Alas Mandala, Komunitas Muda Konservasi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Segara Alas Mandala, Komunitas Muda Konservasi

Segara Alas Mandala, Komunitas Muda Konservasi

4 May 2026
Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

3 May 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Tomy Wiria dan Anomali Keberanian di Bali

2 May 2026
Aku Dede, Ini Ceritaku dengan Difabel Sensorik Netra

Refleksi Hari Buruh Bagi Orang dengan Disabilitas Netra 

1 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia