
Di tengah persoalan sampah yang kian menekan kota-kota besar, Banjar Saraswati, Desa Kesiman Petilan, Denpasar, justru tampil sebagai pengecualian. Banjar ini mulai membangun sistem pengelolaan sampah berbasis sumber yang sederhana, namun dinilai efektif. Hasilnya, volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) ditekan hingga hanya sekitar tiga hingga tujuh persen. Model ini bahkan mendapat apresiasi langsung dari Menteri Lingkungan Hidup RI saat berkunjung pada Maret 2026.
Sistem tersebut dipelopori Kelian Banjar Adat Saraswati, Anak Agung Ngurah Srijaya Widiada. Ia tidak hanya memimpin di tingkat banjar, tetapi juga menjadi koordinator pengelolaan sampah dalam Denpasar Festival (DenFest) melalui komunitas Eling Ring Pertiwi. Dari sanalah gagasan pengelolaan sampah berbasis sumber dilakukan, sebelum akhirnya diterapkan secara penuh di lingkungan tempat tinggalnya sendiri.
Ia menegaskan, kunci utama bukan pada teknologi, melainkan pada perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah. “Sampah itu bukan masalah. Cara kita memperlakukan sampah itulah yang jadi sumber masalah,” ujarnya saat ditemui di sela kegiatan edukasi bagi petugas pengangkut sampah Desa Kesiman Petilan.
Pada DenFest 2025, sekitar 75.000 pengunjung hadir. Di awal pelaksanaan, belasan truk dari dinas lingkungan hidup sudah bersiap mengangkut sampah. Namun seiring berjalannya waktu, volume sampah yang harus diangkut justru menurun drastis. Sistem pemilahan di sumber dan pengolahan langsung di lokasi membuat sebagian besar sampah selesai tanpa harus dibawa ke TPA. Bahkan, pada hari-hari terakhir, hanya sebagian kecil armada yang digunakan.
Keberhasilan itu kemudian menjadi titik balik. Agung menerapkan sistem yang sama di Banjar Saraswati. Sejak Januari 2026, seluruh warga mulai diarahkan untuk memilah sampah di rumah masing-masing.

Sistem yang diterapkan terbilang rinci, namun dibuat dengan pendekatan sederhana agar mudah dipahami masyarakat. Sampah dipilah ke dalam delapan kategori utama, yakni botol kaca, botol plastik, plastik bentukan (seperti gelas plastik, sedotan, dan plastik selain plastik lembaran atau botol), logam, plastik lembaran (kemasan mie instan dan sejenisnya), kertas, residu, dan organik.
Pemilahan ini bukan tanpa alasan. Setiap jenis sampah memiliki jalur pengelolaan berbeda. Sampah organik diolah mandiri menggunakan composter bag dan teba modern, sementara sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomis disalurkan ke bank sampah. Adapun sampah residu yang terdiri dari bahan campuran seperti bungkus kopi sachet menjadi salah satu sampah yang dibuang ke TPA.
“Kalau satu benda terdiri dari dua bahan, itu kami masukkan ke residu. Bukan karena tidak penting, tapi karena saat ini belum ada yang bisa mengolahnya dengan mudah,” kata Agung.
Pendekatan ini membuat volume sampah yang benar-benar dibuang menjadi sangat kecil. Dalam praktiknya, tong sampah residu di salah satu rumah bahkan baru penuh setelah lebih dari dua minggu. Sementara sampah plastik lembaran yang dikumpulkan selama dua bulan pun belum memenuhi satu wadah penampungan.
Di sisi lain, pengolahan sampah organik menjadi salah satu kunci utama. Setiap rumah tangga difasilitasi composter bag yang dibagikan secara gratis oleh banjar. Di dalamnya, sampah dapur seperti sisa makanan diolah menjadi pupuk. Proses ini dipercepat dengan penggunaan eco enzyme sebagai booster, serta teknik pelapisan antara sampah basah dan sampah kering.
Hasilnya cukup mengejutkan. Tidak ada bau menyengat, tidak mengundang hama seperti tikus atau kecoak, bahkan tidak menimbulkan kesan kotor.
“Kalau penerapannya benar, justru baunya seperti fermentasi biasa, bahkan cenderung segar,” ujar Agung.

Selain composter bag, warga juga memanfaatkan teba modern lubang pengolahan sampah organik di tanah yang dalam jangka panjang berfungsi sebagai resapan air. Dalam beberapa kasus, teba yang digunakan lebih dari satu tahun justru tidak penuh, melainkan terus menyusut seiring proses penguraian.
Perubahan ini berdampak langsung pada lingkungan. Tidak ada lagi tumpukan sampah di depan rumah, tidak ada bau menyengat di jalan, dan kualitas kebersihan lingkungan meningkat. Bahkan, saat muncul wacana pembatasan pembuangan sampah ke TPA Suwung, warga Banjar Saraswati justru tidak menunjukkan kepanikan.
“Di grup banjar, itu satu-satunya informasi yang tidak direspons. Karena memang kami sudah tidak bergantung pada TPA,” kata Agung.
Keberhasilan di tingkat banjar kemudian menarik perhatian pemerintah pusat. Saat kunjungan pada Maret 2026, Menteri Lingkungan Hidup dibuat terkejut oleh sistem yang dijalankan. Tanpa mesin modern, tanpa teknologi mahal, namun mampu menyelesaikan persoalan sampah secara nyata.
“Beliau lihat sendiri, sistemnya sederhana. Tapi hasilnya nyata,” ujarnya.
Saat ini, model Banjar Saraswati mulai diperluas ke tingkat desa. Desa Kesiman Petilan menjadi tahap berikutnya, dengan pendekatan yang lebih sistematis. Edukasi dilakukan secara berlapis, mulai dari kepala dusun, kader lingkungan, hingga petugas pengangkut sampah.
Dalam salah satu sesi pelatihan, sejumlah petugas sempat mempertanyakan perbedaan klasifikasi sampah, seperti antara bungkus mie instan dan bungkus kopi. Agung menjelaskan, perbedaan tersebut didasarkan pada kandungan material. Bungkus kopi yang terdiri dari campuran plastik dan logam masuk kategori residu, sementara bungkus mie yang berbahan plastik murni masih dapat dikelola.
Pendekatan edukasi ini dilengkapi dengan sistem pengangkutan terjadwal. Sampah anorganik diangkut pada hari tertentu, residu hanya sekali dalam sepekan, sementara sampah organik diarahkan untuk diselesaikan di rumah masing-masing. Selain itu, dilakukan pula pembersihan rutin di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), termasuk kendaraan pengangkut, guna menjaga kebersihan sistem secara keseluruhan.
Ketegasan juga menjadi bagian dari implementasi. Warga yang tidak memilah sampah berpotensi tidak dilayani. Kebijakan ini berlaku baik untuk rumah tangga maupun pelaku usaha, meskipun dengan skema layanan yang berbeda.
Meski demikian, Agung mengakui proses tersebut tidak selalu berjalan mulus. Penolakan sempat muncul, terutama di awal penerapan. Namun seiring waktu, manfaat yang dirasakan warga perlahan mengubah pola pikir mereka.
“Masalah itu pasti ada. Tapi kalau kita fokus menyelesaikan, bukan menghindari, hasilnya akan terlihat,” katanya.
Bagi Agung, inti dari semua ini bukan sekadar mengurangi sampah, melainkan membangun kesadaran bersama. Ia menyebut sampah hanya sebagai alat, sementara tujuan utamanya adalah perubahan cara berpikir masyarakat.
“Kalau kesadaran itu sudah terbentuk, sampah bukan lagi masalah. Justru bisa menjadi sesuatu yang memuliakan,” ujarnya.
Dengan capaian tersebut, Banjar Saraswati kini tidak hanya menyelesaikan persoalan internalnya, tetapi juga menjadi rujukan bagi wilayah lain. Dari sebuah banjar kecil di Denpasar, lahir model pengelolaan sampah yang membuktikan bahwa solusi besar tidak selalu membutuhkan teknologi canggih cukup dengan kesadaran, konsistensi, dan kemauan untuk berubah.
sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet










![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)