• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, April 21, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Buku

Seksisme, Rasisme, dan Klasisme dalam Lebih Putih Dariku

I Gusti Ayu Septiari by I Gusti Ayu Septiari
25 March 2026
in Buku, Kabar Baru
0
0
Sumber foto: Marjin Kiri

Kata Nyai pertama kali saya kenal dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Pram menggambarkan Nyai Ontosoroh sebagai perempuan kuat yang menggugat budaya priyai Jawa dan patriarki masa kolonial.

Nyai merujuk pada perempuan pribumi yang berhubungan dengan pria Eropa pada masa Hindia Belanda. Dalam istilah lain, Nyai juga disebut gundik, istri tidak resmi atau selir. Nyai tidak memiliki kedudukan pasti karena hubungan yang tidak resmi.

Terlepas belenggu feodal, terjebak status Nyai

Kehidupan Nyai secara khusus dibalut melalui kisah Isah dalam novel Lebih Putih Dariku karya Dido Michielsen, diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Martha Dwi Susilowati. Novel ini menceritakan kehidupan Isah sebagai seorang Nyai di masa Hindia Belanda pada pada akhir abad ke-19.

Pada bab awal buku ini, Isah yang memiliki nama asli Piranti diceritakan sebagai seorang gadis remaja yang lahir dan besar di Keraton Yogyakarta. Piranti merupakan anak seorang pembatik yang menyaksikan dan merasakan ketidakadilan hidup di lingkungan keraton.

Secara hirarki, Piranti memiliki posisi paling bawah. Pasalnya, ia lahir dari seorang perempuan yang tidak diakui di keraton. Ketika beranjak remaja, Piranti baru menyadari bahwa status sosial dan kedudukan sangat berarti di keraton.

Orang yang berasal dari luar keluarga keraton tidak memiliki kekuasaan apa pun. Mereka dipaksa menurut dan mengalah. Bahkan, harus bersedia menyerahkan harta benda jika keluarga keraton menginginkannya.

Belenggu tersebut membuat Piranti ingin mendapatkan kebebasan. Ia pun mencari cara untuk terlepas dari kehidupan yang tak adil dengan mendekati laki-laki Eropa. Piranti beranggapan bahwa kehidupan luar keraton lebih bebas dibandingkan di keraton.

Saat kesempatan tiba di depan mata, Piranti mulai mendekati laki-laki Eropa, pasukan Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL), Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Hubungannya dengan laki-laki tersebut ditentang oleh ibunya. Akibatnya, Piranti memutuskan hubungan dengan ibunya, memilih kehidupan yang lebih bebas bersama laki-laki Eropa.

Piranti pun melepas kehidupannya yang lama dengan mengganti namanya menjadi Isah, nama ini diberikan oleh laki-laki Eropa tersebut. Awal kehidupan Isah cukup membuat saya lega. Sebagai Isah, ia memiliki kehidupan yang cukup baik dibandingkan Piranti.

Isah diakui sebagai Nyai, dipercaya mengurus rumah oleh laki-laki yang berhubungan dengannya. Bahkan, ia melahirkan dua anak dari hubungannya. Namun, Isah lagi-lagi hanya sebagai piranti. Piranti merupakan bentuk tidak baku dari peranti yang berarti alat.

Hidupnya sebagai Nyai tampaknya hanya sebagai pelepas kebutuhan seks dan mengurus rumah. Isah tidak dinikahi secara resmi, ia hanya seorang pribumi yang berhubungan dan tinggal di rumah laki-laki Eropa. Maka, ketika laki-laki Eropa tersebut memutuskan untuk pergi meninggalkan Hindia Belanda, Isah tidak memiliki kuasa untuk menahannya.

Isah dan dua anaknya ditinggalkan kepada sepasang suami istri yang juga orang Eropa. Dua anaknya diangkat sebagai anak oleh pasangan suami istri tersebut. Sementara, Isah hanya dipekerjakan sebagai babu atau pengasuh anak.

Impian Isah mencari keadilan di luar keraton ternyata sia-sia. Penyesalan, penderitaan, dan ketidakadilan yang tidak berujung dialaminya. Pada masa itu, ia bukan hanya pribumi yang hirarki sosialnya paling bawah, ia juga seorang Nyai yang kedudukannya rendah secara moral dan sosial. Status Nyai pun dilepasnya ketika ia memutuskan berpasrah diri menjadi seorang babu dari dua anaknya.

Praktik sempurna patriarki

Seorang feminisme radikal, Mary Daly, menyatakan bahwa perempuan tidak akan bisa bertahan hidup secara spiritual dan mental jika tetap berada di bawah aturan atau pola pikir laki-laki. Bagi Daly, patriarki adalah sistem yang mematikan perempuan. Perempuan perlu berhenti untuk mendefinisikan dirinya melalui kacamata laki-laki atau agama yang patriarkal untuk menemukan identitas asli mereka.

Dalam Beyond God the Father, Daly berbicara tentang the unholy trinity of rape, genocide, and war yang menyatukan seksisme, rasisme, dan klasisme. Seksisme (patriarki) merupakan fondasi terhadap segala bentuk penindasan perempuan yang melahirkan rasisme dan klasisme.

Praktik Nyai pada masa kolonial merupakan wujud nyata seksisme, rasisme, dan klasisme. Secara seksisme, Nyai adalah objek pemuas laki-laki. Secara rasisme, Nyai dianggap rendah karena memiliki darah pribumi. Secara klasisme, Nyai berasal dari keluarga miskin. Praktik ini jelas lahir dari sistem kolonial yang menggunakan tubuh perempuan pribumi sebagai alat stabilitas sosial dan pemuas kebutuhan penjajah.

Daly menggunakan istilah painted bird (burung yang dicat) sebagai gambaran feminitas palsu. Dalam Lebih Putih Dariku, kehidupan Isah sebagai seorang Nyai digambarkan sebagai perempuan yang statusnya lebih tinggi dari penduduk pribumi lain. Isah diberikan kekuasaan untuk mengatur keuangan, mengurus para babu, bahkan memiliki anak.

Namun, seperti burung yang dicat, status ini adalah identitas palsu. Secara hukum, Isah tidak memiliki hak atas anak dan harta benda. Ketika laki-laki Eropa memutuskan pulang ke Belanda untuk menikahi perempuan lain, cat tersebut luntur. Anggapan bahwa laki-laki Eropa dapat memberikan perlindungan secara ekonomi dan kekuasaan luntur begitu saja. Isah dibuang, ditinggalkan tanpa status, bahkan dipaksa memutuskan hubungan dengan anaknya.

Dalam Gyn/Ecology, Daly menyatakan perempuan tidak bisa bertahan hidup selama masih ada dalam sistem patriarki. Sebagaimana Nyai lainnya yang hidup pada masa itu, Isah mengalami penderitaan secara mental ketika anak-anaknya dirampas oleh keluarga Eropa lainnya.

Praktik Nyai pada masa Hindia Belanda merupakan contoh penindasan patriarki yang sempurna. Seksisme, ras, dan hubungan kelas menyatu untuk menciptakan perempuan yang hidupnya berpusat pada laki-laki. 

Meskipun praktik Nyai telah berhenti pada masa kini, kita masih dapat melihat sisa-sisa warisan kolonial tersebut. Warisan ini dapat kita lihat dalam istilah perempuan simpanan, bule hunter, hingga masalah hukum dan pengasuhan anak yang kerap kali merugikan perempuan.

sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet SANGKARBET sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet
Tags: budaya patriarkikolonialismelebih putih dariku
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Gusti Ayu Septiari

I Gusti Ayu Septiari

Suka mendengar dan berbagi

Related Posts

Gender dan Kesetaraan Performatif di Bali

Gender dan Kesetaraan Performatif di Bali

17 January 2026
Realitas Sosial Budaya Patriarki dalam Mata Harumi oleh Putu Oka Sukanta

Realitas Sosial Budaya Patriarki dalam Mata Harumi oleh Putu Oka Sukanta

1 July 2025
Next Post
matan AI

Mengapa Kaum Terdidik Bungkam (di Bali)?

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

20 April 2026
Reklamasi Sekali, Abrasi Berkali-kali

Reklamasi Sekali, Abrasi Berkali-kali

20 April 2026
Compost Bag Dipilih sebagai Solusi Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga

Pemkot Denpasar Rencanakan Distribusi 176 Ribu Compost Bag pada 2026

19 April 2026
Pekerja Luar Ruangan Berisiko Tinggi Heat Stress ketika Panas Ekstrem

Pekerja Luar Ruangan Berisiko Tinggi Heat Stress ketika Panas Ekstrem

18 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia