• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, June 22, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Mimpi Indah Mereka Bertemu Pahitnya Napza

Anton Muhajir by Anton Muhajir
15 July 2010
in Kabar Baru
0
2

Teks dan Foto Anton Muhajir

“Mimpir indah mereka berakhir di jalanan,” kata Eldred Tellis.

Pengelola pusat rehabilitasi narkotika, obat-obatan, dan zat adiktif lain (Napza) Sankalp itu berbicara dalam diskusi kecil dengan aktivis penanggulangan HIV dan AIDS di Denpasar, Bali, Senin malam lalu. Elderd datang ke Bali difasilitasi Annika Leinden Foundation (ALF) dan Yayasan Kemanusiaan Ibu Pertiwi (YKIP).

Di sela diskusi, Direktur Pusat Rehabilitasi Yayasan Sankalp yang berbasis di Mumbai, India itu memperlihatkan film pendek tentang program rehabilitasi penyalahgunaan Napza di Mumbai. Film berjudul SUEE (NEEDLE) berdurasi sekitar 60 menit itu memperlihatkan, di antaranya, profil pengguna Napza jalanan (street drug user) di pusat ekonomi India tersebut.

Para street drug user itu menggunakan heroin jenis coklat (brown sugar) atau methadone dengan membakar di atas kertas minyak, dalam bahasa drug user disebut chasing the dragon, atau menyuntikkannya ke lengan di antara kumuhnya jalanan atau reotnya tempat tinggal. Mereka tersebar di jalanan ataupun kawasan miskin (slum area) Mumbai.

Sebagian gambar juga memperlihatkan mereka sedang menyuntikkan heroin di tepi kereta, samping tempat sampah, trotoar jalan, dan tempat-tempat kumuh lainnya. “Mereka memang orang-orang miskin dari kelas ekonomi paling rendah di Mumbai,” ujar Eldred.

Sekitar 70 persen pengguna Napza di Mumbai, kata Edred, adalah orang-orang miskin.

Menurut peraih Ashoka Fellow ini, para pengguna Napza jalanan sebagian besar datang dari desa. Mereka datang ke Mumbai karena terpesona oleh gemerlap kota dan ingin mengubah hidupnya. Namun, tak sedikit yang kemudian terperangkap dalam jebakan Napza yang sangat mudah ditemukan di jalanan.

“In India, street drug user mostly came from remote area. They migrate to big city to find the dream and their end up in the street,” kata Eldred yang sudah 16 tahun bekerja di bidang rehabilitasi pengguna Napza ini.

Karena itu, lanjut Eldred, hubungan antara kemiskinan, penyalahgunaan Napza, penularan  HIV sangat dekat. Orang-orang miskin ini bermigrasi ke kota Mumbai karena pesona kota yang mereka lihat di film-film. Mereka kemudian menyalahgunakan Napza akibat buruknya situasi yang mereka hadapi tak sesuai yang mereka harapkan.

Akibat penyalahgunaan Napza dengan jarum suntik ini, mereka kemudian tertular HIV. Hal yang sama juga di kawasan Asia Selatan lain, seperti Pakistan, Kazakhstan, dan sekitarnya.

Selain penularan HIV, penyalahgunaan Napza itu juga menyebabkan penyakit lain. Beberapa pengguna Napza mengalami infeksi bahkan sampai harus diamputasi tangan atau kakinya.

Buruknya kondisi pengguna Napza jalanan ini yang mendorong Eldred mendirikan Yayasan Sankalp sejak tahun 1995. Saat ini, yayasan ini mengelola program di pusat rehabilitasi, penjara, dan program pengurangan dampak buruk (harm reduction) lain di India. Selain memberikan layanan harm reduction, misalnya pertukaran jarum suntik (needle exchange program), Sankalp juga memberikan bantuan pendidikan dan nutrisi untuk pengguna Napza jalanan.

Hingga saat ini Sankalp menjangkau antara 2.500 hingga 3.000 pengguna Napza jalanan di Mumbai dan kota sekitarnya.

Salah satu program yang mereka laksanakan adalah dengan mengembalikan pengguna Napza jalanan itu ke kampung halaman. Namun, tak sedikit yang balik lagi ke Mumbai dan kembali memakai Napza di jalanan. “Pendapatan di desa tak bisa menghidupi keluarga mereka. Jadi, mereka kembali lagi ke kota,” ujar Eldred.

Dekatnya penyalahgunaan Napza dengan kemiskinan dan urbanisasi itu dalam skala kecil juga terjadi di Bali. Kadek Adi Mantara, Direktur Yayasan Kesehatan Bali (Yakeba) yang juga melaksanakan rehabilitasi pengguna Napza di Bali, mengatakan pengguna Napza di Kuta juga sebagian kecil hidup di kawasan kumuh.

Dari sekitar 800 injecting drug user (IDU) atau pengguna Napza dengan jarum suntik yang dijangkau Yakeba, lanjut Mantara, sekitar 40 persennya dari kalangan miskin. “Tapi, kondisi IDU di sini tak seburuk di India,” katanya.

Tags: DenpasarDiskusiHIV/AIDSKesehatanNarkobaSankalp Foundation
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Dari Kebun hingga Pasar, Menyusuri Rantai Ekonomi Galungan di Bali

19 June 2026
Siapa yang Peduli Hilangnya Mataair dan Bulakan di Kota Denpasar?

Siapa yang Peduli Hilangnya Mataair dan Bulakan di Kota Denpasar?

11 June 2026
Mai Memunyi!

Mai Memunyi!

30 May 2026
Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

26 May 2026
Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

15 May 2026
Next Post

Bagi Mereka, Kami adalah Mangsa

Comments 2

  1. raden says:
    16 years ago

    say no to drugs….!!!

    Reply
  2. ridwan says:
    16 years ago

    ga ada untungnya pake drugs, cuma menyiksa diri

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Upaya Generasi Muda Tamblingan  Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

Upaya Generasi Muda Tamblingan Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

22 June 2026
Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

22 June 2026
Upaya Generasi Muda Tamblingan  Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

Berpikir Holistik Membangun Bali: Perspektif Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

20 June 2026
Kita Terlatih Hidup dengan Kerusakan: Kehidupan di Gang Taman Beji Pasca Banjir

Kita Terlatih Hidup dengan Kerusakan: Kehidupan di Gang Taman Beji Pasca Banjir

19 June 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia