• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, January 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Viebeke, Menjangkau Kaum Papa yang Terlupa

Anton Muhajir by Anton Muhajir
25 March 2014
in Berita Utama, Kabar Baru, Sosok
0
1

Wayan Angga_Asana Viebeke Lengkong_01_Tianyar Village

Lahir dari keluarga kaya, Viebeke justru memilih turun ke desa-desa membantu kaum papa.

Melalui komunitas filantropi I’m an Angel (IAA), Asana Viebeke Lengkong terus menjangkau berbagai komunitas marginal di Bali. Pemilik PT Asana Santi, di bidang properti, ini menelisik hingga desa-desa di pedalaman Bali.

Viebeke, begitu dia biasa dipanggil, adalah anak dari bintang film tahun 1940-an, Nila Djuwita. Ayahnya salah satu pendiri perusahaan perkapalan PT Samudera Indonesia. Karena itu, Viebeke lahir dan besar di tengah keluarga elite Indonesia.

Rumahnya di Jakarta berada di dekat Lapangan Banteng sehingga dekat dengan Kantor Berita Antara. Baginya, ini memudahkan interaksi dengan banyak tokoh penting Indonesia saat itu. Apalagi, ayahnya termasuk salah satu pendukung Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Namun, sejak kecil pula, Viebeke dipaksa oleh ayahnya untuk menghabiskan waktu di desa-desa. Meski lahir dan tinggal di Jakarta, sejak umur sekitar 6 tahun, Viebeke sudah sering dititipkan oleh ayahnya di desa-desa di Gombong (Jawa Tengah) dan Malang (Jawa Timur). “Ditinggal begitu saja di desa biar saya bisa tinggal dan belajar di sana,” ujarnya.

Ibu dua anak ini bercerita, ketika masih SD, dia sudah biasa main di sawah, digigit lintah, dan semacamnya meskipun orang tuanya dari keluarga kaya. “Bapak saya suka petualangan. Dia mengajarkan hal itu sejak saya masih SD,” Viebeke bercerita di rumahnya di kawasan Canggu, Kuta Utara, Bali akhir Januari lalu.

Pengalaman tinggal dan bergaul dengan orang-orang desa, meskipun lahir dari keluarga kaya, membekas di pikiran Viebeke. Meskipun pernah kuliah dan tinggal di New York dan London, dia kemudian memilih tinggal di Bali dan mengabdi untuk kelompok-kelompok terpinggirkan.

Viebeke menjangkau anak-anak dan warga yang selama ini tidak terjangkau program pemerintah.

Wayan Angga_Asana Viebeke Lengkong_04_Tianyar Village

Terpencil
Hingga saat ini, hampir tiap minggu dia ke desa-desa di pedalaman Bali yang tak pernah masuk dalam brosur pariwisata Bali. Sekadar contoh adalah Dusun Paleg di mana Viebeke dan teman-teman mendukung pembangunan jalan bagi warga setempat. Mereka membantu biaya pembangunan satu-satunya jalan yang menghubungkan desa terpencil ini dengan desa-desa lain di sekitarnya.

Dusun Paleg masuk Desa Tianyar Timur, Kecamatan Kubu, Karangasem, Bali. Jarak dari Denpasar sekitar 200 km dengan medan yang tidak gampang. Jalan naik turun berkelok dan rusak di sana sini. Buruknya infrastruktur di dusun ini sejalan dengan kurangnya akses warga pada kesehatan dan pelayanan publik.

Bersama teman-temannya, ke tempat-tempat yang tersembunyi di antara gemerlap Bali tersebut, perempuan kelahiran Jakarta 7 Mei ini mengabdi.

Selain Dusun Paleg, desa lain yang kerap dia kunjungi adalah Desa Ban, Desa Pedahan, Dusun Butiyang, dan tempat-tempat lain yang identik dengan keterbelakangan di Bali. Semuanya jauh dari pusat kota dengan infrastruktur yang termasuk hancur. Wilayah kerja IAA lebih banyak di dua kabupaten di Bali dengan angka kemiskinan tertinggi, Karangasem dan Buleleng.

Keseharian Viebeke akrab dengan warga desa yang biasanya kumuh, atau anak-anak ingusan dan korengan. Dalam bahasa Bali yang lancar, meskipun tidak ada darah Bali dalam tubuhnya, Viebeke bisa lebih dekat dengan mereka untuk tahu apa yang mereka hadapi dan membantunya.

Menurut Viebeke, IAA menerapkan mekanisme pemberdayaan yang diharapkan terjadinya perubahan kualitas hidup secara permanen. “Menjadi dermawan itu mulia. Tapi, lebih mulia apabila kita bisa meletakkan sesama manusia dalam level yang berdaya,” ujarnya.

“Berdaya dalam hal memilih. Bukan hanya sekadar hidup, tetapi juga mempunyai mimpi dan harapan,” Viebek melanjutkan.

Tak hanya memperbaiki infrastruktur, bersama teman-temannya di IAA, Viebeke yang juga Presiden PT Inti Tata Asana Kharisma ini juga memberikan dukungan dalam bentuk lain pada warga-warga desa yang termarginalkan ini. Misalnya, bantuan pendidikan, penyediaan gizi tambahan, layanan kesehatan, pelestarian lingkungan, bantuan pascabencana, dan lain-lain.

Di lapangan, kegiatan itu misalnya berupa pemberian susu tambahan bagi anak-anak SD, bantuan untuk anak-anak pengidap kanker, pemeriksaan kesehatan bagi ibu-ibu, dan seterusnya. “Kami tidak memberi. Kami berbagi. Dan, dengan strategi ini, kami ingin memberdayakan warga agar mereka berpikir dan bisa menolong diri sendiri,” kata Viebeke.

Wayan Angga_Asana Viebeke Lengkong_07_Paleg Village

Meloncat
Menurut saya, berbicara dengan Viebeke bukan perkara mudah. Tiap kali ngobrol dengannya, tema obrolan sering meloncat-loncat berganti tema pembicaraannya ketika diajak ngobrol. Sekali waktu dia berbicara tentang keluarganya, mendadak meloncat jauh hingga pedalaman Bali. Sekali waktu berbicara tentang pengalaman dia kuliah dan bekerja di Amerika, lalu tiba-tiba berpindah tentang kian turunnya kualitas lingkungan di Bali.

Tema obrolan yang meloncat-loncat menggambarkan, begitulah pula kegiatan dan kepedulian Viebeke. Dari bantuan untuk kelompok terpinggirkan hingga penyelamatan lingkungan.

Secara personal, Viebeke terlibat dalam beberapa gerakan kemanusiaan di Bali. Ketika terjadi bom Bali pada tahun 2012, Viebeke termasuk salah satu tokoh yang menggerakkan dukungan internasional kepada para korban. Viebeke juga pernah menjadi anggota Parum Samigita, kelompok warga lintas-aktor di Kuta yang memberikan perhatian pada wilayah Kuta dan sekitarnya.

Kedekatan Viebeke dengan Kuta bermula sejak remaja. Dia mengaku saat masih umur belasan sudah sering berkunjung dan kemudian tinggal di Bali. Karena itu pula dia akrab dengan warga Kuta dan bahkan menjadi warga di sana. Viebeke dekat dengan warga adat dan sering terlibat dengan kegiatan-kegiatan mereka, termasuk tokoh-tokoh Kuta.

Rumah Viebeke yang luas di daerah Kerobokan, Kuta Utara tak hanya jadi tempat tinggal. Di rumah serupa vila ini, Viebeke juga sering menggelar pertemuan dengan kelompok-kelompok warga yang kritis terhadap pembangunan di Bali. Salah satu yang ramai adalah ketika ada gerakan warga menolak pembangunan hotel di Loloan Yeh Poh Pantai Berawa, Kerobokan, Kuta Utara pada tahun 2008.

Saat itu warga lokal menolak pembangunan hotel tersebut karena dianggap akan merusak lingkungan dan kawasan suci. Viebeke salah satu tokoh di belakang gerakan penolakan yang berhasil menggagalkan rencana pembangunan tersebut.

Kepedulian Viebeke berlanjut hingga saat ini termasuk dalam gerakan Bali Tolak Reklamasi yang menolak rencana reklamasi Teluk Benoa di Kuta Selatan. “Jika tidak ada yang mengingatkan rakusnya pariwisata, maka warga Bali sendiri yang akan menjadi korban. Oleh karena itu, kita semua harus terus mengingatkan agar pariwisata tidak mengorbankan lingkungan,” katanya. [b]

Foto-foto Wayan Angga.

Tags: BaliLingkunganProfilSosialSosok
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

30 December 2025
Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan

Terasering Subak sebagai Mitigasi Banjir Berbasis Lanskap

22 December 2025
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Next Post
Adaptasi Dialek Jakarta di Bali

Adaptasi Dialek Jakarta di Bali

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Canggu: Puisi dan Kisah Perjalanan

Ubud vs Canggu sebagai Metafora Konflik Internal Diri

12 January 2026
Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

11 January 2026
Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia