• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, February 9, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Tiada Henti Judi di Bali

Anton Muhajir by Anton Muhajir
24 October 2009
in Budaya, Kabar Baru, Sosial
0
2

Teks dan Foto Anton Muhajir

Karena lama tidak ngobrol dengan tetangga di gang rumah, malam ini saya ikut kumpul dengan mereka. Tempatnya di halaman salah satu warga. Biasanya sih para lelaki tetangga ini pada kumpul di gang saja. Tapi tumben malam ini di halaman rumah jadi tidak kelihatan dari jalan.

Setelah saya melihat sendiri, saya baru tahu alasan kenapa mereka main di tempat yang tidak terlihat. Ternyata mereka sedang main kartu. Enam orang duduk melingkar. Satu di antaranya masih SMP. Sisanya sudah sudah punya anak semua. Hampir semuanya bertelanjang dada di suhu Denpasar yang memang panas malam ini.

Dua bapak yang lain hanya ikut duduk di sana menikmati tuak campur bir. Aku bagian dari bagian ini. Hanya ikut nonton sambil ikut menenggak minuman penghangat badan itu.

Bapak-bapak di gang ini sedang main kartu. Mereka pakai uang sebagai taruhan. Yes. Mereka sedang main judi. Inilah alasan kenapa mereka berkumpul di depan halaman rumah biar tidak kelihatan banyak orang. Mereka sengaja agak menyembunyikan diri ketika main judi tersebut.

“Untung Anton tidak bawa kamera. Jadi aman,” kata salah satu di antara mereka.

Omongan itu muncul karena mereka tahu pekerjaanku adalah wartawan dan kadang-kadang memotret mereka hanya sekadar untuk punya arsip foto. Tapi malam ini aku memang tak berniat memotret. Saya hanya ingin say hallo sambil ngobrol agar tahu lebih banyak tentang judi.

Salah satu pemicu niat ini adalah karena obrolan sebelumnya di depan rumah. Dua bapak tetangga saya asik ngobrol soal angka yang keluar malam ini. Bukan sembarang angka. Ini angka-angka yang menghasilkan uang sekaligus menghabiskannya. Ini angka toto gelap alias togel.

Inilah bentuk lain judi yang akrab di gang rumah saya. Nyaris tiada hari tanpa obrolan ini di gang. Tiap pagi atau petang pasti bapak di depan rumah saya akan ngobrol dengan tetangga yang lain soal angka yang keluar. Malam ini, misalnya, keduanya tidak dapat angka keluar.

“Out terus,” kata salah satu di antara mereka. Maksudnya angka yang dia pasang tidak ada yang keluar. Kalau angka tidak keluar, berarti mereka rugi. Sebaliknya kalau angka itu keluar, mereka akan mendapat uang berlimpah. “Padahal aku cuma masang kalau ada firasat,” tambah tetangga saya itu.

Togel ini bentuk permainan yang intinya adalah menduga angka yang akan keluar. Jadi pemasang hanya mengira-ngira angka apa yang akan keluar. Lalu mereka membeli kupon dengan memasang angka tertentu. Kalau hanya dua digit, menangnya ratusan ribu. Kalau tiga digit, sampai jutaan. Dan seterusnya.

Cara mudah menang togel adalah dengan rajin-rajin bermimpi. Hehe.. Ya iyalah. Lha wong isinya kan hanya menduga-duga.

Dua jenis judi ini melengkapi pengalaman saya hari ini dengan judi. Tadi sepanjang perjalanan bolak-balik Denpasar – Karangasem, ibu mertua saya juga beberapa kali ngobrol soal judi-judi ini. Tiga anaknya alias tiga kakak ipar saya adalah para korban judi.

Lucunya, ketiga kakak laki-laki ini kecanduan pada jenis judi yang berbeda-beda. Kakak pertama ahli di bidang ceki. Kakak kedua kecanduan tajen. Kakak ketiga jagoan togel. Kalau sudah hari raya seperti hari ini, di mana umat Hindu Bali merayakan Kuningan, maka mereka akan berpesta pora. Mereka akan berjudi tiada akhirnya

Kakak ketiga misalnya memilih tidak ikut sembahyang Galungan ke Pulau Menjangan sepuluh hari lalu demi ikut tajen. “Otakku cuma berisi tajen, tajen, dan tajen. Jadi percuma kalau ikut sembahyang tapi mikir tajen terus,” katanya waktu itu.

Repotnya karena penghasilan mereka tiap hari ya dipakai untuk judi. Saking parahnya malah kadang-kadang tidak peduli meski sudah terlilit hutang.

Ini pula yang terjadi di medan pertempuran di gang malam ini. Salah satu penjudi amatir yang main ceki itu ngotot tetap ikut meski uangnya sudah habis. Dia utang seribu rupiah pada masing-masing penjudi yang lain.

Kalau dia menang, uang itu dipakai untuk membayar hutang. Ketika kalah, dia kembali hutang untuk dipakai taruhan. Begitu terus. Meski kalah, dia tetap saja bertahan.

Inilah aneka rupa judi sekaligus wajah lain dari Bali. Menarik bukan?

Tags: BaliBudayaOpiniSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Perlawanan Kebijakan Politik dalam Karya Seni Ogoh-Ogoh 2025

Banjar, Ogoh-ogoh, dan “Gaya gagah, pesu kapah, mani mati kanggoang kremasi”

6 February 2026

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Bus Sekolah Gratis di Desa Tembok Barter Sampah Plastik

Kenapa Kita (Ayah) Takut Mengambil Rapor Anak?

23 December 2025
Next Post
Segarnya Mandi di Tirtagangga

Segarnya Mandi di Tirtagangga

Comments 2

  1. Ayu says:
    16 years ago

    I don’t think JUDI is menarik for represent another face of Bali – but it’s very complex situation in fact ..

    Reply
  2. Adi Sudewa says:
    13 years ago

    For some men die by shrapnel,
    And some go down in flames,
    But most men perish inch by inch,
    In play at little games.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

8 February 2026
Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

7 February 2026
Ahli Tegaskan Bahaya Pengecualian Wajib Amdal dalam Sidang Gugatan Petani Batur

Ahli Tegaskan Bahaya Pengecualian Wajib Amdal dalam Sidang Gugatan Petani Batur

7 February 2026
Perlawanan Kebijakan Politik dalam Karya Seni Ogoh-Ogoh 2025

Banjar, Ogoh-ogoh, dan “Gaya gagah, pesu kapah, mani mati kanggoang kremasi”

6 February 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia