Tak Perlu Serba Salah jadi Perempuan

Selain postingan TikTok dan virus Corona Baru yang menjadi “primadona” belakangan ini, ada satu lagi yang juga banyak dibahas media hingga warganet di dunia maya. Ya, Tara Basro dan kampanye body positivity-nya.

Melalui beberapa unggahan foto yang memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya, pemeran dalam film Perempuan Tanah Jahanam ini mengajak orang-orang untuk mencintai diri mereka. Bahwa seperti apa pun bentuk tubuh, warna kulit, berat badan, dan ketidaksempurnaan lain dalam tubuh, bukan penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan diri. Tanpa harus khawatir terlihat kurang begini kurang begitu.

Kampanye tersebut menuai banyak respon warganet. Tentu banyak sekali perempuan bahkan laki-laki yang merasa termotivasi oleh unggahan Tara. Namun, di sisi lain masih ada juga yang berpendapat negatif, mengganggap bahwa unggahan Tara mengandung unsur pornografi, melanggar UU ITE. Sedihnya, pernyataan itu disampaikan oleh seorang pejabat Kominfo. Ini memang bukan pertama kali lembaga itu mengeluarkan pernyataan “ajaib”, tapi tetap saja, saya masih dibuat heran.

Pada akhirnya saya juga merasa terusik dan teringat pengalaman saat diberi cap sebagai sesuatu yang saya sendiri sebenarnya tidak bisa terima. Dulu, ketika pertama kali mendengar jokes harta, tahta, wanita, saya tertawa karena merasa hal tersebut sebuah lelucon, selain itu juga karena kata-katanya terdengar memiliki rima yang senada. Terdengar padu di telinga. Saya juga masih tertawa ketika istilah itu berubah jadi becandaan harta, tahta, Raisa. Lalu ada Harta, tahta, Isyana, hingga harta, tahta, Pevita.

Kata-kata ini sering saya baca dari kiriman media sosial teman laki-laki, atau tak sengaja melihat kiriman dari sebuah akun secara acak di media sosial. Saya rasa semua orang sepakat untuk mengakui bahwa Raisa, Isyana, dan Pevita memiliki sesuatu yang membuat mereka terlihat mengagumkan, hingga bermunculan banyak kiriman media sosial yang memakai sosok mereka sebagai objeknya.

Namun semakin sering saya pikirkan, semakin tak saya temukan letak lucunya. Saya malah jadi risih. Perasaan berbeda dibandingkan ketika pertama kali membacanya. Kemudian yang muncul adalah pertanyaan-pertanyaan. Bagaimana mereka menempatkan dan menilai perempuan?

Saya tidak tahu apa yang dirasakan Raisa, Isyana, dan Pevita ketika mereka dijadikan objek demikian. Mungkin ini juga bukan pertama kalinya bagi mereka, mengingat ketiganya adalah tokoh publik ternama di Indonesia. Muda, berkarya, dan mapan. Mereka terlihat tanpa cela. Siapa yang tak mengagumi?

Namun dari jokes yang saya rasa sudah tidak lucu itu, saya akhirnya menangkap dua hal. Menempatkan Raisa, Isyana, dan Pevita, atau perempuan lainnya, selain dilihat sebagai ekspresi kekaguman, kebanyakan laki-laki menggunakan 3 kata itu sadar atau tidak, menyatakan pula godaan terbesarnya sebagai seorang laki-laki. Walaupun itu tidak secara langsung mengarah pada diri saya. Saya perempuan. Sekali lagi, saya merasa risih.

Pertanyaan itu tak berhenti pada contoh di atas. Ia kembali menggelitik ketika pada sebuah pertemuan, seseorang pernah berkata, “Ada dua hal yang membuat sebuah kelompok itu hancur. Kalau tidak uang, ya perempuan.”

Saya diam beberapa saat, berusaha menelaah maksud pernyataan yang dilontarkan lelaki itu. Situasi yang mendorong keluarnya pernyataannya adalah konflik pada sebuah komunitas yang melibatkan laki-laki dan perempuan. Lalu saya bertanya lagi dalam hati, kenapa karena perempuan? Bagaimana kalau ternyata, Si Laki-laki lah yang menyebabkan konflik itu terjadi?

Dari ketiga contoh yang saya sebut, kok saya merasa jadi perempuan itu serba salah, ya? Bahkan dengan potensi yang mereka miliki, hal apa yang disuarakan, seperti belum cukup untuk membuatnya dipandang sebagai hal lain di luar urusan domestik bahkan potensi ancaman.

Ternyata di lingkungan yang saya kira sudah sangat memiliki pikiran terbuka, tidak sepenuhnya pelabelan negatif itu hilang. Menurut saya, ini jadi bukti betapa gagap dan takutnya makhluk bernama laki-laki (walaupun tidak semua) untuk menilai dan menerima perempuan tidak sekadar dari fisik, tetapi juga potensi-potensi baik dalam diri mereka.