Mengenali Bipolar, Menemukan Renjanaku

Ini adalah hari ke-12 aku bekerja di tempat yang benar-benar aku suka. Dengan bidang yang juga luar biasa aku sukai dan merasa dekat dengan dunia itu.

Sebelumnya aku bekerja di sebuah kantor konsultan interior di Bali. Selama 2,5 hari saja. Loh, kenapa? Kok cepet amat? Itu dianggap probation juga enggak deh kayaknya.

Ya, aku tau. Makanya setelah berhasil bekerja selama 3 hari penuh di pekerjaan yang sekarang, akupun merayakannya dengan memesan makanan favorit untuk dinikmati bersama sang pacar. Ceritanya menghadiahi diri sendiri dan bersyukur atas keberhasilan melewati rekor 2,5 hari bekerja.

Sebelumnya saya juga pernah bekerja di Jakarta. Di kantor konsultan interior-arsitektur juga. Bertahan hanya 1 hari. Lebih parah lagi ya. Hehe.

Mundur lagi ke belakang, saat baru lulus kuliah, aku sempat bekerja di kantor konsultan interior khusus interior spa di hotel-hotel. Kantornya di Bandung. Dengan pemandangan kolam renang yang asri. Lumayanlah, bertahan 4 bulan. Tapi keluarnya juga tidak enak kondisinya.

“Kamu kenapa sih Mi?”

Itu yang banyak ditanyakan orang ke aku. Aku sebetulnya punya jawabannya, namun aku agak malu mengungkapkannya karena jawabannya bisa panjang kali lebar. Dan aku juga tidak mau terkesan menuntut minta dipahami.

Aku adalah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Aku hidup dengan gangguan bipolar tipe II dan gangguan kepribadian ambang sejak kecil. Gangguan-gangguan itu membuat emosi, semangat, serta energiku naik-turun. Hal-hal yang menurut orang lain tidak penting bisa menjadi pencetus serangan panikku dalam hitungan detik. Stresor-stresor yang biasa dialami oleh orang banyak bisa menjadi pencetus depresi terdalamku bahkan sampai membuatku menyakiti diri sendiri.

Di kantor pertama yang aku masuki tepat setelah aku lulus kuliah, aku merasa tidak nyaman karena aku merasa hasil kerjaku tidak akan terlalu bermanfaat untuk orang yang benar-benar membutuhkan. Dari kecil aku punya passion untuk menjadi dokter dan ingin secara langsung, literally (cie bahasa Jakselnya keluar :p), menolong nyawa orang.

Menurutku dulu yang namanya menolong orang itu harus benar-benar menolong nyawanya. Nggak bisa dengan cara lain, haha.. Nah balik lagi, di kantorku itu, aku bertugas mendesain interior spa khusus hotel-hotel bintang 5 di seluruh dunia. Dan aku stres sekali karena rasanya kok yang aku lakukan tidak mengubah dunia menjadi lebih baik (padahal ya ngga harus seidealis itu juga sih kalau hidup).

Ditambah tekanan-tekanan lembur tiap hari, masuk jam 9 pagi pulang jam 11 malam hampir tiap hari dengan imbalan yang juga tidak sesuai harapan dan janji HRD-nya. Makin streslah aku dan makin tidak merasa punya renjana di sana. Keluarlah aku dalam kondisi emosi memuncak, serangan panik, dan hampir kejang di kantor.

Oke, selanjutnya, kantor kedua, di Jakarta. Ini adalah kantor konsultan interior-arsitektur yang cukup ternama di Jakarta. Aku sebetulnya semangat sekali saat diterima bekerja di sini. Lalu masuklah aku di hari pertama, kebetulan juga hari pertama setelah tahun baru kalau tidak salah. Karyawannya ada sekitar 200 orang totalnya. Tempat makannya cukup mungil. Setiap siang dapat makan siang, lalu akupun mengekor teman kerja yang lain untuk ikut ambil makan siang.

Waduh. Penuh banget nget, nget. Bejubel. Mau jalan aja susah. Lalu pas duduk, aku didudukin orang dari kiri-kanan. Langsunglah kena serangan panik. Sepanjang siang ke sore aku nahan nangis.

Ditambah pikiran-pikiran idealisku keluar lagi, memperkuat niatku buat langsung resign. Saat sampai rumah aku langsung menangis terus dan besoknya aku langsung mengundurkan diri. Habis itu aku masuk fase depresi hampir 6 bulan. Fase depresi yang kumaksud adalah perasaan ingin bunuh diri tiap hari, merasa diri tidak berharga, merasa hanya membebani orang lain, susah sekali bangun dari tempat tidur, susah sekali mandi (rekor sebulan pernah tidak mandi sama sekali), menyakiti diri sendiri, minum obat dari psikiater banyak-banyak berharap over dosis, dan banyak lagi yang lain yang males aku sebutin satu-satu.

Lanjut, ke kantor konsultan interior di Bali yang tahun lalu menerimaku untuk kerja dengan mereka. Sepertinya sudah kebayang ya kenapa aku hanya bertahan 2,5 hari? Same old, same old. Cerita lama. Idealisme menolong orang, mengubah dunia, bidang yang tidak sesuai renjana, dan kawan-kawannya yang lain.

Namun kali ini gejalanya juga dilengkapi dengan psikosomatis. Aku muntah-muntah dan diare di kantor saking stresnya. Padahal kerjanya juga tidak berat, lho. Malah cenderung aku sukai karena pekerjaannya adalah menulis buku interior (dulu saat kuliah aku beberapa kali menulis buku interior). Tapi ya itu tadi, idealisme, renjana, dkk. Selama 2,5 hari berlalu dan akupun keluar tanpa ba bi bu (tapi tetep pamit kok via email dan whatsapp).

Habis itu lagi-lagi aku masuk fase depresi berbulan-bulan. Da kumaha atuh, kita kan butuh penghasilan buat hidup yah.

Setelah berbulan-bulan lemes dan putus asa, akhirnya cahaya terang datang. Aku ditawari pekerjaan yang sesuai dengan minatku dan di bidang yang aku sukai oleh seseorang yang melihat sepak terjangku selama satu tahun hidup di Bali.

“Wah, pekerjaan apa itu Mi?”, tanya banyak teman dekatku.

Pekerjaan ini sesuai dengan cita-citaku menjadi seorang psikiater. Bergelut di dunia kesehatan jiwa. Dan sesuai juga dengan latar belakang pendidikanku di dunia desain. Dan lagi-lagi sesuai sekali dengan minat dan hobiku dalam berkomunitas. Klop sekali, kan?

Aku bekerja di sebuah pusat rehabilitasi psikososial untuk ODGJ di Bali. Aku menangani desain grafis, website, bantu-bantu di sekretariat, dokumentasi, dan banyak lainnya. Ada satu komunitas kesehatan jiwa juga yang aku urus ini itunya, berhubungan dengan desain, website, event coordinating, dan printilan lainnya. Selain itu aku juga membantu produksi infografis dan website seorang profesional di bidang kesehatan jiwa.

Total sudah 12 hari aku bekerja di pusat rehabilitasi psikososial tersebut. Sudah 2 bulan aku bekerja mengurus komunitas kesehatan jiwa yang aku sebutkan di atas. Dan sudah 5 bulan aku bekerja membuat infografis.

“Bagaimana perasaanmu Dek?” tanya mamaku.

AKU SENANG. SENANG SEKALI. Aku merasa sangat berdaya. Aku senang sekali dengan semua kegiatanku sekarang. Terima kasih banyak untuk pihak-pihak yang memberikan kepercayaan padaku. Terima kasih banyak untuk google, youtube, dan sahabat-sahabatku yang banyak mengajarkanku cara membuat website dan urus SEO-nya, haha. Dan tentunya terima kasih banyak untuk seluruh manusia-manusia favoritku yaitu keluargaku, teman hidupku, sahabat-sahabatku, dan: Tuhan 🙂