• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, January 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Putu Wismayodha, Teruna Bali yang Sukses Usaha Kuliner di Jakarta

Anton Muhajir by Anton Muhajir
28 August 2007
in Budaya, Kuliner, Sosok, Travel
0
2

Sumber: www.nusabali.com
Minggu, 19 Agustus 2007

Ada yang unik dalam pemilihan Abang None Jakarta 2007. Dalam ajang tersebut, salah satu pesertanya ternyata berasal dari Bali, tepatnya kawasan Blahbatuh, Gianyar. Dialah I Putu Wismayodha Hariswara, 23. Hebatnya, teruna Bali yang kesehariannya mengelola usaha kuliner ini berhasil merengkuh juara harapan I Abang Jakarta 2007.

Keikutsertaan Putu Wismayofha di ajang Abang None Jakarta 2007 praktis mendobrak tradisi. Selama ini, memang belum pernah ada krama Bali yang ikut dalam ajang bergengsi sejenis pemilihan ‘Teruna Teruni Bali’ tersebut. Yang heboh, Putu Wismayodha bahkan berhasil mengukir prestasi sebagai juara harapan 1 di ajang Abang None Jakarta 2007 itu. Kompetisi Abang None Jakarta 2007 memang terbuka lebar bagi masyarakat Jakarta, tanpa melihat nama, agama, suku/daerah asal.

Toh sebagai satu-satunya krama Bali yang ambil bagian dan dinyatakan meraih peringkat di ajang Abang None Jakarta 2007, Putu Wismayodha mengaku sangat bangga. “Tentu saja saya senang, bahagia, dan bangga menjadi satu-satunya keturunan Bali di kontes ini,” ujar Putu Wismayodha, teruna (pria lajang) kelahiran Blahbatuh, 12 Oktober 1984, kepada NusaBali di Plaza Senayan, Jakarta, Senin (5/8) lalu.

Keikutsertaan Putu Wismayodha yang dikenal gemar fotografi, main golf, renang, dan diving di ajang pemilihan Abang None Jakarta 2007ini berawal dari ajakan salah seorang sahabat kekasihnya. Sahabat sang kekasih itu merupakan finalis Abang None Jakarta 2007 dari Kabupaten Kepulauan Seribu. Putu Wismayodha sendiri seharusnya mengikuti Abang None Jakarta 2007dari tingkat Kotamadaya Jakarta Selatan, karena dia tinggal di kawasan Pamulang.

Namun, berhubung terlambat mengetahui kompetisi tersebut, dia pun mengikuti audisi di Kepulauan Seribu. “Jakarta Selatan merupakan wilayah pertama kali yang melakukan audisi Abang None. Sedangkan Kepulauan Seribu penyelenggara terakhir. Karenanya, saya mengikuti audisi di Kepulauan Seribu,” tutur sulung dari tiga bersaudara anak pasangan I Wayan Tem Gunawan dan Nani Wijaya ini. Nah, dalam kompetisi Abang None tingkat Kepulaun Seribu, Putu Wismayodha bersama kekasihnya, Mendy Andriana, harus bersaing dengan 205 peserta lainnya.

Dia pun lolos di antara 60 orang yang terpilih ke babak berikutnya. Lalu, Putu Wismayodha lolos lagi ke tahap 30 besar untuk mengikuti karantina. Namun sayang, sang kekasih, Mendy Andriana, tidak lolos ke 30 besar. Tapi, Putu Wismayodha akhirnya berhasil merebut predikat juara Abang Jakarta tingkat Kepulauan Seribu, sedangkan None Kepulauan Seribu diraih Anitya HR. Sebagai Abang None Kepulauan Seribu, Putu Wismayodha dan Aintya, bersama peringkat dua dan tiga, berhak mewakili Kepulauan Seribu ke tingkat pusat pemilihan Abang None Jakarta 2007. Di tingkat pusat, Putu Wismayodha harus bersaing dengan 11 Abang lainnya.

Lalu, pada malam final Abang None Jakarta 2007 yang berlangsung 31 Juli 2007 lalu, Putu Wismayodha berhasil menggondol juara harapan I. Ini prestasi langka, karena jarang ada orang non-Betawi yang meraih predikat tersebut.

Menurut Putu Wismayodha, untuk mengikuti Abang None ini, dirinya memyiapkan diri dengan serius. Termasuk di antaranya aktif mencari informasi seputar Jakarta, melalui internet. Saat persiapan tampil di tingkat pusat, Putu Wismayodha banyak dibantu oleh para mantan Abang None Kepulauan Seribu. Prestasinya di kompetisi Abang None Jakarta 2007 ini terbilang surprise bagi Putu Wismayodha. Selain baru pertama kali ambil bagian, sebelumnya dia tak pernah mengikuti kompetisi sejenis, dalam bentuk apa pun.

“Basic saya bukan sebagai model, melainkan seorang karyawan,” imbuh kakak dari I Made Ramendra Yogiswara dan Sintha Vasrika Utami yang sempat bekerja sebagai staf marketing sebuah perusahaan swasta di Jakarta ini. Putu Wismayodha dulunya sekolah di SMAN 34 Pondok Labu, Jakarta. Lalu, dia melanjutkan kuliah di Central Queensland University, Sidney, Australia. “Setelah tamat kuliah di Australia, saya pulang ke Indonesia dan langsung bekerja sebagai staf marketing,” terang krama Bali yang jarang pulang ke tanah leluhur ini.

Namun, pekerjaan sebagai staf marketing itu tidak lama digelutinya. Sebagai anak dari seorang ibu yang memiliki jiwa wiraswasta, Putu Wismayodha juga ingin berwiraswasta. Itu sebabnya, dia banting haluan membuka warung sate bebek di kawasan Pondok Cabe, Jakarta. Menurut Putu Wismayodha, sejak kecil dia sudah terbiasa membantu ibunya bekerja, mulai dari tingkat dasar seperti mencuci piring, kemudian naik menjadi pelayan, hingga promosi menjadi pengelola salah satu kantin milik ibundanya, Nani Wijaya.

Karena itu, Putu Wismayodha tak asing lagi dalam membuka usaha kuliner. Dia dibantu dua orang karyawan dari katering CV Tami Utama Catering Service, milik ibunya. Tapi, saat mengikuti Abang None Jakarta 2007, usaha sate bebeknya ditutup sementara. “Bulan depan, usaha sate bebek saya akan buka kembali,” tutur Putu Wismayodha. Selain melanjutkan roda usaha kuliner, dia juga akan melaksanakan tugas sebagai Abang Jakarta dalam mempromosikan wisata DKI Jakarta, baik tingkat nasional maupun internasional.

Putu Wismayodha merupakan satu dari sekian banyak krama Bali yang dibesarkan di ibukota metropolitan Jakarta. Sebab, kedua orangtuanya yang berasal dari Blahbatuh, Gianyar memang bekerja di Jakarta. Bahkan, Putu Wismayodha sangat jarang pulang ke Bali. Menurut Putu Wismayodha, dirinya terakhir kali pulang ke Bali sembilan tahun silam, ketika usianya masih 14 tahun. Ketika itu, dia dan keluarga pulang karena ada upacara pengabenan. Bukan berarti dia tak lagi ingat akar budaya dan tanah leluhur. Hanya kesibukannyalah yang memaksa dia jarang pulang.

“Saya sebenarnya sangat rindu tanah leluhur, terutama nenek di Blahbatuh,” katanya. “Saya segera akan akan cari waktu untuk pulang ke Bali.” [b]

togel online
togel online
link slot
link togel
bandar togel
toto togel
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Canggu: Puisi dan Kisah Perjalanan

Ubud vs Canggu sebagai Metafora Konflik Internal Diri

12 January 2026
Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

11 January 2026
Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

10 January 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Keresahan dalam Selimut Rust en Orde

9 January 2026
Next Post

Bali Administration Annoyed by Media Reports on Bird Flu

Comments 2

  1. putu says:
    18 years ago

    Bli, sepertinya judul artikel ini agak kurang pas untuk artikelnya sendiri. Karena yang dibahas lebih banyak mengenai kegiatan abang dan none daripada usaha kulinernya. Matur Suksma…

    Reply
  2. Raeni says:
    17 years ago

    Kok yang dibahas bukan usaha kulinernya c, qt kan ingin tau bagaimana kiat-kiat menjadi seorang wirausaha yang sukses. Ga nyambung dech….

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Canggu: Puisi dan Kisah Perjalanan

Ubud vs Canggu sebagai Metafora Konflik Internal Diri

12 January 2026
Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

11 January 2026
Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia