• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, January 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Buku

Pesta Baca: Bali dari Masa ke Masa Melalui Buku

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
10 May 2023
in Buku, Kabar Baru, Sejarah
0
0

Apa buku yang menunjukkan perubahan Bali dari masa ke masa? Inilah Bincang Buku di Pesta Baca hari kedua, 30 April 2023 oleh Taman Baca Kesiman bekerja sama dengan media jurnalisme warga BaleBengong.

Sedangkan Bincang Buku hari pertama bertajuk Buku yang Mengubahku. Rangkumannya di sini

Tiga pembahas buku versinya masing-masing tentang Bali dari Masa ke Masa adalah tiga warga Bali dengan beragam latar belakang dan usia. Diana Darling, penulis dan editor sejumlah buku dan penerbitan. Perempuan yang menulis buku The Painted Alphabet (2012) ini sudah mukim dan menikah di Bali sejak 1980an. Ia pernah jadi editor buku The Atheist karya sastrawan Achdiat K. Mihardja, Latitudes Magazine, menerjemahkan puluhan karya sastra Indonesia untuk Lontar Foundation, buku arsitek Popo Danes, dan lainnya.

Ia membawa 4 buku yang menurutnya menggambarkan dinamika Bali. Pertama, Island of Bali karya Miguel Covarrubias 1937 menjelaskan tentang Bali sekaligus menciptakan citra sebagai pulau eksotis dengan kesenian dan ritualnya. Buku ini kerap muncul sebagai referensi di buku-buku lain tentang pariwisata dan budaya Bali.

Berikutnya buku Bali: A Paradise Created karya Adrian Vickers sebaliknya berbicara tentang citra yang tercipta. Menurut Diana, kedua buku ini berdampak langsung pada perekonomian Bali, karena citra Bali adalah produknya. Namun citra Bali jadi juga masalah budaya yang besar. Kelanjutannya adalah Michel Picard membahas tentang itu dalam bukunya Bali: Pariwisata Budaya dan Budaya Pariwisata.

Picard seolah menyimpulkan, kini, pariwisata adalah budaya itu sendiri. Karenanya tak beralasan menyatakan budaya Bali terancam karena pariwisata. Buku keempat bertajuk Kebalian, juga dari Picard. Buku ini menelusuri kembali konstruksi dialogis identitas dari apa yang oleh para intelektual Bali disebut sebagai “kebalian”, yang mereka anggap sebagai pohon, yang akarnya adalah agama, batangnya adalah adat, dan budaya sebagai buahnya.

Diana mengingatkan kita harus khawatir dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Menurutnya harus banyak membaca untuk bisa merasa khawatir.

Pembahas berikut adalah I Made Kris Adi Astra, seorang seismolog, yang mempelajari kegempaan dan bekerja di BMKG Denpasar. Peneliti muda asal Tabanan ini belajar seismologi di dua kampus di Jerman. Buku yang dibawanya ada dua, satu berwujud buku dan satu lagi dokumen tua. Buku Refleksi 200 Tahun Gejer Bali ditulisnya pada 2015 untuk mengingatkan dua abad gempa dahsyat memicu tsunami yang terjadi pada 1815.

Menurutnya Bali memiliki potensi gempa dan tsunami lagi namun tidak bisa diprediksi waktunya. Salah satu mitigasinya adalah memperhatikan kawasan rawan misalnya di Bali selatan yang memiliki sejarah pergerakan lempeng bumi. Seorang pendengar bertanya, kenapa ada rencana pembangunan Pusat Kebudayaan baru di daerah rawan bencana di kawasan Tukad Unda, Klungkung?

“Di mana saya harus parkir agar cepat terhindar dari bencana?” tanyanya dengan sedikit sarkas. Kris juga heran karena daerah ini aliran erupsi Gunung Agung.

Dokumen lusuh yang dibawanya dengan hati-hati adalah bendelan dokumen berbahasa Jerman tentang peristiwa-peristiwa gempa bumi di Indonesia di masa lalu. Judulnya Die Erdeben Des Indischen Archipels.

Pembahas ketiga adalah musisi, frontman band Nosstress, Nyoman Angga Yudista yang akrab dipanggil Man Angga. Ia membawa beberapa jilid komik Doraemon dengan alasan memotivasi orang untuk membaca apa saja yang disuka. Dalam komik itu menurutnya ada beberapa cerita yang relevan dengan situasi saat ini.

Agung Alit mengatakan, seperti namanya, Pesta Baca adalah sebuah kegiatan untuk merayakan kesenangan dan gairah kita terhadap buku. Dalam Pesta Baca, mereka yang hadir diharapkan untuk bisa membagi tidak hanya buku-buku yang mereka baca, tetapi juga bagaimana buku-buku itu mewarnai perjalanan hidup dan cerita sehari-hari hingga saat ini.

Ketika roda-roda modernitas membawa kita ke jebakan informasi yang serba riuh ringkas, buku tetap menghadirkan kedalaman dalam kesendirian. Buku membawa kita menjelajah masuk ke dalam dunia penuh makna ketika media sosial mengasingkan kita dalam kilauan citra yang serba fana. Buku menjaga kita tetap ada betapapun manusia modern semakin jauh meninggalkannya.

Inilah yang menjadi tema Pesta Baca tahun ini, Aku Baca, Maka Aku Ada. Melalui tema ini menghadirkan kembali diri melalui buku-buku yang pernah dibaca dan mempengaruhi secara pribadi sebagai manusia maupun Bali sebagai sebuah identitas dan lokus yang selalu menarik untuk dibaca.

kampungbet

Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Canggu: Puisi dan Kisah Perjalanan

Ubud vs Canggu sebagai Metafora Konflik Internal Diri

12 January 2026
Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

11 January 2026
Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

10 January 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Keresahan dalam Selimut Rust en Orde

9 January 2026
Next Post
Kuliner Khas Nasi Moran Tigawasa

Kuliner Khas Nasi Moran Tigawasa

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Canggu: Puisi dan Kisah Perjalanan

Ubud vs Canggu sebagai Metafora Konflik Internal Diri

12 January 2026
Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

11 January 2026
Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia