
Pasca banjir besar September lalu di Bali, muncul narasi kekagetan pemerintah terhadap pembangunan yang melanggar tata ruang. Narasi ini diikuti dengan turunnya Pansus Tata Ruang dan Aset Pemerintahan (TRAP) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Bali. Selama beberapa bulan berjalan, Pansus TRAP DPRD Provinsi Bali menyidak, menyegel, dan menutup sejumlah bangunan di Bali, mulai dari bangunan vila, resort mewah, warung, restoran, hingga perumahan.
Pansus TRAP DPRD Provinsi Bali dibentuk pada September 2025, menjadi cara pemerintah merespons bencana yang terjadi beberapa waktu lalu. Dalam pembentukannya, tim ini ditujukan untuk menegakkan aturan terhadap tata ruang, aset, dan perizinan.
Dari hasil penelusuran sejumlah media pemberitaan, setidaknya ada 17 bangunan di Bali yang disidak Pansus TRAP. Sejumlah bangunan tersebut tak hanya berada di Bali Selatan, tetapi juga ada di Bali Timur dan Bali Utara.
Tujuan sidak pertama Pansus TRAP adalah Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, tempat hidup sejumlah mangrove di Bali Selatan. Ditemukan sejumlah bangunan berdiri berdempetan dengan Tahura Ngurah Rai, salah satunya pabrik konstruksi milik Warga Negara (WN) Rusia. Selain pabrik tersebut, sejumlah bangunan telah lama berdiri di lokasi tersebut.
Keesokan harinya, pemerintah kembali terkejut dengan adanya aliran sungai di dalam bangunan Mall Bali Galeria (MBG). Pada awal Oktober, Pansus TRAP menyasar kawasan Bali Timur, yaitu pembangunan dua resort besar. Kedua resort ini dipermasalahkan karena izin pembangunannya belum lengkap.
Pada 13 Oktober 2025, Pansus TRAP menyasar hutan di Bali Utara, yaitu Hutan Desa Pejarakan. Di hutan tersebut ditemukan pembangunan vila yang dilakukan di atas lahan hutan dengan kemiringan sekitar 60 derajat.
Nuanu Creative City, sebuah komplek pariwisata di Tabanan juga tak lepas dari kunjungan Pansus TRAP. Selain itu, ada juga sejumlah akomodasi pariwisata di Nusa Penida yang dikunjungi Pansus TRAP. Mereka mempermasalahkan pembangunan lift dan aktivitas bungee jumping di Pantai Kelingking. Pembangunan dihentikan ketika pembangunan lift sudah setengah jadi.
Lokasi terakhir yang disidak oleh Pansus TRAP adalah beberapa bangunan di Jatiluwih, salah satunya warung milik warga lokal. Pasca penyegelan bangunan di Jatiluwih, para petani yang juga pemilik bangunan tersebut melakukan aksi protes dengan pemasangan seng dan plastik hitam.
Lebih lengkap terkait lokasi sidak Pansus TRAP DPRD Bali dapat diakses melalui peta di bawah ini. Peta ini dapat menjadi acuan untuk mengawasi proses perizinan sejumlah bangunan yang didatangi oleh Pansus TRAP.




