• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, January 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Pekerjaan Rumah di Hari AIDS

Oka Negara by Oka Negara
1 December 2009
in Kabar Baru, Opini
0
0

Teks Oka Negara, Foto Ilustrasi Internet

Sejak pagi tadi terlihat banyak siswa sekolah, aktivis LSM dan mereka yang mencoba peduli dengan permasalahan HIV AIDS turun ke jalan. Hari ini 1 Desember adalah saat orang-orang di berbagai belahan dunia ikut merayakan World AIDS Day atau Hari AIDS Sedunia. Bagi yang sudah pernah mengikuti atau mengetahuinya, tentu saja sudah sangat lekat dengan maraknya pita merah, lambang kepedulian terhadap HIV AIDS yang sering kali menjadi ikon perayaan Hari AIDS Sedunia.

Di dunia terdapat sekitar 40 juta orang hidup dengan HIV dalam darahnya, dan diperkirakan setiap harinya 14.000 orang terinfeksi HIV. Itu artinya dalam setiap enam detik terdapat penambahan satu kasus baru. Pengidap HIV AIDS di Indonesia hingga akhir September lalu mencapai 18.442 orang tersebar di 32 propinsi dan 300 kabupaten/kota dengan rasio 3:1 antara laki-laki dan perempuan (berdasarkan data yang dikeluarkan Dirjen P2PL Departemen Kesehatan RI).

Kalau ditelusuri rata-ratanya adalah 8,15 per 100.000 penduduk jika memakai jumlah penyebut dari jumlah penduduk berdasarkan data BPS 2006. Secara kumulatif sejak ditemukan pertama kali kasus AIDS di Bali pada tahun 1987, cara penularannya melalui aktivitas seksual heteroseksual sebanyak 49,7%, IDU (Injecting Drug User) atau pengguna narkotika suntikan sebanyak 40,7%, lalu penularan lewat kasus laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki sebanyak 3,4% berdasarkan perilaku berisiko.

Dari usia, yang terinfeksi pada kelompok usia 20-29 sebanyak 49,57%, disusul kelompok umur 30-39 tahun sebanyak 29,84% dan kelompok 40-49 tahun sebanyak 8,71%. Terlihat jelas usia muda dan produktif adalah kelompok utama yang tertular HIV saat ini.

Sebenarnya sudah banyak kemajuan terjadi. Jauh dari yang dipikirkan dan diduga sebelumnya. Bali sebagai salah satu contoh propinsi yang cukup aktif melakukan kegiatan penanggulangan secara bersinergi, saat ini bisa mulai perlahan mengurangi laju pertambahan kasus baru HIV bila dibandingkan dengan angka nasional. Dari yang di awal-awal kemunculannya selalu menempatkan Bali di tiga besar jumlah kumulatif kasus  HIV AIDS terbanyak di Indonesia, saat ini Bali sudah berada di tempat kelima. Urutan sepuluh besar jumlah kasusnya berdasarkan propinsi di Indonesia saat ini adalah Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Papua, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sumatra Utara, Riau, dan Kepulauan Riau.

Di Bali, penularan HIV di lembaga pemasyarakatan, yang sebelumnya sempat mengkhawatirkan karena maraknya penggunaan narkoba suntikan bersama-sama, saat ini juga sudah makin terkendali. Peningkatan kasus-kasus baru dari kalangan pengguna narkoba suntikan semakin menurun drastis. Bisa jadi ini bukti bahwa penanggulangan berbasis komunitas dan kelompok khusus melalui pendampingan sebaya lewat program Harm Reduction cukup berhasil. Harm reduction adalah upaya-upaya yang ditujukan khusus buat kalangan berperilaku berisiko untuk mengurangi dampak buruk yaitu mencegah tertular dari HIV, misalnya dengan pembagian jarum suntik steril kepada pengguna narkoba suntikan.  Atau program rumatan methadone dengan pemberian oral (diminum), untuk menggantikan heroin yang disuntikkan.

Sayangnya, masalah masih tetap ada. Keberhasilan program Harm Reduction masih belum diikuti oleh keberhasilan dalam menekan kasus penularan HIV dari hubungan seksual yang tidak aman. Estimasi yang dibuat berdasarkan kalkulasi epidemiologis di Bali bisa banyak berbicara dalam memetakan kecenderungan terkini penularannya. Peningkatan estimasi pengidap HIV dan AIDS yang di awal tahun 2000an masih disebut dalam bilangan 3000 kasus (dengan rincian 1900 dari kasus-kasus seksual dan 1100 dari kasus-kasus narkoba suntik)  menjadi 4000 kasus di tahun 2004 (dengan rincian 2700 dari hubungan seksual tidak aman dan 1300 dari kasus-kasus narkoba suntik).

Terlihat estimasi peningkatan yang cukup berarti pada kasus-kasus baru infeksi HIV lewat cara-cara hubungan seksual yang tidak aman. Sedangkan peningkatan kasus dari penggunaan narkoba suntikan tidaklah terlalu cepat. Peningkatan kasus-kasus baru dari hubungan seksual sangat dimungkinkan mengingat pencegahan dan penanggulangan dari cara penularan yang satu ini tidaklah mudah, karena hubungan seksual memang cukup susah untuk dikontrol dan dikendalikan mengingat sifatnya yang sangat personal dan memerlukan kesadaran pribadi yang kuat dan pemahaman yang konsisten tentang risiko hubungan seksual yang tidak aman.

Akses masyarakat yang membutuhkan alat kontrasepsi juga masih sangat terbatas. Beberapa macam model kampanye telah dilakukan oleh berbagai lembaga, baik LSM maupun juga pihak swasta untuk mensosialisasikan penggunaan kondom, misalnya. Tetapi angka penggunaan kondom masih rendah, yaitu hanya sekitar 20-30%. Tentu saja ini masih sangat jauh dari yang ingin dicapai dalam Komitmen Sanur. Keberadaan femidom atau kondom perempuan juga masih terbatas dan belum banyak yang mengetahui. Padahal fungsi kondom tidak lagi hanya sebatas alat kontrasepsi, tetapi justru sebagai proteksi dan pencegahan terhadap infeksi menular seksual, termasuk pencegahan HIV di dalamnya.

Kasus-kasus infeksi HIV AIDS juga bisa tampil dalam bentuk baju yang lain dengan fenomena sosial yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Kondisi lembaga pemasyarakatan  yang sesak, berjejal dengan banyaknya narapidana membuat mereka yang mengidap HIV menjadi tidak leluasa untuk bisa sekedar menjaga kesehatan. Kejadian Tuberkulosis akhirnya menjadi sering muncul sebelum yang bersangkutan masuk fase AIDS. Dan kemunculan Tuberkulosis ini justru akhirnya bisa memperburuk daya tahan tubuh pengidap HIV.  Tuberkulosis adalah infeksi oportunistik terbanyak dari puluhan infeksi oportunistik yang menyebabkan pengidap AIDS meninggal.

Selanjutnya permasalahan lainnya: resistensi HIV terhadap obat ARV. Obat yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup pengidap HIV dengan menekan laju replikasi HIV dalam tubuh. Agar terapi ARV berjalan optimal,  pengidap HIV harusnya patuh minum obat, selama seumur hidup. Jika tidak disiplin dalam menepati waktu minum atau lupa minum satu hari, maka ARV tidak akan berfungsi optimal dalam menekan virus. Malah, HIV di dalam tubuh menjadi kebal terhadap ARV. Resistensi juga bisa terjadi jika seseorang terinfeksi virus yang sudah resisten. Repotnya, hingga saat ini Indonesia belum memiliki fasilitas memadai untuk melakukan tes resistensi.

Kemudian, banyak anak-anak tidak berdosa yang juga terdampak HIV. Sebagian dari mereka sudah terinfeksi HIV sejak lahir. Sampai dengan tahun  2008 lalu, misalnya terdapat 23 anak-anak yang menjadi yatim piatu karena orang tua meninggal lebih dulu di daerah Gerokgak, Buleleng. Jadi problema HIV AIDS tidak semata-mata menyasar kalangan yang berisiko tinggi seperti mereka yang gonta-ganti pasangan seksual tanpa menggunakan kondom, atau mereka yang menggunakan narkoba suntikan bersama-sama, tetapi justru sudah memasuki wilayah rumah tangga. Anak-anak dan ibunya.

Jika hal-hal seperti ini masih juga belum bisa menyadarkan masyarakat untuk ikut peduli dan mau memahami HIV AIDS dengan lebih baik, jangan salah jika apa yang akan dialami Bali, kira-kira akan bisa terjadi sesuai dengan skenario berikut (dengan perhitungan masih dengan estimasi 3000 kasus): sekitar 50% dari mereka yang saat ini mengidap HIV dalam kurun waktu 5 tahun akan memasuki fase AIDS.

Kemungkinan sekali separuh dari pengidap AIDS itu yaitu sekitar 750 orang akan membutuhkan perawatan. Tempat tidur yang dimiliki oleh RSUP Sanglah yang merupakan pusat pelayanan kesehatan rujukan saja hanya ada sekitar 800an. Bisa jadi sebagian besarnya akan dihuni oleh pengidap AIDS. Belum lagi disusul gelombang penderita baru yang semakin banyak. Kebutuhan akan dokter, perawat, obat, alat dan sebagainya akan juga meningkat. Bahwa di Bali akan berlangsung “ngaben” masal bisa saja mendekati kenyataan.

Bukan menakuti. Tapi itu semua bisa saja benar-benar terjadi. Semua bisa terjadi ketika upaya edukasi masyarakat secara menyeluruh belum juga tuntas sampai ke seluruh lapisan masyarakat. Ini mengakibatkan stigma dan diskriminasi masih terjadi. Upaya mengikis stigma sering kali juga belum bisa dibahasakan dengan baik dan seragam oleh berbagai kalangan. Malah hal seperti ini masih terjadi di tingkat pemahaman internasional sekalipun.

Sebuah kampanye agresif dan intimidatif juga bisa terjadi di negara-negara maju seperti yang terjadi dalam kampanye controversial “AIDS is Mass Murderer” yang malah semakin memunculkan stigma AIDS yang menyeramkan. Padahal kenyataannya tidaklah lagi menakutkan.  Harusnya HIV AIDS bisa tampil lebih soft tanpa muatan stigma. Layaknya bagaimana keberadaan Hepatitis C, Hepatitis B yang jauh dari stigma. Bahkan sejak ampuhnya ARV dalam menekan laju HIV dalam tubuh (walaupun belum bisa disembuhkan), sesungguhnya infeksi HIV sudah bisa disejajarkan dengan berbagai penyakit kronis lainnya seperti diabetes, penyakit jantung maupun hipertensi, yang mana pengidap penyakit-penyakit kronis ini juga bisa berakibat fatal bila yang bersangkutan tidak memelihara kesehatan, berpola hidup sembarang dan tidak teratur mengkonsumsi obat.

Berbagai kampanye, bentuk-bentuk dukungan sebaya dan edukasi tetaplah harus bisa terus digiatkan, tentu saja dengan metode-metode yang masif progresif yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat lewat cara-cara yang efektif. Tidak hanya asal dan sekedar seremonial. Sangat disayangkan kalau upaya edukasi dan diseminasi informasi ke masyarakat ditunggangi dengan kegiatan-kegiatan kampanye personal demi popularitas atau mengejar jabatan dan kedudukan semata. Kenyataannya ini masih saja terjadi. Keberadaan organisasi-organisasi dengan segmen khusus harusnya juga bisa selalu didukung.

Sebagi contoh, kehadiran kelompok siswa peduli AIDS di sekolah, misalnya, harusnya bisa ikut membangkitkan motivasi dan peluang yang lebih baik untuk selalu memberikan dukungan dan edukasi di tingkat lembaga pendidikan. Tentu saja rentetan berikutnya, pihak sekolah dan para guru dituntut untuk bisa selalu melengkapi diri dengan pengetahuan yang lebih baik dan up to date serta kemampuan yang baik dalam mentransfer informasi HIV AIDS yang benar buat siswanya. Karena sesungguhnya ini memiliki nilai strategis untuk memberikan akses informasi, rujukan pelayanan dan pemberdayaan anak dan remaja yang merupakan siswa di sekolah. Ini juga kesempatan yang strategis untuk mulai memberikan pemahaman yang benar tentang hak asasi dan hak-hak remaja, hingga bagaimana memberdayakan remaja dalam mengakses informasi dan pelayanan secara luas.

Semoga perayaan Hari AIDS Sedunia kali ini tidak lagi menjadi seremonial belaka. Masih banyak hal yang menjadi pekerjaan rumah buat semuanya. Bukan hanya buat dokter, aktivis LSM, atau pemerintah saja sesungguhnya. Tapi semuanya. Termasuk masyarakat. Justru masyarakat yang harus lebih banyak berperan kondusif.

Sudah saatnya memposisikan permasalahan HIV AIDS sebagai permasalahan bersama. Membiarkan mitos masih bertumbuh subur dan menganggap sepele hingga antipati terhadap upaya-upaya kepedulian terhadap fenomena HIV AIDS adalah juga bentuk tindakan tidak bertanggung jawab. Mempekerjakan pekerja seks tanpa mempedulikan nilai-nilai perilaku seks yang aman, melakukan diskriminasi dalam pelayanan kesehatan terhadap pengidap HIV dan AIDS, tidak membekali anak dengan pengetahuan yang cukup tentang seksualitasnya, tidak memberikan edukasi yang memadai di sekolah tentang kesehatan reproduksi dan seksual adalah beberapa contoh pembiaran dan ketidak pedulian yang akan berakibat fatal buat masa depan generasi muda.

Yang berarti pula sebuah upaya yang sering kali tanpa disadari merupakan sebuah upaya penghancuran bangsa. Berlebihan? Saya kira tidak. Jika kita tidak berbuat sesuatu bersama, ini semua hanya menunggu waktu. Karenanya, mari tetap peduli. Sekecil apapun.

Selamat Hari AIDS Se-Dunia. [b]

*Foto diambil dari blog Metta Dian.

Tags: BaliHIV/AIDSKesehatanOpini
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Oka Negara

Oka Negara

Oka Negara. Dokter tinggal di Jl Waturenggong, Panjer, Denpasar Selatan. Meski sudah tidak remaja, masih aktif di Kita Sayang Remaja (Kisara), kelompok relawan remaja Bali di bidang kesehatan reproduksi dan narkoba. Juga aktif di berbagai kegiatan terkait dua masalah tersebut, termasuk Bali Community Cares (BCC), kelompok peduli anak-anak korban HIV/AIDS di Bali.

Related Posts

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Bus Sekolah Gratis di Desa Tembok Barter Sampah Plastik

Kenapa Kita (Ayah) Takut Mengambil Rapor Anak?

23 December 2025
Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan

Terasering Subak sebagai Mitigasi Banjir Berbasis Lanskap

22 December 2025
Next Post
Waspada, Anjing Rabies di Tabanan

Rabies Menggila karena Gengsi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

17 January 2026
Gender dan Kesetaraan Performatif di Bali

Gender dan Kesetaraan Performatif di Bali

17 January 2026
Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

16 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia