Rekaman dan Peringatan dalam Perjamuan Terakhir

Bali memang surga bagi pariwisata dunia, begitu citranya. Bagaimana menurutmu?

Fotografer Syafiudin Vifick menggelar pameran foto bertema Perjamuan Terakhir. Pameran di Uma Seminyak ini akan berlangsung selama seminggu pada 3-11 Maret 2018. Melalui karya-karyanya, Vifick membagi kenangan sekaligus kekhawatirannya terhadap Bali.

Tema Perjamuan Terakhir, yang juga dikenal The Last Supper, selalu dikaitkan dengan memori lukisan yang terkenal yang didasari ajaran Alkitab itu. Tetapi Vifick tidaklah merespon lukisan tersebut.

Menurut kritikus seni dan kurator pameran Savitri Sastrawan, tema Perjamuan Terakhir secara harfiah menjadi refleksi terhadap apa yang terjadi di Bali setelah krisis Gunung Agung. Apakah erupsi Gunung Agung yang terjadi pada September – November 2017 lalu itu menjadi Perjamuan Terakhir untuk pariwisata Bali?

Refleksi terhadap Bali kontemporer itu tergambar dari karya-karya Vifick, fotografer dan pencerita visual, yang selama sepuluh tahun terakhir rajin menjelajah dan merekam sisi-sisi tak biasa Bali.

Dengan menggunakan medium fotografi, Vifick mengerjakan proyek?proyek personalnya berupa esai foto dan cerita perjalanan. Dia memang tertarik pada isu?isu kemanusiaan, sosial budaya, lingkungan, antropologi dan isu?isu kontemporer.

Sehari?hari Vifick mengerjakan fotografi komersial dan juga menjadi kontributor di beberapa media. Karyanya dimuat di beberapa media, seperti Sriwijaya Air Magz, National Geographic Traveller Indonesia, senidiharilibur.com dan berbagai media lainnya. Di Bali, dia membentuk komunitas fotografi ‘Semut ireng’ yang konsen pada fotografi lubang jarum.

Saat ini, Vifick juga mendirikan program fotografi #SayaBercerita, sebuah inisatif dan gerakan untuk bercerita melalui medium fotografi. Program tersebut berupa kelas fotografi, pameran fotografi dan pembuatan buku fotografi. Selain itu, Vifick aktif mengikuti pameran fotografi dan seni rupa, serta mengajar fotografi di berbagai daerah di Indonesia.

Karya-karya yang dia pamerkan adalah hasil dari perjalannya ke berbagai tempat di Bali. Mengunjungi tempat-tempat yang dia baca di internet, atau sekedar jalan tanpa tujuan dan referensi. Dari tempat hits dan populer, hingga tempat terpelosok yang sinyal internet belum menjangkaunya.

Menurut Vifick, mitos bahwa Bali itu indah adalah nyata. Alamnya sungguh kaya akan panorama; sawah terasering yang hijau, danau-danau yang indah, gunung dan bukit yang menakjubkan, desa-desa yang asri, dan pantai-pantai yang selalu dirindukan wisatawan dari seluruh penjuru dunia.

Keindahan Bali makin lengkap dengan adat istiadat yang melahirkan produk seni dan kebudayaan yang amat kaya, tari-tarian, musik tradisional, hingga upacara-upacara adat sakral tetapi sangat menarik untuk dipelajari dan dinikmati. Toh, di balik itu keindahan itu, Bali juga menyimpan kerentanan.

Turis memasal yang ada di Bali telah mengambil banyak kesempatan untuk melakukan apapun yang dapat mendatangkan uang. Budaya dipergunakan sebagai pencitraan, bisnis berkembang mengambil alih lahan seperti tebing, pantai dan pulau.

“Sebuah dunia kapitalistik di dalam dunia pariwisata tersebut,” tulis Savitri dalam kurasi pameran.

Di luar dunia pariwisata tersebut, orang-orang Bali dan orang-orang yang peduli dengan kondisi Bali yang memburuk mengambil badan jalan dan ruang-ruang terbuka untuk menyuarakan dirinya sesering mungkin – mungkin didengar, mungkin tidak.

Suara-suara untuk mengingatkan Bali yang kian rentan itu menjadi bagian dari fenomena yang direkam oleh Vifick.

Perjamuan Terakhir ini mengundang para pengunjung untuk membaca Bali dari foto- foto yang disuguhkan sebagai Menu Hari Ini, merasakan Aksi, terror iklan Land For Sale, dan produk-produk industri pariwisata, semua terdokumentasi selama 10 tahun terakhir Vifick menjelajahi Bali.

Bali memang surga bagi pariwisata dunia, begitu citranya. Bagaimana menurutmu? Mari datang ke “Perjamuan Terakhir”, kita bicara dan membaca Bali hari ini dengan berbagai sudut pandang. [b]

Lokasi pameran sebagaimana dalam peta.