Olah Sampah Organik Jadi Pupuk Cair di Desa Dukuh

Conservation International (CI) Indonesia dengan dukungan Nissan Global telah menyelenggarakan pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dan sisa daun Gebang yang sudah diambil seratnya untuk menjadi kompos dengan kandungan nutrisi yang lebih baik akhir Maret lalu.

Pelatihan dilakukan di Balai Kelompok Darma Kerti yang diikuti anggota Kelompok Tani Ternak Darma Kerti di Dusun Bahel, Desa Dukuh. Dalam pelatihan ini, peserta diberikan komposter untuk pengolahan di rumah masing-masing. Diharapkan peningkatan keterampilan ini ini akan turut membantu memperbaiki kualitas lahan perkebunan setempat.

“Melatih warga untuk bisa membuat pupuk organik merupakan pendekatan untuk meningkatkan kualitas tanah dari tingkat rumah tangga. Kami bantu sediakan komposter aerob,” ujar Adi Mahardika selaku project officer program Reforestasi Bentang Alam Gunung Agung CI Indonesia.

Sebagai tindak lanjut dari pelatihan tersebut, setiap rumah anggota kelompok tani Darma Kerti difasilitasi komposter untuk mengolah sampah organik skala rumah tangga. Nyoman Darma, Ketua Kelompok Tani Darma Kerti menyambut baik hal tersebut.

Sebanyak 15 komposter yang diberikan kemudian dibagikan kepada kelompoknya. Komposter cair merupakan alat sederhana yang digunakan untuk membantu kerja bakteri pengurai aneka material organik berupa sisa sayur, buah dan nasi agar menjadi pupuk organik. Biasanya komposter skala rumah tangga terbuat dari ember atau tong plastik berukuran 20-200 liter. Komposter memiliki instalasi untuk sirkulasi udara didalamnya sehingga membantu proses pengomposan aerob dan mempercepat proses penguraian sampah.

Sampah organik rumah tangga seperti sisa sayur dan buah dipotong kecil-kecil kemudian dimasukkan ke dalam komposter. Bioaktivator EM4 ditambahkan ke dalam sampah tersebut. Setelah beberapa hari/minggu, komposter akan menghasilkan cairan sebagai hasil dari proses fermentasi. Cairan dialirkan melalui selang komposter dan ditampung dalam wadah penampungan. Dalam wadah penampungan, cairan ditambahkan EM4 dan disimpan selama seminggu. Hasil inilah yang dinamakan Pupuk Organik Cair (POC).

POC dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair dengan perbandingan 1 POC dengan 10 bagian air. POC akan memberikan nutrisi tambahan untuk tanaman-tanaman perkebunan warga. “Saya coba buat dengan memasukkan sampah sayur dan buah ke dalam komposter. Sudah menghasilkan 1 liter POC, nantinya akan digunakan menyiram tanaman di pekarangan rumah,” cerita Nyoman Darma sambil menunjukkan POC yang ditampung dalam kemasan air mineral.

Upaya pengolahan sampah organik menjadi POC adalah salah satu bentuk pengelolaan lahan kritis yang dimulai dari tingkat rumah tangga ungkap Adi Mahardika. “Diharapkan dapat meningkatkan kesuburan pohon-pohon di kebun masing-masing keluarga. Ini langkah kecil, tapi pohon-pohon yang tumbuh subur adalah kunci bentang alam yang sehat,” harapnya.