
Penulis: Aksaraya
Di banyak ruang publik hari ini, perempuan masih belajar untuk berani bersuara tanpa harus merasa takut mempertaruhkan rasa amannya. Banyak pengalaman perempuan tentang tubuh, ingatan, dan perspektif terhenti di dalam diri, bukan karena tidak layak didengar, tetapi karena belum ada ruang yang benar-benar aman untuk menerimanya. Women in Voice 2026 lahir dari kegelisahan ini dengan membangun sebuah ruang aman menulis yang membuka kesempatan bagi perempuan untuk bersuara melalui karya tulis.
Program Women in Voice berlangsung selama dua hari, 30–31 Januari 2026, dan diselenggarakan secara daring. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Women Insight Lab yang digelar sejak 28 Januari hingga 31 Januari 2026. Pelaksanaan program ini secara daring telah berhasil diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia, dengan latar belakang pengalaman dan konteks sosial yang beragam. Melalui pendekatan literasi kritis yang inklusif dan berperspektif gender, program ini menghadirkan ruang belajar, refleksi, dan ekspresi bagi peserta untuk menyuarakan pengalaman personal sekaligus sosial.
Women Insight Lab sendiri merupakan ruang pembelajaran dan refleksi yang berfokus pada penguatan literasi, kesehatan, kesadaran diri, serta keberanian perempuan untuk bersuara. Program ini merupakan bagian dari implementasi Women Hub Catalyst Forum, sebuah inisiatif kolaboratif yang didukung jejaring organisasi masyarakat sipil serta mitra pemerintah, termasuk Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan Kementerian Agama (Kemenag).
Sastrapuan: Tubuh, Ingatan, dan Perspektif

Dalam Women in Voice, tema yang diangkat adalah Sastrapuan: Tubuh, Ingatan, dan Perspektif. Tema ini menjadi pintu masuk bagi peserta untuk membaca ulang pengalaman hidup mereka sebagai sumber pengetahuan yang lahir dari tubuh, ingatan, dan pengalaman perempuan.
Menurut Adinda Silvia Maharani, pendiri Komunitas Edukasi Menulis Aksaraya sekaligus penanggung jawab kegiatan Women in Voice, tema ini menegaskan posisi karya tulis perempuan sebagai warisan intelektual.
“Melalui tema Sastrapuan, kami ingin menegaskan bahwa karya tulis adalah legacy perempuan—jejak pikiran, tubuh, dan ingatan yang layak dirawat dan diwariskan. Menulis bukan sekadar menghasilkan teks, tetapi cara perempuan memaknai hidup dan menjadikannya pengetahuan,” ujarnya.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta mengikuti sesi penguatan isu perempuan, refleksi kritis, serta praktik kepenulisan. Banyak peserta secara terbuka membagikan pengalaman personal, kegelisahan, hingga cerita yang selama ini sulit disuarakan di ruang publik.
Ruang Aman yang Inklusif

Ruang aman yang dibangun dalam Women in Voice tidak berhenti pada wacana. Sebagai bentuk komitmen terhadap inklusivitas, kegiatan ini menghadirkan penerjemah bahasa isyarat melalui kolaborasi dengan GERKATIN Jawa Barat, sehingga kelas kepenulisan ini ramah bagi teman-teman Tuli. Inisiatif ini menegaskan bahwa ruang literasi dan produksi pengetahuan seharusnya dapat diakses oleh semua.
Menariknya, kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh perempuan. Sejumlah peserta laki-laki turut hadir dengan kesadaran bahwa menghadirkan ruang aman dan kebebasan berekspresi bagi perempuan membutuhkan empati dan dukungan lintas gender. Kehadiran ini memperkuat posisi Women in Voice sebagai ruang terbuka yang bertumpu pada solidaritas.
Dampak ruang aman yang dibangun dalam Women in Voice juga dirasakan langsung oleh para peserta. Salah satu peserta menyampaikan apresiasinya atas suasana kelas yang hangat dan mendukung proses berbagi:
“Terima kasih kakak-kakak semua yang sudah menghadirkan ruang aman ke tengah-tengah kami. Narasumbernya luar biasa dan sangat membumi. Rasanya ingin ada sesi lanjutan bersama para pembicara,” ungkap salah satu peserta.
Testimoni ini mencerminkan bagaimana Women in Voice tidak hanya menghadirkan materi, tetapi juga membangun relasi belajar yang aman, setara, dan bermakna bagi peserta.
Materi Kuat dari Pembicara Perempuan Berpengalaman

Pada hari pertama, sesi dipandu oleh Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd., akademisi, aktivis perempuan, sastrawan, sekaligus pendiri Singaraja Literary Festival. Dalam materinya, Sonia menekankan bahwa ingatan perempuan bukan sekadar kenangan personal, melainkan daya hidup dan bentuk produksi pengetahuan.
“Ingatan perempuan memeram kekuatan yang mampu merekonstruksi cara berpikir, bertindak, dan bertahan. Ingatan yang hidup dalam tubuh, rasa, dan jiwa akan berevolusi menjadi karya dan pilihan respons perempuan sepanjang hidupnya,” tuturnya.
Hari kedua dilanjutkan oleh Ni Nyoman Ayu Suciartini, M.Pd., penulis dan aktivis sastra yang dikenal melalui karya-karyanya di ranah sastra anak dan dewasa. Materi hari kedua berfokus pada praktik kepenulisan yang berpijak pada kesadaran akan privilese, kebebasan, dan sejarah panjang perjuangan perempuan.
“Kebebasan memilih dan menentukan hidup tidak hadir begitu saja. Ia lahir dari sejarah panjang perjuangan perempuan. Menulis menjadi cara untuk menyadari, merawat, sekaligus mempertanyakan kebebasan itu,” ungkapnya.
Kedua pembicara dikenal aktif menulis dan terlibat dalam gerakan literasi serta isu perempuan, sehingga materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praksis dan dekat dengan pengalaman hidup peserta.
Menuju Arsip Intelektual Perempuan

Sebagai luaran utama dari Women in Voice, peserta didorong menghasilkan karya tulis reflektif yang berangkat dari pengalaman, ingatan, dan perspektif personal perempuan. Dari seluruh proses pembelajaran dan pendampingan, terpilih 18 penulis yang karyanya melalui proses kurasi oleh lima kurator serta penyuntingan oleh editor naskah. Karya-karya tersebut kemudian dihimpun dalam sebuah buku antologi kolaboratif antara Women Insight Lab dan Komunitas Aksaraya berjudul Sastrapuan: Tubuh, Ingatan, dan Perspektif.
Buku ini tidak hanya menjadi luaran program, tetapi juga berfungsi sebagai arsip intelektual perempuan yang merekam cara perempuan memaknai tubuh, mengolah ingatan, dan membangun perspektif kritis melalui tulisan. Antologi ini menegaskan bahwa pengalaman perempuan adalah pengetahuan yang sah, bernilai, dan layak dihadirkan ke ruang publik.
Adinda Silvia Maharani, pendiri Komunitas Aksaraya sekaligus penanggung jawab program Women in Voice, menegaskan bahwa program ini lahir dari kebutuhan nyata akan ruang aman yang berkelanjutan.
“Women in Voice kami rancang sebagai wadah inklusif yang menjawab kebutuhan perempuan akan ruang berpikir kritis dan berekspresi melalui karya tulis. Kami percaya kebebasan berpikir dan bersuara hanya bisa tumbuh di ruang yang aman, setara, dan saling mendengar. Melalui tema ??strapuan, kami ingin menegaskan bahwa karya tulis adalah warisan perempuan yang merekam pikiran, tubuh, dan ingatan sebagai bagian dari sejarah dan pengetahuan bersama,” ujarnya.
Keberhasilan pelaksanaan Women in Voice 2026 tidak terlepas dari kerja kolektif panitia, dukungan mitra, komunitas, serta kepercayaan para peserta yang hadir secara utuh dalam proses belajar. Kehadiran buku Sastrapuan: Tubuh, Ingatan, dan Perspektif menjadi penanda bahwa ruang aman bagi perempuan untuk berpikir, menulis, dan bersuara bukan hanya dibutuhkan, tetapi mendesak. Women in Voice hadir sebagai upaya konkret untuk menjawab kebutuhan tersebut melalui proses belajar yang inklusif, reflektif, dan berkelanjutan.
sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet









