
“Kami ingin mengembalikan hak asasi anak dan menghentikan eksploitasi anak,” ungkap Mey, kepala tim dan pekerja sosial di Bali Street Mums Project.
Bali Street Mums merupakan sebuah organisasi non profit yang telah berdiri sejak tahun 2015. Organisasi ini melakukan pemberdayaan terhadap perempuan dan anak, terutama anak-anak jalanan. Histeria Pewarta Warga BaleBengong 2024 mengundang anak-anak ini menari.
Perempuan dan anak-anak di Bali memiliki kerentanan tinggi mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Kemiskinan, kekeringan, dan tingkat pengangguran yang tinggi secara tidak langsung berpengaruh terhadap eksploitasi anak.
Ketika berhenti di lampu merah atau mengunjungi tempat makan di pinggir jalan, pernahkah Anda melihat anak-anak menjajakan barang dagangannya? Mereka biasanya membawa barang dagangan berupa tisu, jepit rambut, atau karet rambut. Tindakan tersebut merupakan eksploitasi anak.
Orang dewasa menyuruh anak-anak berjualan, sedangkan mereka memantau dari jauh. Ada pula pengemis di jalanan yang membawa anak mereka untuk menarik rasa iba masyarakat. Hal inilah yang membuat Mey tergerak untuk turun ke jalan menghentikan praktik eksploitasi anak.
Berbagai sudut jalan di Denpasar telah Mey kunjungi. Ia mengajak anak jalanan untuk ikut dengannya ke safe house Bali Street Mums. Pekerjaan Mey tidak mudah. Banyak waktu yang ia habiskan di jalan untuk mendekati anak-anak, menyelamatkan hak asasi anak-anak di jalan.
“Saya bawa buku, bawa peralatan ATK, makanan. Saya jalan di tempat mereka nongkrong. Saya duduk dengan mereka, saya ngobrol dengan mereka,” ungkap Mey ketika ditanya cara melakukan pendekatan ke anak-anak di jalan. Pendekatan ini tidak bisa berlangsung sehari saja, Mey biasanya akan kembali memantau mereka dari jauh dan meminta kontak yang dapat dihubungi.
Tidak semua meraih uluran tangan Mey, banyak pula yang menolak. Mey juga kerap diminta uang ketika melakukan pendekatan. Bahkan, Mey pernah berurusan dengan aparat penegak hukum ketika memberikan makanan kepada anak jalanan.
Hal yang selalu ia tanyakan ketika berhadapan dengan anak-anak adalah kemauan mereka untuk sekolah. “Mau kak, tapi ibu nggak ngebolehin, diajak di jalan terus,” begitu ucapan anak-anak yang sering didengar Mey ketika ditanya keinginan mereka untuk sekolah.
Pendidikan adalah salah satu hak asasi anak. Hak ini yang direnggut oleh orang tua mereka dengan mengajak anaknya di jalan. Bali Street Mums ingin mengembalikan hak tersebut kepada mereka.
“Untuk anak-anak kami memberikan edukasi. Kami berhubungan dengan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Dharma Wangsa untuk membina anak-anak,” ungkap Mey. Selain edukasi, Bali Street Mums juga membuka gerbang setiap pagi untuk anak jalanan yang lapar. Mereka juga menyediakan bantuan medis dan konseling untuk anak jalanan yang memiliki gangguan medis atau menjadi korban kekerasan.
Selain pembinaan anak, Bali Street Mums juga membina perempuan. Hal ini dilakukan karena banyak ibu yang membawa anak mereka ketika mengemis di jalanan. Ibu-ibu ini perlu dibina dan dibekali keterampilan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih layak.
Hingga saat ini terdapat 400 ibu dan anak yang telah mendapatkan pembinaan. Bali Street Mums memiliki dua safe house yang berlokasi di Denpasar dan Ubud. Masing-masing safe house kurang lebih dapat menampung 30 anak.
Bali Street Mums ingin membuktikan bahwa semua anak layak mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang bahagia. Banyak prestasi yang diraih oleh anak-anak binaan Bali Street Mums, salah satunya adalah prestasi di bidang tari yang diraih oleh Ni Luh Suci.
sangkarbet kampungbet





