• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, June 11, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Material Bangunan Langka, Banyak Proyek Macet

Made Gunawan by Made Gunawan
23 October 2017
in Berita Utama, Kabar Baru, Sosial
0
0
Lokasi penambangan pasir di Karangasem, Bali. Foto Anton Muhajir.

 

Status Gunung Agung mulai berdampak pada pembangunan di Bali.

Status Gunung Agung masih Awas, berada pada tingkat tertinggi. Setelah ditetapkan statusnya menjadi awas, Gunung Agung tidak hanya menyebabkan ribuan penduduk di sekitar gunung mengungsi, namun juga berdampak pada roda pembangunan di Bali selatan.

Selama ini bahan material bangunan di Bali seperti pasir dan batu koral sebagian besar diambil dari daerah sekitar Gunung Agung seperti Rendang, Bebandem, dan Selat. Saat ini semuanya mengalami kenaikan harga yang signifikan.

Sebagai contoh, jika sebelum status awas pasir pasang karangasem untuk sampai di daerah Bali Selatan yakni Bukit Jimbaran, satu truknya dibandrol harga Rp 1,5 juta. Karena ditutupnya galian pasir, saat ini harganya melambung menjadi berkisar Rp 2,5 juta – Rp 3 juta.

Yang paling naik drastis adalah batu koral. Jika sebelumnya satu truk isian kubik harganya berkisar Rp 2 juta, namun kini untuk sampai di daerah bukit, harganya bisa mencapai Rp 5 juta.

Seperti kita ketahui pasir, batu dan koral adalah tiga komponen penting dalam membangun rumah yang berstruktur beton. Koral dan batu adalah agregat atau pengikat stuktur campuran semen dan pasir.

Para sopir truk mengaku mereka harus mencuri-curi kesempatan untuk mengambil paair di daerah Gunung Agung itu. Itupun harus antre dan menunggu beberapa hari. Tidak seperti dulu, sekarang ada permintaan, sekarang bisa tersedia.

Kondisi ini menyebab beberapa proyek seperti perumahan dan vila memilih menghentikan sementara pekerjaanya.

Selain proyek perumahan dan vila, banyak juga perusahaan pabrik batako memilih menghentikan produksinya. Mereka mengeluhkan harga pasir yang sangat tinggi, sehingga mereka khawatir tak mampu menutupi biaya produksi.

Di bidang sumber daya alam tak terbarukan, potensi keseluruhan bahan galian golongan C tahun 2005 adalah 10.234.374.721 meter kubik. Mereka tersebar di sembilan kabupaten/kota.

Bahan galian tersebut antara lain pasir 502.692.244 meter kubik, batu kali/batu andesit 31.150.632 meter kubik, batu tabas/batu lava 300.000 meter kubik, batu paras 603.004.250 meter kubik, batu kapur/limestone 10.010.652.032 meter kubik, batu apung 5.522.000 meter kubik, dan tanah liat 81.053.563 meter kubik.

Dengan tingginya kebutuhan bahan galian seperti batu paras, sirtu, kerikil, dan sebagainya maka cadangan bahan galian akan cepat habis dalam waktu singkat.

Menimbang ketergantungan yang sangat tinggi akan bahan material alam tak terbarukan itu, dan kerusakan akibat pertambangannya, sudah saatnya kita memikirkan untuk mencari bahan material alternatif lain di luar bahan yang tak terbarukan itu. Misalnya batako berbahan dasar busa atau batako ringan, rumah berstruktur baja berat, atau pembangunan rumah knock-down yang ringan dan efisien. [b]

Tags: BaliGunung AgungSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Made Gunawan

Made Gunawan

Made Gunawan. Tertarik pada dunia tulisan, ingin belajar menulis.

Related Posts

Abrasi yang tak Pernah Henti di Pantai Kuta

Hilangnya Pesisir Bali: Memahami Akar Krisis Abrasi dan Jalan Keluarnya

4 June 2026
Mai Memunyi!

Mai Memunyi!

30 May 2026
Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

26 May 2026
Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

17 May 2026
Next Post
Menkominfo Ajak Pemuda Bali Kuasai Teknologi

Menkominfo Ajak Pemuda Bali Kuasai Teknologi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Pembangunan Infrastruktur Energi tidak Responsif pada Masyarakat Rentan

Pembangunan Infrastruktur Energi tidak Responsif pada Masyarakat Rentan

10 June 2026
Ketika Sungai Mati Membawa Banjir dengan Material Pasir dan Batu

Perencanaan Desa Tangguh Bencana di Karangasem

10 June 2026
Plastik di lautan

Festival Laut 2026: Mengenali Berbagai Masalah di Laut termasuk Perdagangan ABK

9 June 2026

Warisan Kuliner Peranakan Kian Tergerus di tengah Hidup Serba Instan

9 June 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia