• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, January 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Agenda

Mari, Berbagi Peduli pada Bumi

Saylow by Saylow
18 April 2011
in Agenda, Berita Utama, Lingkungan
0
0

Teks dan Ilustrasi Serambi Art Antida via @saylow

Seringkali kita mendengar istilah hari bumi atau jam bumi (earth hour). Pada waktu-waktu tersebut masyarakat dunia sejenak bersama-sama mengurangi emisi karbon dengan membatasi penggunaan energi, atau dalam bentuk kegiatan lainnya.

Kita melihat adanya perubahan iklim yang ekstrim akibat pemanasan bumi secara global. Semua ini menurut para ahli sebagian besar merupakan akibat berlebihnya kadar emisi karbon di permukaan bumi yang mengakibatkan efek ‘rumah kaca’. Akibat efek ini panas matahari yang menerpa bumi tidak bisa terpantulkan secara sempurna. Akibatnya, panas tersebut mengakibatkan bencana di muka bumi yang terjadi akhir-akhir ini.

Pemanasan global dapat terjadi di antaranya karena pemborosan energi yang digerakan dengan cara pembakaran fosil yang kita kenal sebagai minyak bumi. Pembakaran ini menghasilkan emisi karbon. Pemanasan global juga terjadi akibat penggunaan alat pendingin udara, kebakaran hutan, pengrusakan dan penebangan hutan, pencemaran udara, limbah sampah baik plastik maupun elektronik, dan lain-lain.

Mari kita mencoba melihat salah satunya sebagai bahan renungan kita. Bagaimana kita menyikapi sampah plastik dalam kehidupan kita sehari-hari. Berapa banyak limbah kantong plastik kresek yang keluar dari pasar swalayan maupun pasar tradisional sebagai bungkus pada saat kita belanja di sana.

Bahkan, standar pelayanan pasar-pasar swalayan, yang memisahkan barang belanjaan sesuai dengan kelompok, misalkan sabun dengan susu kaleng, turut mengakibatkan semakin banyak lagi kantong plastik yang kita bawa pulang.

Dulu ada kampanye dari beberapa pasar swalayan untuk gerakan ‘hijau’. Gerakan ini menawarkan tas kepada para konsumen agar tidak perlu membawa kantong plastik setiap habis belanja. Namun, gerakan ini kelihatannya saat ini sudah berkurang bahkan mungkin sudah hilang. Atau memang masyarakat tidak peduli.

Toh, pikirannya kalau bisa bawa kantong plastik banyak, lumayan bisa disimpan dirumah untuk bungkus sampah atau digunakan lagi untuk bawa barang.

Tanpa disadari perilaku kita ini akan meningkatkan limbah plastik. Padahal, plastik tidak bisa didaur secara alami dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk hancur.

Kemana sampah-sampah plastik ini harus dibuang?

Jika setiap keluarga mulai menyadari hal ini dan belajar disiplin tentu tidak diperlukan lagi kantong plastik berlembar-lembar. Setiap akan berbelanja, sebaiknya membawa tas khusus yang agak besar untuk tempat membawa seluruh hasil belanja saat itu.

Jika ini dilakukan terhadap misalkan 500 orang yang belanja di pasar swalayan, berapa banyak kita bisa menekan jumlah limbah ini. Apalagi dilakukan oleh seluruh warga Negara Indonesia. Bukan tidak mungkin kantong plastik di pasar-pasar swalayan dan tradisional suatu saat tidak diperlukan lagi.

Hal sama juga terjadi apabila belanja makanan yang dibungkus untuk dibawa pulang. Berapa banyak limbah styrofoam yang juga tidak bisa didaur ulang oleh alam dapat dihindari?

Tanamkan budaya ini kepada keluarga, teman-teman dan anak-anak kita. Hal kecil ini pasti akan membantu menyelamatkan bumi kita dan lebih memberikan arti pada hari bumi yang selalu kita rayakan. Ini adalah sebagain contoh yang dapat kita lakukan dalam rangka turut menjaga lingkungan dan bumi kita untuk masa depan.

Jangan lupa. Bumi ini bukan diwariskan oleh nenek moyang kepada kita, melainkan kita meminjam dari anak dan cucu kita. Mari, selamatkan Bumi kita!

Nah, dalam rangka Hari Bumi 22 April 2011 nanti, kami akan mengadakan serangkaian acara seperti exhibition, trash art, album compilation launching and music perfomance. Yang akan ikut meramaikan acara festival ini antara lain Dialog Dini Hari, Navicula, Nosstres, Ray D’Sky, Ayu Laksmi, dan Joni Agung & Double T. Tempatnya di Serambi Art Antida Jl Waribang no 32 Kesiman, Denpasar.

Tunjukan kepedulianmu terhadap lingkungan sekitarmu. Di sini kamu bisa ikut menyumbang untuk membantu program dari Yayasan Bali Cantik Tanpa Plastik.

Minimum Donation Rp 15.000. Hasil donasi akan disalurkan ke yayasan Bali Cantik Tanpa Plastik.

Our earth, our home, our future… [b]

Tags: AgendaDenpasarKomunitasLingkungan
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Saylow

Saylow

Saylow, putra asli Karangasem tepatnya Dusun Tanahampo. Berlatar belakang ilmu teknologi informasi dan desain, memilih managemen seni dan pertunjukan sebagai jawaban atas kebutuhan kesehatan mental dan menyandarkan kepulan asap dapur dengan melakukan usaha dagang parcel buah rumahan.

Related Posts

Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

30 December 2025
Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan

Terasering Subak sebagai Mitigasi Banjir Berbasis Lanskap

22 December 2025
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Next Post
Tradisi Abadi Menghormati yang Mati

Tradisi Abadi Menghormati yang Mati

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

10 January 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Keresahan dalam Selimut Rust en Orde

9 January 2026
Menelusuri DAS Tukad Badung, Sungai Tengah Kota yang Terbengkalai

Tumpang Tindih Tata Kelola Air di Bali

9 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia