• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, December 15, 2025
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Makna 22 Tahun Bom Bali dan Tantangan Kebhinekaan

Mansurni Abadi by Mansurni Abadi
15 October 2024
in Kabar Baru, Opini
0 0
0
Potret Ngesti Puji Rahayu atau Yayuk di tempat kerjanya di jalan Teuku Umar pada tahun 2012 sebagai assiten rumah tangga. Yayuk berpose dengan foto potret dirinya sebelum mengalami tragedi Bom Bali. JP/ Anggara Mahendra

Tepat pukul 23.00 waktu Bali, satu jam sebelum bergantinya 12 Oktober,  di area yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan sampai mendekati pagi itu, tiba-tiba terdengar dentuman yang berlanjut menjadi lautan darah dengan jeritan kesakitan. tidak peduli apa agama, suku, atau kebangsaan mereka yang berada dilokasi itu semuanya larut dalam duka dan trauma berkepanjangan.  Orang tua kehilangan anaknya, begitupun sebaliknya. Mereka yang selamat, menjalani hari-hari yang tidak lagi sama.

Sari Club (SC) dan Paddy’s Pub (PP) serta sekitarnya hancur lebur tak tersisa, akibat perbuatan dari mereka yang merasa memperjuangkan agama dan membela Tuhan padahal sebaik- baiknya memperjuangkan hal baik itu, sependek pengetahuan saya adalah merawat kehidupan bukan sebaliknya. Tragedi ini hanya berselang 2 tahun dari tragedi WTC, yang kembali menarik peradaban di awal abad baru  kembali menegang.

Kehebohan terjadi keesokan harinya, saya yang pada ketika itu masih duduk di bangku Sekolah Dasar masih mengingat berita pagi dipenuhi tayangan penuhnya rumah sakit dengan korban luka maupun tewas, siaran di lokasi kejadian menunjukkan banyak orang-orang yang dipapah berlumuran darah.  Saat itu  loper koran yang selalu ada di setiap lampu merah meneriakkan headline “Bali diguncang bom, ratusan orang tewas.”

Meskipun para pelaku sudah mendapatkan ganjarannya, dan ada pula yang mengubah dirinya namun tragedi 22 tahun silam  yang kembali terulang beberapa tahun setelahnya sudah memberikan duka bagi Bali dan Indonesia. Memaafkan memang mudah, namun tidak dengan melupakan. Sebagaimana kita mengutuki “kejahatan  kemanusiaan” di belahan bumi lainnya, tragedi ini menjadi ingatan betapa kejamnya kejahatan kemanusiaan yang diakibatkan oleh mereka yang tidak memiliki hati yang damai, laku yang benar, apalagi pemahaman yang senantiasa merawat kehidupan dan tidak sempit itu.

Sampai saat ini, radikalisme dalam bentuk ekstrimnya yang berujung terorisme itu masih menjadi bahaya yang senantiasa mengintai kita kapan saja. Korbannya bisa siapa saja, bahkan saya pun, meskipun secara teologis satu identitas dengan mereka yang pada ketika itu melakukan perbuatan ini. Ketika saya meneliti perihal konflik di Thailand selatan ada adagium “peluru tidak akan bertanya latar belakang sasarannya”, begitu juga dengan bom.

Lalu apa yang dapat kita pelajari dari tragedi ini dan rangkaian tragedi yang sama setelahnya. Selain merawat ingatan sekaligus mengutukinya, rasanya kita pun perlu juga merenungi kembali kondisi kebhinekaan kita yang akhir-akhir ini tidak baik-baik saja.

Sebagaimana upaya kita meraih kesejahteraan, lingkungan, ataupun keadilan. Toh, merawat kebhinekaan juga sama pentingnya, agar  persatuan bangsa ini dapat bertahan sewindu seribu tahun lalu sebagaimana kemerdekaan, seperti pidato Soekarno yang mengelagar itu.

Menjaga toleransi dari ambang Senjakala

Saya bukanlah penduduk bali namun lahir dan besar di Provinsi Lampung, yang memiliki komunitas warga Bali yang lumayan besar di samping Jawa sebagai pendatang.  Toleransi yang terbangun antar warga Bali yang mayoritas Hindu, Muslim maupun Kristen ataupun menganut kepercayaan dengan  suku Lampung sebagai pribumi asli terjalin cukup baik di banyak wilayah. Kawan-kawan masa kecil saya pundatang dari latar belakang ketiga etnis ini.

Meskipun hubungan ini tercoreng dengan adanya tragedi bentrok antar kampung yang dibingkai seakan-akan telah terjadi perang antara pribumi vs Bali sebagaimana yang dahulu terjadi di Sampit ataupun Ambon, keretakan persatuan itu kembali terjalin dengan cepat.  Namun sebagaimana tragedi pada umumnya, retak yang terobati tetaplah menyisakan tanda yang darinya kita terus menerus belajar untuk merawat sembari dihantui ketakutan  agar tidak terjadi lagi peristiwa yang sama

Toleransi kita mungkin terlihat baik, setidaknya kita masih bersatu dalam bingkai NKRI, namun dari level atas sampai akar rumput selalu ada hal-hal yang dapat kita kategorikan bertentangan dengan toleransi itu sendiri.

Penegakan hukum yang tebang pilih terhadap pelaku intoleran, politik identitas yang toxic, pembatasan ruang ibadah, dan upaya-upaya persekusi hanya karena keyakinan yang berbeda terjadi setiap saat adalah sebagian gambaran yang mengajak kita menilai kembali kondisi intoleransi kita apalagi radikalisme dalam bentuk pemahaman ekstrim kiri maupun Kanan merasuk ke pikiran-pikiran generasi muda sehingga mereka semua hidup dalam gelembung sosialnya sendiri.

Merawat toleransi itu sebenarnya mudah, yang rumit hanya penafsirannya saja, cukuplah kita menghindari pemikiran dan perilaku merasa yang paling penting secara kolektif maupun individual apalagi mengembangkan naluri bermusuhan. Gantilah dengan pemikiran dan perilaku saling menghargai tanpa harus mengorbankan ataupun menganggu pihak lain. Naluri persahabatan harus kita utamakan.

Jika kita menyebut Indonesia adalah negara demokrasi dan tetap meyakini hal itu, kita mestinya memahami demokrasi melampuai sebatas politik praktis yang penuh topeng itu namun harus masuk hingga ke level kehidupan sehari-hari yang merawat keberagaman sebagai bagian dari demokrasi. Asalkan keberagaman tadi tidak bertentangan dengan nilai, moral, ataupun etika masyarakat yang dapat memunculkan ketidakstabilan.

Merawat keberagaman ini selain memerlukan interaksi juga memerlukan pembelajaran. Mungkin tidak semua orang menyukai membaca buku apalagi budaya diskusi ilmiah namun setidaknya kita dapat menghindari semua informasi yang bersifat merusak akal budi kita termasuk konten-konten yang menjuruskan kita pada perilaku terorisme.

Bali dan Indonesia jangan sampai terluka lagi

Menjadi warga negara yang bertangung jawab, dalam ilmu sosial diistilahkan responsible citizehsip yang responsif terhadap segala sesuatu dan menginternalisasi sikap bertanggung jawab untuk merawat persatuan menjadi kunci menghindari Bali dan Indonesia terluka lagi.

Perlu kita ingat, sebagaimana kita sering di peringkatkan akan komunisme sebagai bahaya laten itu begitupun dengan radikalisme yang tidak hanya sebatas agama namun juga hal-hal lain yang terlalu kita pahami secara sempit dan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.  Saya meyakini tidak ada satupun agama yang mengajarkan tindakan teor sebagai jalan keluar melawan kemungkaran atau adarma itu.

Tiap penganut agama atau pun aliran dalam suatu agama itu tentu saja boleh merasa jika yang mereka yakini  yang  paling benar namun tidak berarti karena perasaan yang paling benar itu kemudiann bertindak menghancurkan kehidupan yang lain, cukuplah itu tersimpan dalam internal masing-masing yang perlu kita tempatkan secara bijak dalam ruang sosial yang beragam. Di agama saya ada pemisahan antara yang sosial (sesama manusia) dengan yang teologis (ketuhanan), yang kedua-duanya memerlukan pemahaman yang benar dan terarah agar tidak serampangan.

Kita juga perlu memahami yang faktual agar tidak ada penumpang gelap yang diuntungkan sehingga membuat isu teorisme menjadi gorengan dan menjadi pelintiran kebencian yang menciptakan stigma terhadap orang lain hanya karena pakaian dan identitasnya.

Sekali lagi, tragedi 22 tahun bom bali harus menjadi pengingat untuk menjadi warga negara yang lebih bertanggung jawab, karena luka atau tidaknya Bali dan Indonesia lagi tergantung dengan diri kita sebagai warga negara yang berani untuk melawan tindakan dan pemahaman radikalisme sekiranya itu ada didepan mata kita.  Pemerintah sebagai suprastruktur juga perlu bertindak yang adil dan responsif dengan tindakan-tindakan yang mengarah kepada terorisme sembari memperbaiki kesejahteraan yang selalu menjadi pintu masuk kelompok radikal disamping dari sisi pemahaman mereka yang masih awam.

kampungbet
Tags: konflik etnisperingatan bom bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Mansurni Abadi

Mansurni Abadi

Related Posts

No Content Available
Next Post
Jalan Kaki di Bali: Panas Tanpa Pohon Peneduh, Diserempet Pula

Jalan Kaki di Bali: Panas Tanpa Pohon Peneduh, Diserempet Pula

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Anak Muda Mengolah Limbah Organik di Tengah Macetnya Dukungan Investor

Anak Muda Mengolah Limbah Organik di Tengah Macetnya Dukungan Investor

15 December 2025
Begini Lho Cara Menjelajah Nusa Penida dengan Cara Berbeda

Perempuan dalam Sistem Pewarisan Adat Bali: Terikat Adat, Hak Terbatas

15 December 2025
Gagas Aksi Iklim Melalui Mangrove, Bendega Tanam Harapan di Pesisir

Gagas Aksi Iklim Melalui Mangrove, Bendega Tanam Harapan di Pesisir

14 December 2025
Para Perempuan di Balik Kerajinan Ate

Para Perempuan di Balik Kerajinan Ate

14 December 2025
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia