• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, July 23, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Buku

Kembang, Memori Senyap Perempuan dalam Tragedi 1965

I Gusti Ayu Septiari by I Gusti Ayu Septiari
23 July 2026
in Buku, Kabar Baru, Politik
0
0
Peluncuran buku kembang dalam Festival Bali Jani 2026

Kembang, jadi satu-satunya buku antologi puisi yang bertengger di rak buku saya. Tak pernah saya tertarik pada puisi. Kata-katanya berat, susah memaknai. Namun, diskusi buku Oka Rusmini hari itu membuat tangan saya mengambil buku bersampul merah itu.

Entah karena puisi rengginang yang dibaca sore hari itu. Entah karena gambar sampulnya yang ciamik. Atau karena buku itu ditulis oleh Oka Rusmini.

Kembang karya Oka Rusmini bersampul merah dengan gambar dua perempuan duduk berhadapan. Gambar di sampul tak berwajah perempuan. Namun, menengok perawakan dan cara dua perempuan itu duduk saja bisa tahu kalau itu perempuan.

Seperti judulnya, sampul di buku berisi berbagai jenis kembang. Kembang itu mencuat dari tubuh dua perempuan. Di belakangnya ada dapur dan rumah. Sementara, kaki dua perempuan itu dibalut kain batik.

Sore itu, Selasa, 21 Juli 2026, Oka Rusmini meluncurkan buku Kembang di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya Art Center, Denpasar. Peluncuran buku ini digelar dalam Festival Seni Bali Jani.

Proses kreatif kembang

Oka Rusmini yang hadir langsung pada hari itu menjelaskan proses panjang buku kembang. Riset dan penulisannya membutuhkan waktu enam tahun.

Puisi-puisi di dalamnya terinspirasi dari kisah nyata dua perempuan penyintas tragedi 1965, Kusdalini (Mbah Kus) dan Kaminah (Mbah Kam). Dua perempuan ini hadir dalam film dokumenter You and I karya Anggitan Fanny Chotimah.

Film ini secara sublim dan getis mendokumentasikan keseharian Mbah Kus dan Mbah Kam yang menua bersama di Solo. “Apakah itu hanya perasaan saya atau saya terobsesi dengan kedua tokoh buku ini. Sampai footnya saya pasang di laptop saya. Itu saya pandang terus seolah-olah saya mencoba menceritakan dua tokoh ini,” jelas Oka Rusmini.

Dalam buku ini, Oka mencoba pendekatan yang halus dan senyap. Ia mengatakan, narasi sejarah 1965 yang ditulis laki-laki biasanya menggebu-gebu atau berteriak. Sebaliknya, Oka memilih pendekatan yang tenang untuk memotret trauma psikologis, kesiapan, serta keteguhan para korban perempuan.

“Saya selalu berpikir bahwa sejarah apa pun bentuknya, itu kadang-kadang lupa mencatat perempuan. Bahkan hingga saat ini,” kata Oka. Maka dari itu, Oka mendedikasikan buku ini untuk mendokumentasikan perjuangan perempuan yang kerap diabaikan dalam catatan sejarah, seni rupa, perfilman, maupun sastra Indonesia.

Selama proses kreatif, Oka menyadari banyak hal yang tidak tersampaikan terkait peristiwa 1965. Alasannya karena korban takut ketika diwawancara. Trauma, kesedihan, dan luka itu tertuang dalam puisi rengginang.

Pertemuan yang senyap

Sebelum diskusi buku berjalan, Wulan Dewi Saraswati, pendiri Komunitas Aghumi membacakan puisi rengginang. Wulan memaknai rengginang sebagai metafora komunikasi bisu dan pertahanan hidup di tengah jeruji besi.

“Kekuatannya terletak pada kontras antara kehangatan simbol domestik dengan dinginnya siksaan militer,” kata Wulan sebelum membaca puisi.

Setiap kunyahan rengginang menjadi irama kepatuhan, sekaligus upaya terakhir untuk tetap menjadi manusia. Ketika segalanya, teman, kekasih, dan kebebasan telah dirampas.

Dalam sesi diskusi, Oka mengatakan, puisi rengginang menceritakan pertemuan Mbah Kus dan Mbah Kam. Pertemuan itu sunyi, mereka tidak berbicara. “Makanya saya pakai rengginang. Rengginang itu kalau kita kan ramai gitu loh. Jadi ada diksi-diksi yang memang sengaja memiliki multitafsir yang lebih luas,” jelas Oka.

Satu ciri khas Oka dalam buku kembang adalah seluruh judul puisi diakhiri “-ng”. Kata Oka, itu kemarahan pulang. “Pokoknya kemarahan itu terendam dan terpendam… Coba baca pelan-pelan, terasa sekali lukanya,” kata Oka.

Dalam kembang, Oka sengaja memasukkan banyak kosakata arkais (kuno) dan peribahasa Indonesia yang jarang digunakan. Ia mengungkapkan hal itu dilakukan untuk menunjukkan betapa kayanya Bahasa Indonesia.

Oka Rusmini merupakan penyair, novelis, dan sastrawan yang tinggal di Bali. Selama lebih dari empat dekade, ia konsisten menyuarakan persoalan perempuan, identitas, budaya, dan relasi kuasa. Melalui kembang, Oka kembali membawa perspektif mendalam tentang sejarah yang kerap mengabaikan peran dan penderitaan perempuan.

Tags: Antologi puisiKembangOka Rusminitragedi 1965
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Gusti Ayu Septiari

I Gusti Ayu Septiari

Suka mendengar dan berbagi

Related Posts

Oka Rusmini Mengubah Puisi jadi Ekshumasi Sejarah dalam Karya Barunya

Oka Rusmini Mengubah Puisi jadi Ekshumasi Sejarah dalam Karya Barunya

21 July 2026
Toko Wong dan Puri Agung Negara: Jejak Sejarah Kota Jembrana

Toko Wong dan Puri Agung Negara: Jejak Sejarah Kota Jembrana

28 December 2025
Men Coblong: Bongak

Men Coblong: Bongak

26 February 2023
Oka Rusmini Lahirkan Buku Kembar Buncing

Oka Rusmini Lahirkan Buku Kembar Buncing

15 July 2019

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Kembang, Memori Senyap Perempuan dalam Tragedi 1965

Kembang, Memori Senyap Perempuan dalam Tragedi 1965

23 July 2026
Oka Rusmini Mengubah Puisi jadi Ekshumasi Sejarah dalam Karya Barunya

Oka Rusmini Mengubah Puisi jadi Ekshumasi Sejarah dalam Karya Barunya

21 July 2026
Sejumlah Proyek Besar yang Kini Telantar

Ketika Jalan Pulang Dihapus: Refleksi tentang Hilangnya Jiwa Pulau Serangan

20 July 2026
Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

20 July 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia