
Kembang, jadi satu-satunya buku antologi puisi yang bertengger di rak buku saya. Tak pernah saya tertarik pada puisi. Kata-katanya berat, susah memaknai. Namun, diskusi buku Oka Rusmini hari itu membuat tangan saya mengambil buku bersampul merah itu.
Entah karena puisi rengginang yang dibaca sore hari itu. Entah karena gambar sampulnya yang ciamik. Atau karena buku itu ditulis oleh Oka Rusmini.
Kembang karya Oka Rusmini bersampul merah dengan gambar dua perempuan duduk berhadapan. Gambar di sampul tak berwajah perempuan. Namun, menengok perawakan dan cara dua perempuan itu duduk saja bisa tahu kalau itu perempuan.
Seperti judulnya, sampul di buku berisi berbagai jenis kembang. Kembang itu mencuat dari tubuh dua perempuan. Di belakangnya ada dapur dan rumah. Sementara, kaki dua perempuan itu dibalut kain batik.
Sore itu, Selasa, 21 Juli 2026, Oka Rusmini meluncurkan buku Kembang di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya Art Center, Denpasar. Peluncuran buku ini digelar dalam Festival Seni Bali Jani.
Proses kreatif kembang
Oka Rusmini yang hadir langsung pada hari itu menjelaskan proses panjang buku kembang. Riset dan penulisannya membutuhkan waktu enam tahun.
Puisi-puisi di dalamnya terinspirasi dari kisah nyata dua perempuan penyintas tragedi 1965, Kusdalini (Mbah Kus) dan Kaminah (Mbah Kam). Dua perempuan ini hadir dalam film dokumenter You and I karya Anggitan Fanny Chotimah.
Film ini secara sublim dan getis mendokumentasikan keseharian Mbah Kus dan Mbah Kam yang menua bersama di Solo. “Apakah itu hanya perasaan saya atau saya terobsesi dengan kedua tokoh buku ini. Sampai footnya saya pasang di laptop saya. Itu saya pandang terus seolah-olah saya mencoba menceritakan dua tokoh ini,” jelas Oka Rusmini.
Dalam buku ini, Oka mencoba pendekatan yang halus dan senyap. Ia mengatakan, narasi sejarah 1965 yang ditulis laki-laki biasanya menggebu-gebu atau berteriak. Sebaliknya, Oka memilih pendekatan yang tenang untuk memotret trauma psikologis, kesiapan, serta keteguhan para korban perempuan.
“Saya selalu berpikir bahwa sejarah apa pun bentuknya, itu kadang-kadang lupa mencatat perempuan. Bahkan hingga saat ini,” kata Oka. Maka dari itu, Oka mendedikasikan buku ini untuk mendokumentasikan perjuangan perempuan yang kerap diabaikan dalam catatan sejarah, seni rupa, perfilman, maupun sastra Indonesia.
Selama proses kreatif, Oka menyadari banyak hal yang tidak tersampaikan terkait peristiwa 1965. Alasannya karena korban takut ketika diwawancara. Trauma, kesedihan, dan luka itu tertuang dalam puisi rengginang.
Pertemuan yang senyap
Sebelum diskusi buku berjalan, Wulan Dewi Saraswati, pendiri Komunitas Aghumi membacakan puisi rengginang. Wulan memaknai rengginang sebagai metafora komunikasi bisu dan pertahanan hidup di tengah jeruji besi.
“Kekuatannya terletak pada kontras antara kehangatan simbol domestik dengan dinginnya siksaan militer,” kata Wulan sebelum membaca puisi.
Setiap kunyahan rengginang menjadi irama kepatuhan, sekaligus upaya terakhir untuk tetap menjadi manusia. Ketika segalanya, teman, kekasih, dan kebebasan telah dirampas.
Dalam sesi diskusi, Oka mengatakan, puisi rengginang menceritakan pertemuan Mbah Kus dan Mbah Kam. Pertemuan itu sunyi, mereka tidak berbicara. “Makanya saya pakai rengginang. Rengginang itu kalau kita kan ramai gitu loh. Jadi ada diksi-diksi yang memang sengaja memiliki multitafsir yang lebih luas,” jelas Oka.
Satu ciri khas Oka dalam buku kembang adalah seluruh judul puisi diakhiri “-ng”. Kata Oka, itu kemarahan pulang. “Pokoknya kemarahan itu terendam dan terpendam… Coba baca pelan-pelan, terasa sekali lukanya,” kata Oka.
Dalam kembang, Oka sengaja memasukkan banyak kosakata arkais (kuno) dan peribahasa Indonesia yang jarang digunakan. Ia mengungkapkan hal itu dilakukan untuk menunjukkan betapa kayanya Bahasa Indonesia.
Oka Rusmini merupakan penyair, novelis, dan sastrawan yang tinggal di Bali. Selama lebih dari empat dekade, ia konsisten menyuarakan persoalan perempuan, identitas, budaya, dan relasi kuasa. Melalui kembang, Oka kembali membawa perspektif mendalam tentang sejarah yang kerap mengabaikan peran dan penderitaan perempuan.






