• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, April 17, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Kala Benoa, Menggemakan Penolakan Akar Rumput

Anton Muhajir by Anton Muhajir
23 April 2015
in Berita Utama, Kabar Baru, Teknologi
0
0

WatchDoc meluncurkan video terbaru mereka, Kala Benoa.

Video dokumenter sepanjang 50 menit ini merekam suara-suara akar rumput yang menolak rencana reklamasi Teluk Benoa, Bali. Narasi perlawanan disajikan dengan menawan dan berimbang.

Dua minggu setelah diunggah di YouTube dari tempat kos para bidan di Kota Dompu, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), film dokumenter itu sudah dilihat hampir 30.000 kali.

Kala Benoa merupakan video dokumenter bagian dari Ekspedisi Indonesia Biru. Dua videografer dan fotografer, Dandhy Dwi Laksono dan Ucok Parta, melakukan perjalanan keliling Indonesia sejak Januari hingga Desember 2015 nanti. Selama perjalanan, mereka merekam beragam cerita tentang kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam.

Sejak memulai perjalanan dari Jakarta tepat pada perayaan tahun baru lalu hingga sekarang, mereka telah mengunggah 15 video ke YouTube, baik berupa trailer ataupun film lengkap. Kala Benoa merupakan video lengkap kedua dari Ekspedisi Indonesia Biru setelah Samin vs Semen, tentang perlawanan warga Jawa Tengah terhadap rencana pembangunan pabrik semen.

Serupa Samin vs Semen, Kala Benoa pun menceritakan tentang perlawanan terhadap pembangunan yang dianggap akan meminggirkan warga. Kali ini terjadi di Teluk Benoa, Bali. Warga setempat menolak rencana reklamasi oleh PT Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI). Perusahaan milik Tomy Winata, bos Artha Graha, ini akan mereklamasi hingga 700 hektar di kawasan teluk seluas 1.300 hektar tersebut.

Berbagai kelompok warga menolak rencana reklamasi sejak 2013 silam itu. Salah satu yang konsisten menolak rencana tersebut adalah Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI). Banyak kelompok bergabung di forum ini, seperti mahasiswa, musisi, pemuda banjar, aktivis lingkungan, warga adat, dan lain-lain.

Namun, video karya Dandhy dan Ucok, ini bukan tentang ingar bingar suara penolak yang didominasi kelas menengah itu. Dandhy, yang juga jurnalis televisi, memilih merekam dan mengabarkan suara-suara akar rumput di balik gegap gempita penolak reklamasi di Teluk Benoa.

Suara Tak Terdengar
Meskipun bercerita tentang penolakan terhadap rencana reklamasi di Teluk Benoa, Dandhy dan Ucok justru memulai film Kala Benoa dengan cerita dari pulau berjarak sekitar 300 km di timur Bali, Pulau Bungin. Pulau kecil di NTB ini salah satu pulau terpadat di dunia. Dengan luas hanya 12 hektar, jumlah penghuni pulau ini hingga 3.120 jiwa.

Selama 200 tahun, Suku Bajo yang tinggal di Pulau Bungin telah menguruk pulau dari hanya 3 hektar menjadi 12 hektar seperti sekarang.

Tidak ada investor properti yang sesabar orang Bajo. Terutama bila hendak mereklamasi 700 hektar dengan 23 juta kubik pasir. Kalimat pembuka itu menghubungkan Pulau Bungin dengan lokasi utama film Kala Benoa, Teluk Benoa.

Dari situlah, Kala Benoa mulai menarasikan suara-suara akar rumput yang menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. Dandhy dan Ucok mewawancarai, Nyoman, nelayan paruh waktu yang masih mencari ikan di Teluk Benoa. Ada pula Ketut Karya, Ketut Linggih, dan Made Raram. Semuanya orang-orang “biasa” yang selama ini tak pernah mendapat suara di media terkait dengan kontroversi reklamasi Teluk Benoa.

Kala Benoa menggemakan suara-suara yang selama ini tak terdengar.

“Banjar saya semua tidak setuju. Satu desa tidak setuju. Alasannya? Kalau diuruk, bisa mati saya sebagai nelayan. Di mana saya naruh sampan dengan teman-teman saya,” kata Ketut Karya, salah satu nelayan. Dia diwawancarai ketika membersihkan sampannya.

Made Raram, nelayan lain, menolak karena khawatir sebagai warga lokal akan terusir setelah Teluk Benoa direklamasi. “Pulau Serangan kan dulu begitu. Pas diuruk langsung diusir orang-orangnya,” kata Raram. Dia mengutip cerita tentang warga Pulau Serangan yang terusir dari tanahnya sendiri ketika pulau itu direklamasi sejak 1994.

Dari Teluk Benoa, Kala Benoa juga menceritakan penolakan warga Lombok Timur. Pantai di sisi timur Lombok ini akan dikeruk untuk membangun pulau baru di Teluk Benoa, Bali.

Sekali lagi, pembuat film ini lebih banyak memberikan ruang untuk suara-suara orang “biasa”. Maka, yang berbicara menolak rencana pengerukan pantai di Lombok Timur bukanlah para pejabat. Kala Benoa menyuarakan sikap penolakan Badar dan Muhammad Tohri, dua nelayan di Labuhan Haji, Lombok Timur.

“Orang yang membangun, masak pantai kami yang dirusak. Kalau diperbaiki boleh. Kalau dikeruk jangan,” kata Muhammad Tohri.

kala-benoa-01
Tetap Berimbang

Meskipun demikian, dokumenter ini tidak terjebak pada propaganda para penolak rencana reklamasi termasuk dari pengusaha pariwisata, pengurus desa, dan aktivis lingkungan. Kala Benoa tetap berimbang dengan memberi tempat pada investor. Hendi Lukman, Direktur Utama PT TWBI, berkali-kali dikutip pernyataannya dalam video ini.

“Kami tidak mungkin menghancurkan bumi pertiwi dan bangsa ini dengan apapun. Percayalah,” kata Hendi Lukman saat Konsultasi Publik PT TWBI terkait rencana reklamasi Maret lalu.

“Percayalah saya tidak akan merusak budaya Bali, Pak. Karena di sanalah keunikan Bali. Alangkah bodohnya jika kami menghancurkannya,” lanjut Hendi.

Kala Benoa juga tak terjebak pada suara perlawanan. Dia menyodorkan pula sebuah alternatif pariwisata di Bali, ekowisata. Dandhy dan Ucok merekam upaya Jaringan Ekowisata Desa (JED), usaha pariwisata yang dimiliki dan dikelola warga lima desa di Bali. Mereka menunjukkannya melalui Tenganan Pegeringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem.

Tenganan merupakan desa Bali Aga atau Bali Kuno di mana kepemilikan lahan masih bersifat komunal. Tidak ada kepemilikan pribadi. Tanah seluas 917 hektar di desa ini tak boleh dijual karena milik bersama.

Tiap tahun, 46.000 turis mengunjungi desa ini. Tapi penghasilan utama desa tetap dari pertanian dan perkebunan. Warga tidak silau terhadap gemerlap pariwisata yang kini terjadi di Bali.

“Pariwisata hanya bonus dari apa yang kami lakukan. JED mengenalkan kami terhadap potensi lokal yang kami miliki sendiri,” kata Putu Wiadnyana, Ketua Koperasi JED.

Bagi Dandhy dan Ucok, ekowisata adalah jawaban terhadap pariwisata massal yang kian mengancam masa depan alam maupun budaya Bali. Karena itu, mereka menyajikannya pula di Kala Benoa.

Kadang Menipu
Suara perlawanan dan jawaban terhadap pariwisata massal Bali itu disajikan lewat gambar-gambar indah Kala Benoa.

Dalam sebuah obrolan, Dandhy pernah mengatakan bahwa hal terpenting saat membuat film dokumenter adalah ceritanya. Bukan gambar-gambar indah yang kadang menipu.

Nyatanya, video dokumenter yang pengambilan gambarnya dua minggu di Bali serta seminggu di Lombok dan Bungin, ini tetap saja mempesona. Kala Benoa menunjukkan biru dan tenangnya laut di Teluk Benoa. Jalan tol dan gunung di ujung utara mempercantik suasana. Gambar-gambar cantik itu jauh dari citra teluk rusak yang jadi alasan investor untuk mereklamasi.

Tak hanya indahnya Teluk Benoa, video ini juga menunjukkan anggunnya Desa Tenganan, Pulau Bungin, dan Pantai Lombok Timur.

Untuk mendapatkan gambar-gambar cantik itu, Dandhy dan Ucok memang melakukan usaha ekstra. Mereka berangkat ketika pagi masih gelap demi mendapatkan golden time, nyebur ke laut untuk wawancara, dan memakai drone untuk mendapatkan gambar dengan angle berbeda, mata elang.

Kala Benoa mengajarkan bahwa video dokumenter perlawanan pun tetap bisa disajikan lewat gambar-gambar menawan. [b]

Tags: BaliFilmTeluk BenoaWatchDoc
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

7 April 2026
Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

24 March 2026
Siapkah Nyepi Digital?

Siapkah Nyepi Digital?

23 March 2026
Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

17 March 2026
Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Mendamaikan Nyepi dan Takbiran di Bali 2026

16 March 2026
Salah Kaprah Mitologi Dewi Danu dalam Pemuliaan Air

Salah Kaprah Mitologi Dewi Danu dalam Pemuliaan Air

27 February 2026
Next Post
Menggunakan Kamera Memberdayakan Warga

Menggunakan Kamera Memberdayakan Warga

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Bali dan Histeria Festival

17 April 2026
Pulau Bali pun Rentan Tenggelam

El Niño “Godzilla”: Ketika Monster Iklim Mengancam Pulau Dewata

16 April 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

15 April 2026
Sabtu Sketsa Merefleksikan Kejujuran Aku Kembali Pulang Dayu Sartika

Sabtu Sketsa Merefleksikan Kejujuran Aku Kembali Pulang Dayu Sartika

14 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia