• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, December 15, 2025
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup

Jelajah Tempat Gaul Muda-Mudi Kota Denpasar Tahun 80-an

I Gusti Ayu Septiari by I Gusti Ayu Septiari
17 February 2025
in Gaya Hidup, Kabar Baru, Sejarah, Travel
0 0
1
Kawasan Heritage Gajah Mada

Di tengah hiruk pikuk sebuah kota tentu ada sebuah tempat hits yang menjadi tempat gaulnya anak muda. Yogyakarta punya Malioboro, dan Bandung punya Braga. Lantas, Denpasar punya apa?

Tidak jauh dari titik nol kilometer Kota Denpasar ada Jalan Gajah Mada yang ditetapkan menjadi kawasan heritage pada tahun 2008. Dilansir dari laman Pemkot Denpasar, di tahun 80-an kawasan tersebut identik dengan tempat gaul muda-mudi kota.

Namun, bagaimana dengan saat ini? Apakah Jalan Gajah Mada masih menjadi tempat gaul muda-mudi ibukota?

Ratna, seorang mahasiswa Universitas Udayana mengungkapkan ia dan teman-temannya lebih sering nongkrong di coffee shop. “Kebanyakan anak muda di Denpasar itu ngumpulnya di coffee shop,” ujar Ratna. Coffee shop menjadi tempat pilihan untuk nongkrong karena tersedia makanan dan minuman, tempat duduk, WIFI, stop kontak, hingga toilet yang memadai. 

Hal itu juga diungkapkan oleh Puspita Sari yang juga seorang mahasiswa Universitas Udayana. “Biasanya anak muda itu sering nongkrong di Jalan Tukad Badung (Renon) sih kak karena banyak juga (coffee shop) dan ada yang buka 24 jam,” ungkap Puspita.

Nongkrong di coffee shop tentunya mengharuskan anak muda mengeluarkan uang. Jika melihat kota lain, nongkrong di Blok M, Malioboro, dan Braga memungkinkan anak muda untuk mengeluarkan uang yang tidak terlalu banyak atau bahkan tidak mengeluarkan uang. Hal ini terjadi karena di tempat tersebut tersedia banyak pilihan tempat makan dan tersedia tempat untuk sekadar duduk.

Saya bersama teman-teman mencoba berkeliling Jl. Gajah Mada di sore hari untuk merasakan apakah kawasan ini bisa kembali menjadi kawasan gaul muda-mudi. Bukan sekadar berkeliling, kami juga mempelajari sejarah kawasan tersebut.

Jejak akulturasi di Jl. Gajah Mada

Pemandangan dari lantai 2 NADHI Heritage

Sebelum berjalan-jalan keliling Jl. Gajah Mada, kami bekerja sejenak di NADHI Heritage, sebuah kedai kopi di atas toko alat tulis. Pada siang hari, motor diparkir di gang belakang toko karena parkir kendaraan di bahu jalan dan atas trotoar tidak diperbolehkan di siang hari.

Cafe ini seolah membawa kenangan kembali ke masa 90-an. Bangunan dan suasananya memberikan kesan vintage (antik). Kursi di hadapan jendela menjadi spot favorit karena bisa menyaksikan lalu lalang kendaraan.

Perjalanan mengelilingi Jl. Gajah Mada dimulai sore hari ditemani dengan cuaca mendung, harap-harap hujan tidak tiba-tiba datang. Sembari berjalan, kami mendengarkan penuturan Bandem Kamandalu, anak muda penggiat arkeologi.

Konsep tata ruang catus patha pada masa pemerintahan Puri Denpasar. Sumber: Jurnal Penelitian

Sebelum masa kolonial, Denpasar merupakan pusat puri (kerajaan). Sejalan dengan perkembangan puri, pasar juga ikut berkembang. Hal ini ditunjukkan dalam konsep catus patha, yaitu persilangan antara puri, pasar, pohon beringin, dan alun-alun. Dilansir dari Nuturang, pasar sebagai pusat perekonomian letaknya selalu berdekatan dengan puri. Ini tidak terlepas dari fungsi pada masa itu untuk memantau perekonomian di masyarakat.

Catus patha pada masa kolonial Belanda. Sumber: Jurnal Penelitian

Intervensi Belanda pada masa kolonial mulai mengubah tata ruang. Pasar yang awalnya berlokasi di area Kodim saat ini pindah ke area Pasar Badung dan Pasar Kumbasari saat ini. Ada pula pusat pemerintah Belanda di Bali yang lokasinya di rumah jabatan gubernur saat ini.

Kampung Pecinan di Jl. Gajah Mada

Ketika berjalan melewati Pecinan di Jl. Gajah Mada, kami bertanya-tanya dari mana asal usul etnis Tionghoa, India, dan Arab yang menguasai sebagian besar perekonomian di daerah tersebut. Ternyata, pada masa kolonial, etnis Tionghoa, India, dan Arab ikut masuk ke Bali seiring dengan berkembangnya perdagangan. Ketiga etnis tersebut mendapatkan kepercayaan dari pemerintah Belanda dan dipandang memiliki kasta sosial yang lebih tinggi dari pribumi.

Kondisi sosial itu membuat Belanda memberikan tanah di Jl. Gajah Mada untuk etnis Tionghoa, Arab, dan India. Jika dipetakan, etnis Tionghoa tinggal di bagian barat atau di Jl. Gajah Mada saat ini, sedangkan etnis Arab dan India berada di sisi timur. Pengelompokkan ini secara tidak langsung membuat perekonomian tersegmentasi. Jl. Gajah Mada diisi pedagang Tionghoa, Jl. Hasanuddin ramai penjual emas, Jl. Sulawesi tempat penjual kain, dan Jl. Sumatera tempat pedagang buah.

Ukiran Bali pada salah satu bangunan di Jl. Gajah Mada

Satu hal yang menarik perhatian kami adalah bentuk bangunan di sepanjang Jl. Gajah Mada dan sekitarnya yang mirip bangunan Eropa dan China, tetapi beberapa ada yang menggunakan ukiran Bali. Bandem mengungkapkan bahwa bangunan kolonial dan pasca kolonial memang susah diidentifikasi. Namun, pasca kemerdekaan terjadi gelombang Balinisasi terhadap bangunan-bangunan. 

“Jadi untuk mengubur ingatan tentang Belanda tuh pertama ada gelombang kemerdekaan,” terang Bandem sambil menunjuk tiang berbata merah. Perubahannya dapat dilihat pada tiang bangunan yang dilapisi bata merah. Sebelumnya, tiang tersebut berwarna putih dengan bentuk melengkung khas bangunan Eropa. Gelombang Balinisasi dan kemerdekaan membuat tiang bangunan ditambal dengan bata, bahkan beberapa bangunan diberikan ukiran Bali.

Bandem menyebutkan bahwa pembangunan di masa kolonial lebih terpola daripada saat ini. Dalam hal pembangunan, Belanda memiliki strategi secara fungsi dan tersegmentasi seperti pembagian etnis Tionghoa, Arab, dan India.

Belanda juga memikirkan dampak pembangunan ke depannya. Misalnya, pohon asem yang menjadi ciri khas Belanda ketika membangun bangunan baru, salah satunya ada di Jl. Veteran. Secara fisik, pohon ini dibuat sebagai perindang dan akar pohonnya tidak akan merusak jalan. “Sampai segitunya dipikirin sama Belanda. Kalau sama kita nggak,” ujar Bandem yang disambut tawa.

Harta karun berupa sejarah dan mural

Losmen Puri

Di tengah-tengah perjalanan, Bandem menyebutkan Losmen Puri, salah satu penginapan tertua yang tak jauh dari Jl. Gajah Mada. Merasa tertarik kami pun mengunjungi penginapan tersebut. Losmen Puri diimpit oleh coffee shop yang saat itu tak begitu ramai. Dari luar, Losmen Puri terlihat sangat kuno, bangunannya tidak banyak diubah. 

Dari penuturan Bandem, Losmen Puri dulunya milik puri. Penginapan tersebut dibangun karena pada tahun 1950-an penginapan di Denpasar hanya Bali Hotel. Dulunya, losmen ini menjadi pilihan menginap untuk wisatawan low budget.

Ketika tiba di Losmen Puri, kami berbincang dengan Tu De, pengelola Losmen Puri yang sedang menyapu di halaman depan. Tu De menyebutkan bahwa saat ini hanya tiga kamar di bawah yang disewakan, sedangkan kamar di atas digunakan oleh pemilik. Harganya pun sangat terjangkau, yaitu Rp 60.000 per malam. Tertarik menginap di Losmen Puri?

Salah satu mural di gang Jl. Kalimantan

Meninggalkan Losmen Puri, kami ingin mencari harta karun di Jl. Gajah Mada. Harta karun itu berupa mural di gang-gang kecil Jl. Kalimantan. Mural-mural tertuang di tembok-tembok rumah yang ada di gang. Ternyata mural tersebut merupakan proyek Micro Galleries pada tahun 2015. Macam-macam gambarnya, ada gambar anak kecil yang sedang menangis, anak kecil yang bermain, hingga komik satire. Setelah hampir 10 tahun yang tersisa hanya beberapa, sebagian telah luntur seiring waktu.

Banner di depan kediaman Wayan Pasek Lama

Kami juga menemukan rumah seorang veteran di gang Jl. Kalimantan. Dari banner yang ditempel di depan rumahnya, veteran tersebut bernama Wayan Pasek Lama yang gugur pada tahun 1946 ketika NICA datang ke Bali.

Selain rumah veteran, kami juga menemukan Gedong Dalem yang bangunan dindingnya ditempeli piring-piring kaca. “Kalau di Tabanan banyak yang kayak gini,” ungkap Bandem.

Minim Tempat Duduk

Setelah satu jam lebih berkeliling, kami mencari tempat duduk. Sayangnya, tidak ada. Harap-harap menemukan tempat duduk di atas trotoar seperti di Malioboro, kami justru menemukan pedagang di atas trotoar.

Dengan rasa lelah kami meneruskan perjalanan ke Graha Yowana Suci (GYS). Konon katanya, tempat tersebut akan dikembangkan menjadi tempat kumpul kawula muda. Untungnya di tengah perjalanan kami menemukan starling, pedagang kopi keliling yang sedang hits. Ini yang kami harapkan, kopi murah di pinggir jalan. Harganya mulai Rp 8.000 dengan rasa yang tidak kalah enak dengan kopi di cafe. Kopi sudah di tangan, tapi tempat duduk tidak ada. Jadi, kami memutuskan berjalan ke GYS, berharap bisa duduk di sana.

Pemandangan kota dari Graha Yowana Suci

GYS dulunya adalah terminal, kemudian dikembangkan menjadi pasar, hingga berakhir menjadi ruang kreatif anak muda. Ada coffee shop di lantai 1 dan lantai 3 yang saat itu ramai oleh anak muda. Kami menuju lantai 2 yang kosong. Kondisi saat itu lantai 2 tidak berisi apa-apa, bahkan tidak ada tempat untuk duduk. Lantainya pun kotor.

Kami datang sekitar jam 17.00 WITA, cuaca pun sedang tidak panas, tetapi sangat jarang kami temukan anak muda di sepanjang perjalanan. Kawasan Jl. Gajah Mada dan sekitarnya mungkin lebih tepat dikatakan sebagai pusat perekonomian. Namun, ragu rasanya menyebut kawasan ini sebagai tempat nongkrong anak muda karena tidak banyak anak muda yang kami lihat selama perjalanan.

Padahal, pada tahun 1980-an, tren dan perkembangan mode atau fashion dimulai di Jl. Gajah Mada, terutama di Pasar Kumbasari yang dulu masih berdiri Kumbasari Theatre. Kawasan ini memiliki potensi untuk bangkit kembali menjadi tempat gaul. Namun, banyak PR yang mesti diselesaikan oleh pemerintah terkait, beberapa di antaranya adalah tempat parkir, spot foto, tempat duduk, dan penataan trotoar. 

Menarik juga bila sekali-kali mengikuti tur keliling Jl. Gajah Mada sembari mempelajari sejarah kawasan tersebut karena banyak perubahan dan perkembangan yang terjadi di kawasan tersebut.

kampungbet
Tags: kawasan heritage denpasarmasa kolonial balisejarah jalan gajah mada denpasarsejarah kota denpasar
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Gusti Ayu Septiari

I Gusti Ayu Septiari

Suka mendengar dan berbagi

Related Posts

No Content Available
Next Post
Refleksi Jalur Pariwisata Bali di Desa Batubulan

Refleksi Jalur Pariwisata Bali di Desa Batubulan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Anak Muda Mengolah Limbah Organik di Tengah Macetnya Dukungan Investor

Anak Muda Mengolah Limbah Organik di Tengah Macetnya Dukungan Investor

15 December 2025
Begini Lho Cara Menjelajah Nusa Penida dengan Cara Berbeda

Perempuan dalam Sistem Pewarisan Adat Bali: Terikat Adat, Hak Terbatas

15 December 2025
Gagas Aksi Iklim Melalui Mangrove, Bendega Tanam Harapan di Pesisir

Gagas Aksi Iklim Melalui Mangrove, Bendega Tanam Harapan di Pesisir

14 December 2025
Para Perempuan di Balik Kerajinan Ate

Para Perempuan di Balik Kerajinan Ate

14 December 2025
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia