• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Sunday, February 15, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Opini

In God We Trust. All Others Pay Cash.

Punjung Harry by Punjung Harry
6 August 2008
in Opini
0
0

Oleh Punjung Harry

Di uang kertas dollar Amerika tertera tulisan “In God We Trust”. Dulu di kafe-kafe Amrik, pemilik kafe memasang poster, “In God We Trust. All Others Pay Cash”. Plesetan memang, tapi maknanya dalam. Kalau ada saling percaya, tidak perlu ada uang tunai untuk bertransaksi. Seperti warung emak di sebelah kantor, kalau ada saling percaya bayarnya kapan-kapan.

Saya ngomong soal kepercayaan ini sambil menengok bisnis teman saya yang kebetulan punya sejenis event organizer (EO). Mereka mengandalkan kepercayaan itu untuk berusaha. Kepercayaan dari temen-temen yang bantuin, kepercayaan dari sponsor, bahkan dari saya sendiri yang nggak bantuin dan terangnya jelas bukan sponsor.

Persoalan kepercayaan menjadi hal yang mahal dan jelas akan sangat tunai sekali jika berhubungan dengan uang. Teman saya tadi mengeluh dana dari sponsor belum turun sedangkan dana untuk membayar teman-teman yang membantu tadi jelas belum cair. Persoalan yang menurut saya ada di pihak sponsor tapi menimbulkan masalah di temen-temen. Nah lo…

Kebetulan juga saya punya temen yang jadi tukang tanda tangan di salah satu perusahaan gede di Jakarta. Kerjaannya ya tanda tangan. Tanda tangan proyek ini tanda tangan deal itu. Pagi-pagi berangkat ke kantor nyampek kantor langsung tanda tangan. Habis makan siang tanda tangan lagi. Dan tidak lupa pas mau pulang kerja tanda tangan juga. Toh pun kalo lembur terus ketemu klien juga tanda tangan.

Sayangnya temen saya yang satu ini orangnya kadang agak males tanda tangan, pas ingin main golf, dia nggak tanda tangan satu harian, atau pengen liburan ke Amrik malah tidak tanda tangan semingguan bahkan bisa sebulan.

Bisa kebayang kalau pencairan duit temen saya yang punya EO itu kena sial pas si boss besar jalan-jalan keliling dunia. Wihh.. bisa dua bulanan termangu temen saya nungguin duitnya, en dengan entengnya pihak sponsor bilang, ”Maaf boss besar kita lagi pengen liat onta di Arab jadi belon bisa bayar.. Soalnya kami nggak berani nurunin duitnya tanpa tangan boss besar kita.”

Basa-basi yang menyakitkan banyak orang tentunya. Ada banyak orang yang tersakiti, selain temen saya yang punya EO tadi, ada crew-crewnya, MCnya, orang yang nyewain panggung, lampu, termasuk saya yang bukan siapa-siapa. Dan lebih menyakitkan lagi kepercayaan akan semakin luntur dan hilang sesama teman-teman saya.

Yang Punya Uang yang Dipercaya
Ungkapan di atas nggak bermaksud men-generalisasi semua persoalan, khususnya
cinta :p.

Ada pengalaman menarik pas kebetulan mau ke Jakarta di Bandara Ngurah Rai. Saya telat dateng. Di tiket ditulis saya harus datang pukul 07.00, menurut hemat saya datang pukul 07.15 nggak papa. Wong pesawatnya berangkat pukul 8. Bersama tiga teman saya yang kebetulan pulang kampung, saya dimarah-marahin petugas bandara dan disuruh antri buat tiketnya.

Nah karena merasa bersalah saya nurut-nurut saja. Soalnya saya sudah salah. Yang penting tidak ketinggalan pesawat. Nah yang bikin saya mangkel ada bule yang langsung ngeloyor tanpa antri setelah berbicara dengan si petugas tadi. Setelah nyampek di pesawat saya lihat itu bule ada di pesawat yang sama dengan saya. Wuihh….

Saya jadi berpikiran karena orang itu bule jadi bisa lewat sedangkan saya yang sudah jelek, nggak keliatan bulenya harus antri. Bule dalam pandangan pariwisata Bali adalah tamu. Tamu yang membawa duit banyak dan dihambur-hamburkan terus pulang ke negaranya kembali. Apa jadinya Bali tanpa bule??

Itu pertanyaan yang akan sangat takut dijawab oleh orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari pariwisata Bali, termasuk mungkin si petugas bandara tadi. Bule kan banyak uangnya. Orang ke Bali aja buat ngambur-ngamburin duit, jadi layak diberi kepercayaan duluan daripada saya yang mungkin dipikir buat naik pesawat aja harus gadein TV dulu. Hiks..Hiks.. All Others Pay Cash.

Zaman Sekarang Percaya Siapa.
Kalau itu endingnya jawabannya mah simple… Percaya saja sama Tuhan.. Selesai sudah.. Eh, belum selesai .. Kalau kita nggak percaya ma tuhan trus percaya ma sapa?? Oh Gods…  Sing nawang. [b]

Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Punjung Harry

Punjung Harry

Related Posts

Imagine: Never Called by My Name Mewakili Kegelisahan Perempuan

Imagine: Never Called by My Name Mewakili Kegelisahan Perempuan

14 February 2026
Dari Bali ke Bangkok, Morbid Monke dan Bab Awal Feel Alive Tour

Dari Bali ke Bangkok, Morbid Monke dan Bab Awal Feel Alive Tour

14 February 2026
Sekolah Pembaharu Ashoka: Kelola Sampah sampai Ekskul Agro

Sekolah Pembaharu Ashoka: Kelola Sampah sampai Ekskul Agro

13 February 2026
Investasi WNA di Bali: Meningkat, Didominasi Rusia, Usahanya dari Real Estate sampai Rental Motor

Investasi WNA di Bali: Meningkat, Didominasi Rusia, Usahanya dari Real Estate sampai Rental Motor

12 February 2026
Udara Bersih saat G20, setelah itu Polusi kembali

Udara Bersih saat G20, setelah itu Polusi kembali

11 February 2026
Catcalling bukan Pujian, Ketika Ruang Publik tak Lagi Aman Bagi Perempuan

Catcalling bukan Pujian, Ketika Ruang Publik tak Lagi Aman Bagi Perempuan

10 February 2026
Next Post

Kesurupan Mantram Tropical Transit

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Imagine: Never Called by My Name Mewakili Kegelisahan Perempuan

Imagine: Never Called by My Name Mewakili Kegelisahan Perempuan

14 February 2026
Dari Bali ke Bangkok, Morbid Monke dan Bab Awal Feel Alive Tour

Dari Bali ke Bangkok, Morbid Monke dan Bab Awal Feel Alive Tour

14 February 2026
Sekolah Pembaharu Ashoka: Kelola Sampah sampai Ekskul Agro

Sekolah Pembaharu Ashoka: Kelola Sampah sampai Ekskul Agro

13 February 2026
Investasi WNA di Bali: Meningkat, Didominasi Rusia, Usahanya dari Real Estate sampai Rental Motor

Investasi WNA di Bali: Meningkat, Didominasi Rusia, Usahanya dari Real Estate sampai Rental Motor

12 February 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia