• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, May 8, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Imaji Kita terhadap Bali dan Ancaman Krisis di Belakangnya

Sayu Pawitri by Sayu Pawitri
29 September 2020
in Kabar Baru, Opini
0
0

Adalah hal lumrah untuk menyebut Bali sebagai surga dunia, tempat turis berlibur dan menghabiskan waktunya.

Bali kerap diidentikkan sebagai surga yang eksis di dunia. Orang-orang Jakarta yang lelah dengan pekerjaan sehari-harinya bahkan rela merogoh kocek dan berbondong-bondong mengistirahatkan badannya, kemudian berjemur di beach club ternama daerah Jimbaran atau menikmati matahari tenggelam di Kuta.

Dalam hal itu, Bali memang selalu dipenuhi pujian dan jadi tempat paling dirindukan oleh turis lokal maupun mancanegara. Namun, perkenalan singkat turis-turis tersebut akan berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di beberapa kabupaten di Bali.

Sebagai orang asli Bali, awalnya saya sempat terbuai akan pujian-pujian di atas. Saya pikir saya memang hidup di tengah pulau yang serba berkecukupan, gemilang, dan jauh dari kata krisis. Belakangan saya mengerti, pola hidup dan sistem kapitalisme yang menyuplai pembangunan serta industri membuat begitu banyak hal berubah.

Imaji saya—atau bahkan kalian yang selama ini menikmati Bali mungkin akan terkaget-kaget ketika tahu bahwa Bali diprediksi—bahkan sedang dalam kondisi krisis air.

Yayasan IDEP Selaras Alam Bali yang fokus kepada pembangunan berkelanjutan di Bali memaparkan bahwa air tanah di wilayah Bali Selatan mengalami penurunan hingga lebih dari 50 meter dalam waktu kurang dari 10 tahun. Ditambah air permukaan, seperti danau dan sungai yang juga mengalami penurunan. Salah satunya adalah salah satu penyuplai air terbesar di Bali–Danau Buyan yang mengalami penurunan 3.5 meter hingga 5 meter dalam waktu kurang lebih tiga tahun.

IDEP juga menyebutkan sebesar 60 persen aliran air di Bali telah mengalami kekeringan. Fakta tersebut menunjukkan bahwa Bali sedang mengalami masalah serius yang jika hal ini tidak ditangani dengan baik maka Bali akan terancam mengering.

Shiva dalam Water Wars (2002) menjelaskan bahwa penghancuran terhadap sumber daya air dan hutan juga termasuk ciri terorisme. Makam jika hal tersebut dikaitkan pada masalah pembangunan di Bali yang tak mengindahkan dampak ekologis, maka segala aspek akan saling berkelindan—mulai dari masalah kesehatan, sosial dan ekonomi yang bergantung dari keberlangsungan sumber airnya.

Dalam bukunya Water Wars: Privatization, Pollution and Profit (2002), Shiva menjelaskan bagiamana kondisi kepemilikan air di India berdampak pada masyarakat yang akhirnya tidak memiiki akses terhadap air. Menurutnya, air sudah secara tradisional diperlakukan sebagai natural right—maksudnya adalah sebuah hak yang lahir alamaiah dan disesuaikan dengan sifat manusia, kondisi sejarah, kebutuhan dasar, dan gagasan tentang keadilan.

Oleh karena itu, hak air sebagai hak natural atau alamiahnya tidak berasal dari negara melainkan ia berkembang melalui konteks ekologis tertentu dari keberadaan manusia. Sebagai hak alamiah, hak atas air adalah hak guna; itu berarti air dapat digunakan tetapi tidak dapat dimiliki atau dipantenkan melalui privatisasi atau pembangunan yang menghambat akses air secara universal.

Meski apa yang dialami India sedikit berbeda, tetapi benang merahnya terdapat pada bagaimana manajemen air dapat menyejahterakan masyarakatnya. Di Bali sendiri, salah satu penyebab terjadinya krisis air adalah maraknya pembangunan hotel yang kemudian menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan dan distribusi air yang lebih banyak pada hotel-hotel (terlebih hotel berbintang) tersebut. Ini mencerminkan hal yang paradoks—bagaimana pembangunan dianggap kemewahan utamanya di bidang pariwasata. Sementara pembangunan perlahan-lahan membuat kita mengalami bunuh diri di rumah sendiri.

Untuk itu, Shiva dalam Water Wars: Privatization, Pollution and Profit (2002) memaparkan sembilan prinsip yang mendasari demokrasi dari air:

1. Water is nature’s gift: artinya kita menerima air melalui alam, oleh karenanya kita “berutang” pada alam atas dasar kebutuhan kita mendatang—maka tugas kita adalah membiarkannya tetap bersih dan memastikan bahwa kuantitasnya tetap terjaga. Sementara itu, hal-hal yang membuat aliran air gersang atau tergenang sebenarnya telah melanggar prinsip ekologi yang demokratis.

2. Water is essential to life: Shiva (2002) juga menjelaskan bahwa air adalah sumber dari segala kehidupan bagi spesies di bumi. Maka, semua spesies memiliki hak untuk berbagi air di planet ini. Hal tersebut berarti hak air yang mengalir harus dipastikan agar segala spesies mendapat akses atas air.

3. Life is interconnected through water: prinsip ini menegaskan bahwa air menghubungkan berbagai spesies melalui siklusnya, oleh sebab itu sudah menjadi tanggung jawab moral bagi kita untuk tidak melakukan hal yang membahayakan spesies lainnya.

4. Water must be free for sustenance needs: ini berarti air seharusnya tidak diprivatisasi atau memiiki keuntungan hanya untuk satu pihak dan mengabaikan kebutuhan masyarakat yang rentan.

5. Water is limited and can be exhausted: prinsip ini harus dipegang sebab air juga memiliki limitnya jika tidak digunakan secara (sustainable) berkelanjutan.

6. Water must be conserved: semua orang memiliki tugas untuk menjaga air dan menggunakan air secara berkelanjutan. Prinsip ini kemudian berkorelasi dengan apa yang terjadi di Bali, berbagai lini harusnya menjaga dan melindungi air demi keberlangsungan hidup kita ke depannya.

7. Water is a commons: air bukanlah penemuan manusia, maka ia tidak berhak “dimiliki’ atau dijual sebagai properti.

8. No one holds a right to destroy: Tidak ada yang berhak untuk menggunakan, menyalahgunakan, membuang, atau mencemari sistem air secara berlebihan—sebab itu melanggar prinsip penggunaan yang adil dan berkelanjutan.

9. Water cannot be substituted: air tidak dapat diganti dengan sumber daya lain maka ia tidak selayaknya dijadikan komoditi atau kepentingan lain atas nama pembangunan yang memantik timbulnya krisis air.

Pengalaman India sebagai negara dunia ketiga yang juga mengalami maraknya pembangunan patut kita pelajari. Sebagai negara yang kaya akan sumber daya alamnya, sudah sepatutnya kita memanfaatkan air secara ramah lingkungan. Lalu, selain menumbuhkan perhatian pada isu air di Bali–apa yang dapat kita lakukan?

Mengutip Mongabay (2015) ada dua hal yang dapat dilakukan—pertama, menciptakan teknologi salinasi air tercampur air laut, kedua, membuat sumur penangkapan air hujan yang sudah mulai dilakukan oleh beberapa NGO di Bali. Selain mengandalkan dua alternatif tersebut, kita selaku masyarakat Bali juga harus tetap mendorong dan mengawasi regulasi pengontrolan kebutuhan air di Bali. [b]

kampungbet
Tags: AirLingkungan
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Sayu Pawitri

Sayu Pawitri

Menulis sehari-hari.

Related Posts

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

3 May 2026
Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

1 May 2026
IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

29 April 2026
Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

22 April 2026
Compost Bag Dipilih sebagai Solusi Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga

Pemkot Denpasar Rencanakan Distribusi 176 Ribu Compost Bag pada 2026

19 April 2026
Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

7 April 2026
Next Post
Suka Duka Penanggulangan HIV di Bali Selama Pandemi

Tantangan Penanggulangan HIV/AIDS dan Kondisi ODHA di Bali Selama Pandemi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Diskusi Kolonialisme di Nobar Film Pesta Babi

Diskusi Kolonialisme di Nobar Film Pesta Babi

7 May 2026
Angkat Topi Buat Wanita, Khususnya Wanita Bali

Orang Bali jadi Objek Perencanaan Pariwisata

6 May 2026
Susur Hutan dan Sungai Bersama BASE Bali

Menutup Program Studi, Menutup Masalah?

6 May 2026
Pelanggaran Kebebasan Berpendapat terus Terjadi di Bali, mulai dari Larangan saat Konferensi Internasional, Aksi, dan Penangkapan Tomy

Surat Cinta Negeri dari Jeruji Besi

5 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia