“Kita bukan di atasnya alam tapi kita adalah bagian dari alam itu sendiri. Senada sama tema UWRF tahun ini yaitu Aham Brahmasmi itu. I’m the Universe gitu kan. Saya adalah semesta, bukan dalam artian saya adalah Yahudi, saya adalah Tuhan, bukan. Tapi saya adalah bagian dari kosmos,” ujar Asief Abdi.
Pada Kamis, 30 Oktober 2025, telah berlangsung kuliah umum oleh Ikatan Alumni Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa (Ikagawa UHN IGB Sugriwa), bertempat di Aula Pascasarjana UHN IGB Sugriwa. Kuliah umum tersebut merupakan Fridge Event dari Ubud Writers and Readers Festival 2025 (serangkaian acara khusus yang bertujuan untuk menampilkan seniman baru, yang sering diadakan bersamaan dengan festival resmi yang lebih besar). Acara tersebut dipandu oleh I Made Adi Surya Pratama, seorang akademisi, peneliti dan pengusaha yang berkomitmen pada pelestarian serta pengembangan nilai-nilai kearifan lokal Bali khususnya dalam bidang Usada Bali/ pengobatan tradisional.
Menghadirkan narasumber Asief Abdi, kuliah umum tersebut bertema “Hikayat Mitobotani: menggabungkan mitos, memori, dan botani” merupakan catatan perjalanan puitis penulis yang terbentuk dari perjumpaan langsung dengan tanaman, termasuk pohon, akar, dan mitologi hidup yang berakar dalam kehidupan sehari-hari. Asief Abdi merupakan seorang penulis sekaligus pengajar yang aktif menulis esai di berbagai media, baik cetak maupun digital, dengan perhatian utama pada tema lingkungan. Salah satu karyanya terpilih dalam ajang Gebyar Literasi 2024 yang diadakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur. Kini, ia berkegiatan sebagai pengajar, naturalis, serta editor di Sivitas Kothèka.
Hikayat Mitobotani menjadi buku perdananya, yang mengeksplorasi keterhubungan manusia dan alam melalui kisah-kisah mitos lokal. Ia menjelaskan bahwa Hikayat Mitobotani merupakan kumpulan esai yang berisi catatan perjalanannya selama periode 2020 hingga 2024. Sebelumnya, catatan-catatan tersebut hanya tersimpan di buku pribadinya atau sesekali dibagikan di media sosial seperti WhatsApp dan Instagram. Namun, pada awal tahun 2025, ia menyebut terjadi sebuah “keajaiban” ketika penerbit Partikular di Denpasar tertarik pada naskah-naskahnya dan memutuskan untuk menerbitkan kumpulan esai tersebut. “Jadi ada ada sebuah penerbit di Denpasar yang tertarik dengan naskah-naskah saya, akhirnya mereka mau menerbitkan kumpulan esai ini” ujar Asief.

Mitobotani merupakan istilah yang ia ciptakan sendiri, berasal dari penggabungan kata mitos dan botani, yang berarti hubungan antara manusia dan alam yang tercermin melalui mitos. Menurutnya, pada masa kini mitos sering dipandang sebagai bentuk cara pikir yang dianggap inferior (rendah, terbelakang/tidak berharga). Ia menilai bahwa mitos kerap direduksi menjadi kisah horor, sebagaimana terlihat dalam film-film horor lokal yang cenderung mengaitkan tradisi seperti tari-tarian atau ritual tertentu dengan arwah gentayangan.
Padahal, menurutnya mitos tidaklah sesederhana itu. Ia kemudian menambahkan bahwa jika ditelusuri lebih jauh ke masa lampau, mitos sebenarnya merupakan cara paling awal manusia memahami realitas. Namun, sejak manusia mulai memuja logos/rasionalitas dan pengetahuan ilmiah terutama setelah bangsa Eropa menyebarkannya sejak Abad Pertengahan, dunia perlahan menjadi “terang-benderang”, meninggalkan mitos yang dianggap gelap dan misterius di belakang. “Nah, padahal saya pikir mitos ini terbentuk dari persinggungan antara manusia dengan lingkungannya. Begitu. Nah, jadi mitos ini dia punya pesan mendalam yang kadang bukan kadang ya, yang seringkali tidak bisa dipahami oleh masyarakat modern seperti itu,” tutur Asief.
Melalui tulisannya, ia berusaha melestarikan cerita-cerita tersebut sekaligus memberi tafsir baru agar mitos-mitos itu tetap relevan di dunia modern. Karena itu, ia mencoba menggabungkan pendekatan sains dan psikologi analitik untuk memahami kembali mitos, tanpa meninggalkan nilai spiritual yang dikandungnya. Dengan meninggalkan cara pandang antroposentris, manusia dapat belajar menghargai tanah, gunung, pepohonan, dan makhluk hidup lain, sehingga bumi tidak semakin rusak di tengah ancaman krisis iklim. “Dan saya pikir tradisi-tradisi lokal ini jika kita bisa memahami itu bisa kita gunakan sebagai strategi konservasi,” imbuhnya.
Musibah banjir yang melanda Bali baru-baru inipun turut menjadi sorotan peserta dan narasumber. Menurutnya, peristiwa tersebut seharusnya menjadi bahan refleksi bagi masyarakat Bali untuk memperbaiki sistem drainase serta memperbanyak kawasan hijau sebagai upaya pencegahan di masa mendatang. Namun, ia menegaskan bahwa hal yang paling penting adalah memperkenalkan lingkungan kepada generasi muda agar mereka dapat menumbuhkan empati terhadap alam. Ia menyarankan agar anak-anak diajak berinteraksi langsung dengan alam, misalnya dengan mengenali berbagai jenis pohon dan serangga di sekitar mereka. Menurutnya, dari pengalaman langsung seperti itulah rasa peduli terhadap lingkungan bisa tumbuh.
Melalui bukunya, Asief berupaya merekam kembali cerita-cerita lokal sekaligus memberikan tafsir baru agar kisah-kisah tersebut dapat terus bertahan. Ia menambahkan bahwa sebenarnya banyak informasi serupa telah tersedia dalam jurnal-jurnal akademik. Namun, menurutnya, jurnal ilmiah biasanya hanya beredar di lingkungan universitas dan komunitas akademik, sehingga tidak menjangkau masyarakat luas. Karena itulah, ia berusaha membumikan hasil-hasil temuan tersebut dengan menggunakan bahasa yang lebih ringan, komunikatif, dan mudah dipahami oleh pembaca umum. Dengan cara ini, ia berharap gagasan dan pengetahuan yang sebelumnya terbatas di ruang akademik dapat hidup dan bermanfaat di tengah masyarakat.




