• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, January 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Filosofi Kehidupan pada Sebatang Taru

Gayatri Mantra by Gayatri Mantra
26 February 2013
in Berita Utama, Budaya, Kabar Baru
0
3
Di antara manusia dan binatang hanya taru yang tidak lari dari penderitaan hidup. Foto ilustrasi Anton Muhajir.
Di antara manusia dan binatang hanya taru yang tidak lari dari penderitaan hidup. Foto ilustrasi Anton Muhajir.

Ini kisah nyata. Di SD 6 dan SD 4 Pemecutan Denpasar, Jalan Setiabudi hidup sepasang beringin ancak, jantan dan betina.

Pasangan in hidup berjejer di tengah halaman sekolah yang menjadi batas kedua sekolah itu. Sekian generasi masyarakat desa bersekolah di tempat itu dan bermain di bawah naungan pohon rindang. Gelap namun nyaman. Anak-anak SD bermain riang seperti diselimuti kasih sepasang pohon tua.

Kepala sekolah dan orang tua anak-anak mengingatkan pohon itu angker, tenget. Makanya anak-anak tidak boleh bicara bohong dan berkata-kata kotor dan kasar di sekolah. Ketika kecil, anak-anak desa percaya. Setelah dewasa, mereka memahami cerita dibuat untuk memelihara kehidupan sepasang pohon itu dan mengajarkan etika lingkungan bagi diri mereka.

Suatu ketika kepala sekolah baru datang. Terganggu dengan gelap dan dedaunan kering sepasang pohon beringin ancak. Katanya, itu kotor! Maka ditebanglah sebatang pohon angker agar pembetonan halaman tempat upacara bendera terlaksana. Halaman menjadi terang dan bersih, pikirnya. Sebatang pohon ditebang rebah. Sebatang pohon beringin ancak yang masih tersisa nelangsa. Tak kuat menahan kesepian dan kesendirian, akhirnya rebah mencium tanah. Mati!

Penduduk desa yang pernah bersekolah, beranak cucu terkejut. Kehilangan rindang, kehilangan kenangan. Sang kepala sekolah membuat upacara permohonan maaf pada jasad sepasang pohon itu dan masyarakat yang resah, ngaturang guru piduka. Orang semacam itu sudah pantas menerima pastu kutuk Sang Taru juga betara embang.

Kepala sekolah idiot tak mampu mengembalikan usia, kehidupan, cerita, kenangan masa kanak-kanak yang tumbuh di antara kedua kaki sepasang pohon beringin ancak itu. Sekolah itu kini begitu terang namun terasa garing. Semenjak saat itu, anak-anak SD di sana tak pernah lagi merasakan menjejakkan kakinya di dingin tanah dan lekukan akar pohon. Karena semuanya telah dibeton sang kepala sekolah berotak beton.

Pohon ancak itu hanyalah satu contoh kekejaman manusia dengan melakukan tindakan pembunuhan berencana. Tak punya rasa pri pertaruan. Banyak tindakan manusia yang tanpa disadarinya telah merenggut kehidupan Sang Taru. Para perokok membuang puntung rokok di setiap pot-pot bunga, dan rerumputan. Asbak besar, katanya! Tumbuhan di pot keracunan hingga daunnya menguning, who cares?

Parasit
Filosofi hidup tetumbuhan sangat menarik jika direnungkan. Di antara manusia dan binatang hanya taru yang tidak lari dari penderitaan hidup. Ketika akarnya mulai tertancap di dalam tanah, bergelut di antara bebatuan, menumpang nasib pada karib lain sebagai parasit, detik itu juga tetumbuhan menghadapi hidup dan kehidupannya. Pasrah dan berserah pada suratan alam. Hingga saat ini belum ada bukti tetumbuhan bunuh diri tak kuat menghadapi hidup, seperti yang dilakukan paus raksasa atau manusia pengecut. Berani mati tak berani hidup. Tetumbuhan tertancap sembari tetap menjalankan dharmanya. Ia memberi hidup bagi dirinya dan hidup dan kehidupan lain. Sang Taru juga guru yang berjasa.

Tidak sedikit kiasan bermanfaat bagi pengetahuan manusia yang diambil dari cara hidup sang Taru. Seperti padi, makin berisi makin merunduk diperuntukkan bagi mereka yang tengah mencapai puncak kejayaan agar tetap eling dan rendah hati. Buah kedondong, luarnya licin dalamnya nyelekit, untuk manusia penjilat. Dalam Bahasa Bali, misalnya: Mekayu di natah, lelor (pohon kelor) yang diperuntukkan kepada seseorang yang tengah jatuh cinta. Aengan ken kepasilan yang artinya bahagia di atas penderitaan orang lain. I Babakan pule, orang yang menyerahkan dirinya untuk membantu orang lain dan sebagainya.

Asal jangan meniru pohon kayu cendana. Ia bertumbuh menjadi parasit, menghisap saripati kehidupan tetumbuhan yang lain. Maka jangan heran jika mereka yang tinggal di Jalan Cendana kerap dituding seperti Cendana, wangi menjadi pujaan namun menghisap kehidupan.

Taru Pramana adalah energi hidup. Taru menjadi menarik diulas karena eksistensinya mulai terabaikan. Ada indikasi manusia menganggap tetumbuhan tak lebih dari sekadar onggokan batang kayu mati, tak beda dengan sebongkah batu. Bisa dilihat sepanjang jalan di kota Denpasar. Trotoarisasi yang diikuti penghijauan dilakukan para sarjana intelektual berotak udang bisa jadi contoh. Mereka pikir, tunas pohon hanya tumbuh selutut.

Saat tetumbuhan tumbuh membesar, akarpun mulai membentang. Mengoyak trotoar semen berwarna merah. Trotoar bolong jebol, got mampet sana-sini. Padahal kuasa rerumputan menjaga aliran got, aliran air persawahan (subak) telah bertahan ratusan tahun. Murah meriah, praktis.

Manusia tampaknya mulai lebih dungu dari keledai. Sudah tahu pohon makin besar, tetap saja keras kepala membeton sang Taru. Trotoarisasi dan penghijauan jadi proyek sekumpulan manusia bebal. Bikin lagi, jebol lagi. Ujung-ujungnya ya duit. Penting proyek jalan terus.

Hakikat tumbuh tetumbuhan. Menjatuhkan dedaunan dari tubuhnya untuk makanan sehari-hari. Begitu terus mendaur hingga bertumbuh. Mereka saling bercakap dengan tetumbuhan lainnya lewat bisikan angin. Entah untuk sekedar bergosip atau bercinta. Angin senantiasa menjadi perantara kisah cinta tetumbuhan jantan dan betina. Menjadi saksi persetubuhan putik dan serbuk sari. Kupu-kupu dan serangga bagaikan comblang atau biro jodoh yang bergerak centil dan lincah. Tetumbuhan bisa patah hati dan mati meranggas.

Ngawur
Betonisasi juga telah merambah situs spiritual di pura-pura. Pura dalam hegemoni beton atas tanah. Demi konsepsi kebersihan yang ngawur, demi kenyaman para pemedek, umat yang kian manja. Komunitas tetumbuhan di pura-pura resah. Mereka tak lagi bisa makan dan minum. Dedaunan kering yang mereka jatuhkan untuk persediaan makanan sehari-hari, juga minuman dari tetes embun pagi dan hujan musiman tak lagi bisa mereka nikmati.

Para pemangku menyapu dedaunan kering hidangan utama Sang Taru. Para pangempon, pengurus pura, membeton tanah areal pura. Tetumbuhan hidup dengan tidak wajar karena permukaan tanah dilapisi beton. Lantas dari mana mereka harus mendapatkan sumber makanan dan minuman? Maka dapat diprediksi dalam waktu singkat pohon-pohon besar dan angker di pura-pura akan rebah, mati resah tak dapat makan dan minum. Dan umat hanya peduli mencakupkan tangan sembari berdoa agar arwah yang bersemayam di pohon mendapat tempat yang nyaman.

Andaikan arwah itu bisa bicara, tentu dia akan protes dengan betonisasi di atas jasad mereka. Sang arwah terlanjur jengkel, bungkam sembari membuat salah seorang penjaga pura kerawuhan. Kesurupan, rasain!

Ini masih lebih baik nasibnya dengan pohon palem di sepanjang Jalan Sudirman. Berpuluh-puluh paku tertancap, melubangi dan melukai mereka. Hanya untuk bertenggernya sepanduk iklan yang tak seberapa estetik. Manusia tak peduli betapa perih dan pedihnya hidup dengan luka yang semakin parah menjadi rumah serangga pengerat tubuh mereka.

Bagi para pebisnis advetorial, batang pohon itu tak beda dengan tiang listrik kali ya? Mereka tak peduli suatu ketika pohon itu rebah karena sakit menimpa manusia, mengambil jiwa orang. Padahal pohon yang hidup dengan wajar, mati tua dengan tanda dan penanda yang bisa dimengerti secara universal.

Pastilah orang akan berpikir O.. pohon itu sudah renta dan sakit, sebentar lagi akan mati, maka mari kita berjaga-jaga.

Kuburan
Suatu ketika seseorang berinteraktif di radio menyalahkan pohon sebagai penyebab penyakit sanak saudaranya. Menyalahkan si pohon mangga yang tumbuh di tengah halaman. Menyalahkan si kembang jepun yang sekarang menjadi tren, mestinya tumbuh di kuburan. Begitu menurutnya.

Oh, my god. Aduh ratu betara.

Sebaiknya orang itu menyalahkan si empunya pohon. Mungkin salah menempatkan pohon itu, tidak merawatnya. Sudah tahu tinggal di BTN tipe rumah dara, kalau menanam beringin raksasa, ya pastilah menjebol rumah tetangga. Pohon hanya tahu hidup dan tertancap seperti paku. Kalau dia bisa pindah, mungkin pepohonan itu akan memilih hidup di hotel saja. Ada gardener yang merawatnya.

Kasus ini memang sederhana, tapi ini menunjukkan fakta kesadaran manusia tentang hakikat tumbuh tetumbuhan bertumbuh memang minim.

Jelas. Taru energi hidup dan kehidupan. Tetumbuhan kerja menghisapkan racun yang mengambang dipermukaan karena karbon dioksida dan gas freon. Taru menjaga pertiwi dan sumber air lewat akar-akar serabutnya. Kerja Sang Taru begitu berat tanpa kontribusi yang sepantasnya dari manusia. Tiru taru untuk bertumbuh. Menjadi mandiri, menghidupi diri dan menjaga kehidupan.

Taru memberi rindang, rasa aman dan keseimbangan hidup. Taru memberikan berkah kehidupan, meningkatkan roda perekonomian masyarakat, obat tubuh dan jiwa. Tubuh tetumbuhan tumbuh memberikan hidup bagi masyarakat. Begitu besar jasa Sang Taru dalam kehidupan ini, tidakkah sudah sepantasnya mereka mendapatkan kesempatan hidup dengan aman dan wajar? Tanpa betonisasi dan illegal logging, semisal?

Biarkan mereka tumbuh di dalam rumah mereka dengan damai, yang kita sebut hutan. Biarkan mereka menjaga dan manafkahi satwa liar dengan tubuh mereka. Menjadi penjaga hidup dan kehidupan.

Menebangnya tanpa nurani menumbangkan pilar kesimbangan hidup semesta ini. Taru pramana, energi hidup dan kehidupan mesti ditata dan dijaga. Om taru pramana Om, semoga segala energi hidup dan kehidupan menyemangati dunia dan semesta. [b]

Tags: BaliBudayaLingkungan
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Gayatri Mantra

Gayatri Mantra

Dayu Gayatri, mahasiswa S3 Kajian Budaya Universitas Udayana. Selain itu, Gayatri juga penulis cerpen dan pekerja sosial (sukarelawan) untuk penyandang cacat, lansia dan perempuan dan anak-anak. Pekerja sosial ini pernah mengikuti pelatihan jurnalistik tingkat dasar di Universitas Udayana 16 tahun lalu. Pada tahun 1998, dia mengikuti pelatihan Pengembangan Informasi, Edukasi dan Komunikasi (IEC) di Melbourne Australia. Kini dia aktif menulis untuk terus memperbaharui pengetahuan saya tentang ilmu jurnalistik. "Saya berkeyakinan bahwa ilmu jurnalistik yang akan saya pelajari dapat saya distribusikan dengan kelompok-kelompok yang saya dampingi, seperti kawan-kawan penyandang cacat dan beberapa tahanan di lapas Kerobokan," katanya. Mau tahu cerita-ceritanya, bisa klik http://dayugayatri.wordpress.com/

Related Posts

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

30 December 2025
Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan

Terasering Subak sebagai Mitigasi Banjir Berbasis Lanskap

22 December 2025
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Next Post
Denpasar, Pada Mulanya Sebuah Taman

Denpasar, Pada Mulanya Sebuah Taman

Comments 3

  1. lodegen says:
    13 years ago

    terharu dan narasinya kerennn

    Reply
  2. Komang Dewi says:
    13 years ago

    Merinding setelah membacanya,,,,,Krn dlm kenyataannya sering kali qta sbg manusia menghapus kenangan yg harusnya bisa qta wariskan buat keturunan qta,,,Namun hanya mewariskna sifat konsumeristik,,,

    Reply
  3. simon says:
    12 years ago

    betul sekali hanya mewariskan sifat konsumemeristik………….

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

10 January 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Keresahan dalam Selimut Rust en Orde

9 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia